Version 2 of 6

Bab 11: Surat As-Sajdah: Sujud, Keimanan, dan Malam yang Menghidupkan Hati

Generated Aksbel book section. · Working · Jul 17, 2026 05:03 · saved by @mujirin

Bab 11: Surat As-Sajdah: Sujud, Keimanan, dan Malam yang Menghidupkan Hati

Pada Bab 10 kita telah merenungkan Surat Al-Kahfi: surat yang mengajarkan keteguhan iman di tengah fitnah dunia. Sekarang kita memasuki Surat As-Sajdah, sebuah surat yang lebih pendek, tetapi sangat kuat dalam mengingatkan manusia tentang asal-usulnya, perjalanan hidupnya, dan tempat kembalinya.

Surat As-Sajdah adalah surat ke-32 dalam Al-Qur’an. Nama As-Sajdah berarti “sujud”. Sujud adalah keadaan seorang hamba merendahkan diri di hadapan Allah. Dalam sujud, kepala yang biasanya menjadi lambang kemuliaan manusia diletakkan ke tempat yang paling rendah. Maknanya sangat dalam: manusia mengakui bahwa ia lemah, sedangkan Allah Mahatinggi; manusia membutuhkan, sedangkan Allah Mahakaya; manusia akan kembali, sedangkan Allah kekal selama-lamanya.

Bagi pembaca lanjut usia, Surat As-Sajdah sangat cocok direnungkan dengan hati yang tenang. Surat ini mengajak kita melihat tiga hal besar:

  1. Allah menciptakan dan mengatur seluruh alam.
  2. Manusia akan dibangkitkan setelah mati.
  3. Orang beriman memiliki tanda-tanda khusus: tunduk, berdoa, takut, berharap, dan beramal.

Surat ini bukan sekadar bacaan. Ia adalah pengingat lembut bahwa hidup kita ada dalam genggaman Allah sejak awal sampai akhir.

Mengapa Surat Ini Dinamai As-Sajdah?

Di dalam surat ini terdapat ayat yang menggambarkan sikap orang-orang beriman ketika mendengar ayat Allah:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya, mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, dan mereka tidak menyombongkan diri.”
(QS As-Sajdah 32:15; Kementerian Agama RI, 2019)

Ayat ini menyebut tiga sikap mulia:

  • sujud, yaitu tunduk kepada Allah;
  • tasbih dan tahmid, yaitu menyucikan Allah dan memuji-Nya;
  • tidak sombong, yaitu tidak merasa diri paling kuat atau paling benar di hadapan Allah.

Ini penting sekali bagi usia lanjut. Kadang-kadang seseorang yang sudah panjang umur merasa banyak pengalaman. Itu nikmat. Tetapi pengalaman tidak boleh membuat hati keras. Semakin tua usia, seharusnya semakin mudah hati untuk sujud, menangis, bersyukur, dan meminta ampun.

Contohnya sederhana. Ketika membaca ayat tentang kematian, hati tidak berkata, “Saya sudah tahu.” Tetapi hati berkata, “Ya Allah, lembutkan hatiku. Jangan biarkan aku lalai.” Itulah buah dari Surat As-Sajdah.

Allah Pencipta dan Pengatur Seluruh Alam

Surat As-Sajdah membuka pandangan kita kepada kebesaran Allah. Allah menyebut bahwa Dia menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, kemudian mengatur urusan makhluk-Nya (QS As-Sajdah 32:4–5; Kementerian Agama RI, 2019).

Dalam bahasa iman, ini mengajarkan tauhid rububiyyah. Maksudnya: keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemilik, Pengatur, dan Pemelihara seluruh alam.

Istilah ini mungkin terdengar berat, tetapi maknanya dekat dengan kehidupan kita. Ketika seorang lansia melihat matahari terbit, napas masih berjalan, anak-cucu masih diberi rezeki, dan tubuh masih bisa bergerak walau pelan, semua itu terjadi karena Allah mengatur kehidupan.

Maka orang yang membaca As-Sajdah belajar berkata dalam hatinya:

“Ya Allah, hidupku tidak berjalan sendiri. Engkau yang menciptakanku, Engkau yang menjagaku, dan kepada-Mu aku kembali.”

Inilah ketenangan tauhid. Orang yang yakin Allah mengatur segala sesuatu tidak berarti tidak pernah sedih. Tetapi kesedihannya tidak membuat ia putus asa, karena ia tahu bahwa hidupnya berada dalam pengaturan Allah Yang Maha Bijaksana.

Dari Tanah, Lalu Menjadi Manusia yang Diberi Ruh

Surat As-Sajdah juga mengingatkan asal penciptaan manusia. Allah menyebut penciptaan manusia dari tanah, kemudian keturunannya dari saripati air yang hina, lalu Allah menyempurnakan bentuknya dan meniupkan ruh kepadanya. Allah juga memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati (QS As-Sajdah 32:7–9; Kementerian Agama RI, 2019).

Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Manusia tidak pantas sombong. Dahulu ia tidak ada. Lalu Allah menciptakannya. Dahulu ia tidak mampu mendengar, melihat, memahami, atau berbicara. Lalu Allah memberinya pendengaran, penglihatan, dan hati.

Hati dalam bahasa Al-Qur’an bukan sekadar organ tubuh. Hati juga menunjuk kepada pusat kesadaran, iman, niat, rasa takut kepada Allah, cinta, dan pemahaman batin. Karena itu, ketika Al-Qur’an berbicara tentang hati, ia mengajak manusia memperbaiki bagian terdalam dari dirinya.

Untuk pembaca lansia, ayat ini bisa menjadi latihan syukur harian. Misalnya setelah salat Subuh, duduk sebentar lalu berkata:

  • “Ya Allah, terima kasih atas pendengaranku.”
  • “Ya Allah, terima kasih atas penglihatanku.”
  • “Ya Allah, terima kasih atas hatiku yang masih Engkau gerakkan untuk mengingat-Mu.”
  • “Ya Allah, jadikan sisa umurku untuk taat kepada-Mu.”

Syukur seperti ini sederhana, tetapi sangat menenangkan.

Kebangkitan Setelah Kematian

Salah satu pesan besar Surat As-Sajdah adalah kebangkitan. Kebangkitan berarti Allah akan menghidupkan kembali manusia setelah mati untuk dihisab dan diberi balasan. Dalam surat ini, Allah menyebut keheranan orang-orang yang mengingkari kebangkitan. Mereka bertanya bagaimana mungkin setelah menjadi tanah, manusia akan diciptakan kembali. Allah menjawab bahwa malaikat maut akan mencabut nyawa mereka, kemudian mereka akan dikembalikan kepada Tuhan mereka (QS As-Sajdah 32:10–11; Kementerian Agama RI, 2019).

Bagi orang beriman, pembicaraan tentang kematian bukan untuk menakut-nakuti secara berlebihan. Kematian adalah pintu perpindahan menuju kehidupan akhirat. Yang perlu disiapkan adalah iman, amal saleh, taubat, dan harapan kepada rahmat Allah.

Surat As-Sajdah mengajarkan agar kita tidak lupa bahwa hidup ini akan dipertanggungjawabkan. Tetapi surat ini juga membuka jalan harapan: selama masih diberi umur, kita masih bisa kembali kepada Allah.

Contohnya:

  • jika dahulu kurang menjaga salat, sekarang mulai diperbaiki;
  • jika dahulu jarang membaca Al-Qur’an, sekarang mulai dibaca sedikit demi sedikit;
  • jika dahulu mudah marah kepada keluarga, sekarang belajar memaafkan;
  • jika dahulu banyak lalai, sekarang memperbanyak istigfar.

Kebangkitan membuat hidup menjadi serius, tetapi bukan suram. Ia membuat setiap amal kecil menjadi bernilai.

Sifat Orang Beriman dalam Surat As-Sajdah

Surat As-Sajdah menggambarkan orang beriman dengan sangat indah. Setelah menyebut bahwa mereka bersujud dan tidak sombong, Allah berfirman:

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya; mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
(QS As-Sajdah 32:16; Kementerian Agama RI, 2019)

Ayat ini mengandung tiga bekal besar.

Pertama, mereka mau meninggalkan kenyamanan untuk mengingat Allah. “Lambung jauh dari tempat tidur” menggambarkan orang yang bangun malam untuk berdoa, salat, atau berdzikir. Bagi lansia, ini tidak harus dipahami sebagai memaksa diri sampai sakit. Jika mampu bangun malam, lakukan semampunya. Jika tidak kuat, berdoalah sebelum tidur atau ketika terbangun sebentar di malam hari.

Contohnya, seseorang yang mudah terbangun pukul dua atau tiga malam tidak perlu gelisah. Ia bisa duduk, membaca istigfar, membaca Al-Fatihah, atau berdoa:

“Ya Allah, ampuni aku, rahmati aku, dan wafatkan aku dalam iman.”

Kedua, mereka berdoa dengan rasa takut dan harap. Rasa takut berarti sadar bahwa dosa itu berbahaya dan azab Allah itu benar. Rasa harap berarti yakin bahwa rahmat Allah luas dan ampunan-Nya sangat besar. Seorang muslim tidak hanya takut sampai putus asa, dan tidak hanya berharap sampai meremehkan dosa. Keduanya harus seimbang.

Ketiga, mereka berinfak dari rezeki yang Allah berikan. Infak tidak selalu besar. Untuk lansia, infak bisa berupa uang sesuai kemampuan, makanan untuk tetangga, mushaf untuk masjid, atau membantu cucu belajar agama. Bahkan nasihat lembut yang mengajak keluarga salat juga termasuk kebaikan yang sangat bernilai.

Malam yang Menghidupkan Hati

Mengapa bab ini menyebut “malam yang menghidupkan hati”? Karena Surat As-Sajdah menggambarkan orang beriman yang hatinya hidup di hadapan Allah, terutama ketika suasana sunyi dan manusia lain sedang tidur.

Malam sering membawa dua kemungkinan. Bagi hati yang lalai, malam bisa menjadi waktu gelisah, melamun, atau mengingat hal-hal yang menyedihkan. Tetapi bagi hati yang dekat kepada Allah, malam bisa menjadi waktu yang lembut untuk berdoa.

Bapak dan Ibu yang sudah lanjut usia mungkin tidak selalu kuat berdiri lama. Islam tidak membebani di luar kemampuan. Yang penting adalah menghadapkan hati kepada Allah.

Beberapa contoh amalan malam yang ringan:

  • membaca Al-Fatihah dengan pelan;
  • membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas;
  • membaca beberapa ayat As-Sajdah jika mampu;
  • beristigfar 10 atau 30 kali;
  • berdoa untuk husnul khatimah;
  • mendoakan anak, cucu, pasangan, orang tua, dan kaum muslimin.

Hati yang hidup bukanlah hati yang selalu kuat. Hati yang hidup adalah hati yang masih mau kembali kepada Allah.

Nabi Membaca As-Sajdah pada Salat Subuh Hari Jumat

Ada satu riwayat yang sangat penting dan kuat tentang Surat As-Sajdah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada salat Subuh hari Jumat: “Alif Lam Mim Tanzil”, yaitu Surat As-Sajdah, pada rakaat pertama, dan “Hal ata ‘alal insan”, yaitu Surat Al-Insan, pada rakaat kedua (HR. al-Bukhari, no. 891; Muslim, no. 879).

Ini adalah dalil yang sahih dan diterima luas. Artinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memang pernah dan biasa membaca Surat As-Sajdah bersama Surat Al-Insan dalam salat Subuh hari Jumat.

Namun, perlu dipahami dengan hati-hati. Riwayat ini menunjukkan sunnah Nabi dalam bacaan salat Subuh Jumat. Ia tidak berarti setiap orang wajib membaca As-Sajdah sendiri setiap Jumat, apalagi jika tidak mampu. Bagi imam yang hafal dan jamaah mampu mengikuti, ini adalah sunnah yang baik. Bagi orang awam atau lansia yang belum hafal, cukup mendengarkan imam dengan khusyuk atau membaca sesuai kemampuan ketika salat sendiri.

Kita belajar satu prinsip penting: fadhilah yang kuat adalah fadhilah yang berdiri di atas dalil yang kuat. Dalam hal Surat As-Sajdah, dalil paling jelas dan sahih adalah pembacaan Nabi pada salat Subuh hari Jumat bersama Surat Al-Insan.

Mengapa Dipasangkan dengan Surat Al-Insan?

Dalam salat Subuh Jumat, Nabi membaca As-Sajdah pada rakaat pertama dan Al-Insan pada rakaat kedua. Dua surat ini memiliki hubungan makna yang indah.

Surat As-Sajdah mengingatkan:

  • penciptaan manusia,
  • kebangkitan setelah mati,
  • keadaan orang beriman,
  • keadaan orang durhaka,
  • dan balasan akhirat.

Surat Al-Insan juga mengingatkan:

  • penciptaan manusia,
  • ujian hidup,
  • sifat orang-orang saleh,
  • nikmat surga,
  • dan peringatan agar manusia memilih jalan menuju Tuhannya.

Dengan mendengar dua surat ini pada Subuh Jumat, seorang muslim diingatkan sejak pagi: hidup ini berasal dari Allah, berjalan karena ujian Allah, dan akan kembali kepada Allah.

Bagi lansia, makna ini sangat menyentuh. Jumat adalah hari mulia. Subuh adalah awal hari. Bacaan As-Sajdah dan Al-Insan mengajarkan agar hari dimulai dengan kesadaran akhirat.

Hati-Hati terhadap Klaim Fadhilah yang Tidak Jelas

Sebagian orang mungkin pernah mendengar berbagai klaim tentang Surat As-Sajdah, misalnya pahala tertentu dengan angka tertentu, jaminan tertentu, atau manfaat tertentu bila dibaca pada waktu tertentu. Dalam buku ini, kita mengambil jalan yang tenang dan berhati-hati.

Jika ada fadhilah yang jelas dari Al-Qur’an atau hadis sahih, kita terima dengan gembira. Jika ada riwayat yang belum jelas kekuatannya, kita tidak perlu menjadikannya sandaran utama. Membaca Surat As-Sajdah tetap berpahala karena ia adalah bagian dari Al-Qur’an. Tetapi kita tidak boleh memastikan janji khusus kecuali ada dalil yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ini bukan sikap meremehkan Al-Qur’an. Justru ini bentuk adab kepada agama. Kita mencintai Al-Qur’an dengan membacanya, merenungkannya, dan menjaga lisan dari menyandarkan sesuatu kepada Nabi tanpa kepastian.

Cara Lansia Mengamalkan Surat As-Sajdah

Bapak dan Ibu tidak perlu merasa berat. Surat As-Sajdah terdiri dari 30 ayat. Jika belum mampu membaca semuanya, boleh dimulai sedikit demi sedikit.

Salah satu cara yang ringan:

  • Hari pertama: baca ayat 1–5.
  • Hari kedua: baca ayat 6–10.
  • Hari ketiga: baca ayat 11–15.
  • Hari keempat: baca ayat 16–20.
  • Hari kelima: baca ayat 21–25.
  • Hari keenam: baca ayat 26–30.
  • Hari ketujuh: dengarkan murattal seluruh surat sambil menyimak terjemahannya.

Jika mata lelah, dengarkan bacaan. Jika suara lemah, baca dalam hati sambil melihat mushaf. Jika belum lancar, baca perlahan. Allah mengetahui usaha hamba-Nya.

Yang penting bukan banyaknya bacaan semata, tetapi hubungan hati dengan Allah. Satu ayat yang dibaca dengan sadar bisa melembutkan hati. Misalnya ayat:

“Mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap...”
(QS As-Sajdah 32:16; Kementerian Agama RI, 2019)

Ayat ini bisa menjadi pegangan harian. Ketika takut mati, ingatlah harapan. Ketika merasa banyak dosa, ingatlah ampunan. Ketika merasa lemah, ingatlah bahwa Allah mendengar doa.

Renungan untuk Bekal Akhirat

Surat As-Sajdah mengajarkan bahwa manusia tidak berjalan tanpa tujuan. Kita diciptakan, diberi umur, diuji, lalu dikembalikan kepada Allah. Orang yang beriman tidak menunggu akhir hidup dengan kosong. Ia mengisi sisa umur dengan sujud, doa, harapan, dan amal.

Bapak dan Ibu yang dimuliakan Allah, usia lanjut bukan tanda bahwa kesempatan telah habis. Justru ia bisa menjadi musim paling jernih untuk kembali kepada Allah. Mungkin tubuh tidak sekuat dulu, tetapi hati bisa lebih dekat. Mungkin langkah tidak secepat dulu, tetapi doa bisa lebih panjang. Mungkin bacaan tidak selancar dulu, tetapi air mata taubat bisa lebih tulus.

Surat As-Sajdah mengajak kita berkata:

“Ya Allah, jadikan aku hamba yang sujud kepada-Mu, tidak sombong kepada ayat-Mu, berdoa kepada-Mu dengan takut dan harap, serta kembali kepada-Mu dalam keadaan Engkau ridha.”

Itulah bekal yang sangat indah untuk hari akhir.

Ringkasan Bab

Surat As-Sajdah adalah surat yang menguatkan iman kepada Allah sebagai Pencipta, mengingatkan kebangkitan setelah kematian, dan menggambarkan sifat orang-orang beriman. Di dalamnya terdapat ajakan untuk sujud, tidak sombong, berdoa pada malam hari, serta beramal dengan rezeki yang Allah berikan.

Riwayat sahih menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Surat As-Sajdah pada rakaat pertama salat Subuh hari Jumat dan Surat Al-Insan pada rakaat kedua. Ini adalah fadhilah yang kuat dan dapat dijadikan pegangan.

Bagi lansia, Surat As-Sajdah dapat menjadi teman untuk melembutkan hati: mengingat asal penciptaan, mempersiapkan akhirat, memperbanyak doa malam, dan menyambut perjumpaan dengan Allah dengan rasa takut yang sehat serta harapan yang besar.

References

Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Sahih al-Bukhari.

Kementerian Agama Republik Indonesia. 2019. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim.

τ TheoryTrace