Version 2 of 4
Bab 16: Surat Ad-Dukhan, Al-Insan, dan Surat-Surat Pilihan Lain
Generated Aksbel book section. · Working · Jul 17, 2026 07:47 · saved by @mujirin
Bab 16: Surat Ad-Dukhan, Al-Insan, dan Surat-Surat Pilihan Lain
Pada bab sebelumnya, kita telah membahas Surat Al-Waqi’ah. Kita belajar bahwa Al-Waqi’ah mengingatkan hati tentang hari Kiamat, tiga golongan manusia, nikmat surga, peringatan neraka, dan rezeki yang paling hakiki: keselamatan di sisi Allah.
Sekarang kita masuk ke beberapa surat pilihan lain yang sering dibaca oleh kaum muslimin: Surat Ad-Dukhan, Surat Al-Insan, dan beberapa surat pendek atau sedang yang memiliki tempat indah dalam ibadah harian dan pekanan.
Namun, sebelum membahas satu per satu, mari kita tenangkan hati dengan satu prinsip.
Tidak semua surat harus memiliki “fadhilah khusus” berupa angka tertentu, janji tertentu, atau waktu tertentu agar layak kita baca. Setiap ayat Al-Qur’an sudah mulia. Setiap huruf yang dibaca dengan niat ibadah bernilai pahala. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh; beliau menjelaskan bahwa Alif Lam Mim bukan satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf (at-Tirmidzi, hadis no. 2910).
Jadi, bila suatu surat tidak memiliki hadis sahih khusus tentang fadhilah tertentu, bukan berarti surat itu kurang bermanfaat. Ia tetap Kalamullah. Ia tetap petunjuk. Ia tetap cahaya bagi hati.
Yang perlu kita hindari adalah menetapkan janji khusus tanpa dalil yang kuat. Misalnya, “siapa membaca surat ini pada malam tertentu pasti mendapatkan hasil tertentu,” padahal riwayatnya tidak jelas atau lemah. Dalam ibadah, cinta harus berjalan bersama ilmu. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa amalan yang diada-adakan dalam urusan agama dan tidak memiliki dasar akan tertolak (al-Bukhari, hadis no. 2697; Muslim, hadis no. 1718).
Maka, bab ini tidak bertujuan memperbanyak klaim fadhilah. Bab ini bertujuan membantu pembaca lanjut usia memilih bacaan Al-Qur’an dengan tenang: membaca yang mampu, memahami maknanya sedikit demi sedikit, dan tidak terbebani oleh kabar-kabar yang belum jelas.
Apa Itu “Surat Pilihan”?
Dalam percakapan sehari-hari, kita sering mendengar istilah surat pilihan. Maksudnya adalah surat-surat yang sering dipilih untuk dibaca dalam ibadah, pengajian, dzikir, atau renungan pribadi.
Tetapi istilah ini perlu dipahami dengan hati-hati.
Ada surat yang dipilih karena memiliki dalil khusus. Contohnya, Nabi ﷺ membaca Surat As-Sajdah dan Surat Al-Insan pada salat Subuh hari Jumat; riwayat ini terdapat dalam hadis sahih (al-Bukhari, hadis no. 891; Muslim, hadis no. 880a).
Ada juga surat yang dipilih karena kandungannya sangat menyentuh hati, walaupun tidak ada hadis sahih khusus yang menetapkan pahala tertentu. Contohnya, seorang lansia membaca Surat Ad-Dukhan karena ingin mengingat peringatan Allah, kisah kaum terdahulu, dan akhirat. Ini baik, selama tidak diyakini ada janji khusus tertentu yang tidak berdasar.
Maka, ketika kita menyebut “surat pilihan”, maksud yang aman adalah:
Surat yang kita pilih untuk dibaca karena ia bagian dari Al-Qur’an, karena kandungannya bermanfaat, atau karena ada contoh dari Nabi ﷺ dalam keadaan tertentu.
Dengan pengertian ini, hati menjadi lapang. Kita tidak perlu bertanya, “Kalau tidak ada fadhilah khusus, untuk apa dibaca?” Sebab jawabannya jelas: karena ia Al-Qur’an.
Surat Ad-Dukhan: Peringatan, Rahmat, dan Kesadaran Akhirat
Surat Ad-Dukhan adalah surat ke-44 dalam Al-Qur’an. Kata Ad-Dukhan berarti “asap”. Nama ini diambil dari salah satu ayat dalam surat tersebut yang menyebut datangnya asap sebagai peringatan bagi manusia (QS Ad-Dukhan 44:10; Kementerian Agama RI, 2019).
Surat ini dimulai dengan penyebutan Al-Qur’an:
“Demi Kitab yang jelas.
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan.”
(QS Ad-Dukhan 44:2–3; Kementerian Agama RI, 2019)
Ayat ini mengajarkan bahwa Al-Qur’an bukan bacaan biasa. Ia adalah kitab yang jelas, diturunkan dengan keberkahan, dan membawa peringatan. Bagi orang beriman, peringatan bukan tanda Allah membenci hamba-Nya. Justru peringatan adalah bagian dari rahmat. Seperti seorang anak diperingatkan oleh orang tua agar tidak jatuh ke jurang, manusia diperingatkan oleh Allah agar tidak tersesat dalam hidup.
Surat Ad-Dukhan juga menyebut kisah Nabi Musa عليه السلام dan Fir‘aun. Fir‘aun adalah contoh manusia yang diberi kekuasaan, tetapi menyombongkan diri. Ia menolak kebenaran, menindas Bani Israil, dan akhirnya binasa. Allah menggambarkan bagaimana kaum Fir‘aun meninggalkan kebun-kebun, mata air, tanaman, tempat-tempat yang indah, dan kenikmatan yang dahulu mereka banggakan (QS Ad-Dukhan 44:25–29; Kementerian Agama RI, 2019).
Renungan ini sangat penting di usia lanjut. Dulu seseorang mungkin sibuk bekerja, membangun rumah, membesarkan anak, mengurus usaha, mencari kedudukan, dan menata kehidupan. Semua itu boleh bila halal dan disyukuri. Tetapi Surat Ad-Dukhan mengingatkan: semua milik dunia akan ditinggalkan. Yang menyertai kita adalah iman, amal saleh, tobat, doa, dan rahmat Allah.
Surat ini juga menggambarkan keadaan orang bertakwa di akhirat:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman,
di dalam taman-taman dan mata air.”
(QS Ad-Dukhan 44:51–52; Kementerian Agama RI, 2019)
Kata takwa berarti menjaga diri dari murka Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sesuai kemampuan. Untuk lansia, takwa tidak harus selalu berupa amalan besar yang berat. Takwa bisa berupa menjaga salat, menahan lisan dari menyakiti keluarga, memperbanyak istigfar, memaafkan anak-cucu, membaca Al-Qur’an walau sedikit, dan menjaga hati agar tidak putus asa dari rahmat Allah.
Catatan Hati-Hati tentang Fadhilah Khusus Ad-Dukhan
Di sebagian masyarakat, ada klaim-klaim khusus tentang membaca Surat Ad-Dukhan pada malam tertentu dengan pahala tertentu. Dalam bab ini, kita tidak menetapkan klaim khusus tersebut sebagai keyakinan, kecuali bila ada dalil yang sahih dan jelas.
Sikap yang aman adalah:
- boleh membaca Surat Ad-Dukhan kapan saja sebagai bagian dari Al-Qur’an;
- boleh memilihnya sebagai bacaan malam karena kandungannya mengingatkan akhirat;
- jangan memastikan janji khusus tertentu jika rujukannya tidak kuat;
- bila mendengar fadhilah tertentu, tanyakan dengan lembut: “Hadisnya dari kitab apa? Dinilai sahih oleh siapa?”
Contohnya, seorang ibu lanjut usia membaca Surat Ad-Dukhan setiap Kamis malam karena merasa hatinya tersentuh oleh ayat-ayat akhirat. Ini baik bila diniatkan membaca Al-Qur’an dan merenungkan maknanya. Tetapi jangan sampai ia berkata dengan yakin, “Siapa pun yang membaca ini pada malam ini pasti mendapat pahala khusus sekian,” kecuali ada dalil yang dapat dipertanggungjawabkan.
Inilah adab ilmu: tetap mencintai suratnya, tetapi berhati-hati dalam menyebut fadhilah khususnya.
Surat Al-Insan: Ikhlas, Sabar, dan Harapan Surga
Surat Al-Insan adalah surat ke-76 dalam Al-Qur’an. Kata Al-Insan berarti “manusia”. Surat ini juga dikenal dengan pembukaannya: Hal ata ‘alal-insan, “Bukankah pernah datang kepada manusia…” (QS Al-Insan 76:1; Kementerian Agama RI, 2019).
Surat ini mengingatkan manusia pada asal-usulnya. Dahulu manusia bukan sesuatu yang dapat disebut. Lalu Allah menciptakannya, memberinya pendengaran, penglihatan, dan jalan hidup: ada jalan syukur dan ada jalan kufur (QS Al-Insan 76:1–3; Kementerian Agama RI, 2019).
Ini pelajaran yang lembut untuk usia tua. Kita dulu bayi lemah, lalu tumbuh, bekerja, berkeluarga, menua, dan kembali lemah. Siklus hidup ini bukan hina. Ia adalah tanda bahwa manusia selalu membutuhkan Allah. Dari awal sampai akhir, kita hidup karena karunia-Nya.
Salah satu bagian paling indah dalam Surat Al-Insan adalah gambaran hamba-hamba Allah yang memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan. Mereka berkata:
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridaan Allah. Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.”
(QS Al-Insan 76:9; Kementerian Agama RI, 2019)
Inilah ikhlas. Ikhlas berarti melakukan amal karena Allah, bukan untuk dipuji manusia. Ikhlas bukan berarti tidak boleh senang bila orang berterima kasih. Tetapi hati tidak bergantung pada pujian itu.
Contoh sederhana bagi lansia:
- memberi nasihat baik kepada cucu tanpa menuntut selalu dihargai;
- menyisihkan sedikit sedekah meski tidak banyak;
- mendoakan anak-anak walau mereka belum memahami besarnya doa orang tua;
- membaca Al-Qur’an bukan supaya dianggap saleh, tetapi supaya dekat dengan Allah.
Surat Al-Insan juga menggambarkan balasan bagi orang-orang yang sabar:
“Maka, Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan.”
(QS Al-Insan 76:11; Kementerian Agama RI, 2019)
Perhatikan kata-kata ini: keceriaan dan kegembiraan. Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang takut. Al-Qur’an juga berbicara tentang bahagia. Orang beriman memang takut kepada dosa, tetapi ia juga berharap kepada rahmat Allah. Ia menangis karena menyesal, tetapi ia tersenyum karena tahu Allah Maha Penyayang.
Fadhilah Al-Insan yang Memiliki Dasar Sahih
Ada riwayat sahih bahwa Rasulullah ﷺ membaca Surat As-Sajdah pada rakaat pertama dan Surat Al-Insan pada rakaat kedua dalam salat Subuh hari Jumat (al-Bukhari, hadis no. 891; Muslim, hadis no. 880a).
Ini menunjukkan bahwa Surat Al-Insan memiliki tempat dalam bacaan Nabi ﷺ pada kesempatan tertentu. Namun, kita perlu memahami dengan benar. Hadis ini bukan berarti setiap orang wajib membaca Al-Insan setiap Jumat. Bagi imam yang mampu, mengikuti sunnah ini adalah kebaikan. Bagi makmum, ia mendengarkan. Bagi orang lanjut usia yang salat sendiri dan tidak kuat membaca panjang, tidak perlu memaksakan diri.
Contohnya, seorang kakek salat Subuh hari Jumat sendirian di rumah karena sakit lutut. Ia hanya mampu membaca Al-Fatihah dan surat pendek. Salatnya tetap sah. Ia bisa membaca Surat Al-Insan di luar salat, pelan-pelan, satu halaman atau beberapa ayat, sambil melihat terjemah. Yang dicari bukan memberatkan tubuh, tetapi menghidupkan hati.
Surat Al-Jumu’ah dan Al-Munafiqun: Mengingat Hari Jumat dan Kejujuran Iman
Di antara surat yang memiliki dasar dalam bacaan salat Jumat adalah Surat Al-Jumu’ah dan Surat Al-Munafiqun. Dalam hadis sahih, Nabi ﷺ membaca Surat Al-Jumu’ah dan Surat Al-Munafiqun dalam salat Jumat (Muslim, hadis no. 879a).
Surat Al-Jumu’ah mengingatkan kaum muslimin tentang nikmat diutusnya Rasulullah ﷺ, pentingnya mengingat Allah, dan perintah bersegera menuju salat Jumat ketika azan dikumandangkan (QS Al-Jumu’ah 62:2 dan 62:9; Kementerian Agama RI, 2019).
Bagi laki-laki yang masih mampu menghadiri salat Jumat, surat ini mengingatkan agar tidak meremehkan panggilan Allah. Bagi lansia yang sudah memiliki uzur, sakit, sangat lemah, atau sulit pergi ke masjid, ia tetap dapat mengambil pelajaran: hari Jumat adalah hari untuk memperbanyak ingat kepada Allah.
Surat Al-Munafiqun mengingatkan bahaya kemunafikan. Kemunafikan bukan sekadar kesalahan kecil. Ia adalah penyakit hati ketika lisan menampakkan iman, tetapi hati menyembunyikan penolakan. Surat ini juga mengingatkan agar harta dan anak-anak tidak melalaikan seseorang dari mengingat Allah (QS Al-Munafiqun 63:9; Kementerian Agama RI, 2019).
Ini sangat menyentuh untuk orang tua. Anak dan cucu adalah nikmat besar. Harta yang dikumpulkan bertahun-tahun juga bisa menjadi sarana kebaikan. Tetapi semuanya jangan sampai membuat kita lupa kepada Allah. Pada akhirnya, anak tidak bisa menggantikan iman kita. Harta tidak bisa menggantikan salat kita. Yang menyelamatkan adalah rahmat Allah, lalu amal yang diterima oleh-Nya.
Surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah: Penyucian Jiwa dan Hari Pembalasan
Rasulullah ﷺ juga membaca Surat Al-A’la dan Surat Al-Ghasyiyah dalam salat Jumat dan salat Id dalam riwayat sahih (Muslim, hadis no. 878a).
Surat Al-A’la dimulai dengan perintah:
“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.”
(QS Al-A’la 87:1; Kementerian Agama RI, 2019)
Surat ini mengingatkan tentang keagungan Allah, penciptaan, petunjuk, dan keberuntungan orang yang menyucikan diri. Allah berfirman:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri,
dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat.”
(QS Al-A’la 87:14–15; Kementerian Agama RI, 2019)
Menyucikan diri di sini dapat dipahami sebagai membersihkan hati dan amal dari kekufuran, syirik, dosa, dan kelalaian. Untuk lansia, penyucian diri bisa dilakukan dengan amalan yang sangat nyata:
- memperbanyak istigfar;
- mengembalikan hak orang lain bila masih ada;
- meminta maaf kepada keluarga;
- berhenti dari kebiasaan buruk yang masih tersisa;
- menjaga salat dengan lebih tenang.
Surat Al-Ghasyiyah berbicara tentang hari yang meliputi manusia, yaitu hari Kiamat. Surat ini menggambarkan wajah-wajah yang tertunduk dan menderita, lalu wajah-wajah yang berseri karena berada dalam kenikmatan (QS Al-Ghasyiyah 88:1–16; Kementerian Agama RI, 2019).
Pada bagian akhirnya, Allah mengajak manusia memperhatikan unta, langit, gunung, dan bumi (QS Al-Ghasyiyah 88:17–20; Kementerian Agama RI, 2019). Maksudnya, tanda-tanda kekuasaan Allah ada di sekitar kita. Orang tua yang duduk di teras, melihat langit sore, mendengar suara burung, merasakan angin, dan mengingat Allah sedang melakukan renungan yang bernilai bila disertai iman.
Surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas: Tauhid yang Jelas dan Ringkas
Tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah, keyakinan, cinta, takut, harap, dan ketaatan. Tauhid adalah inti agama Islam. Tanpa tauhid, amal menjadi rusak. Dengan tauhid, amal kecil bisa menjadi sangat bernilai.
Dua surat yang sangat kuat mengajarkan tauhid adalah Surat Al-Kafirun dan Surat Al-Ikhlas.
Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ membaca Surat Al-Kafirun dan Surat Al-Ikhlas pada dua rakaat sunnah sebelum Subuh (Muslim, hadis no. 726a). Ini menunjukkan bahwa dua surat pendek ini memiliki kedudukan penting dalam ibadah Nabi ﷺ.
Surat Al-Kafirun mengajarkan ketegasan dalam ibadah:
“Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.”
(QS Al-Kafirun 109:2; Kementerian Agama RI, 2019)
Surat ini bukan ajaran kasar kepada orang lain. Ia adalah pernyataan iman: seorang muslim beribadah hanya kepada Allah. Ia tidak mencampuradukkan tauhid dengan kesyirikan.
Surat Al-Ikhlas mengajarkan siapa Allah:
“Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa.
Allah tempat meminta segala sesuatu.”
(QS Al-Ikhlas 112:1–2; Kementerian Agama RI, 2019)
Bagi lansia, dua surat ini sangat cocok menjadi bacaan harian. Pendek, mudah dihafal, tetapi maknanya besar. Ketika bangun malam dan tidak kuat membaca panjang, bacalah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, atau Al-Kafirun dengan hati yang hadir. Jangan meremehkan bacaan pendek. Yang pendek bisa menjadi cahaya besar bila dibaca dengan iman.
Surat-Surat Pendek tentang Akhirat: Bacaan Ringan, Makna Dalam
Selain surat-surat di atas, ada beberapa surat pendek yang sangat baik untuk renungan akhirat, walaupun kita tidak menetapkan fadhilah khusus tertentu tanpa dalil sahih. Di antaranya:
Surat Az-Zalzalah mengingatkan bahwa bumi akan diguncangkan dan manusia akan melihat balasan amalnya. Allah berfirman bahwa siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah akan melihat balasannya, dan siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah akan melihat balasannya (QS Az-Zalzalah 99:7–8; Kementerian Agama RI, 2019).
Ini menghibur orang tua yang merasa amalnya kecil. Senyum kepada pasangan, doa untuk anak, sedekah sedikit, menahan marah, membaca satu ayat—semua tidak hilang di sisi Allah.
Surat Al-Qari’ah menggambarkan kedahsyatan hari Kiamat dan timbangan amal (QS Al-Qari’ah 101:1–11; Kementerian Agama RI, 2019). Surat ini pendek, tetapi kuat. Ia mengingatkan kita agar tidak hanya menimbang hidup dengan ukuran dunia, tetapi dengan ukuran akhirat.
Surat At-Takatsur memperingatkan manusia dari saling berbangga dalam memperbanyak harta, pengikut, atau kedudukan sampai datang kematian (QS At-Takatsur 102:1–2; Kementerian Agama RI, 2019). Surat ini sangat cocok direnungkan di usia senja. Setelah sekian lama hidup, kita sadar bahwa yang membuat hati tenang bukan banyaknya barang, tetapi dekatnya hati kepada Allah.
Surat Al-‘Asr mengajarkan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran (QS Al-‘Asr 103:1–3; Kementerian Agama RI, 2019). Surat ini hanya tiga ayat, tetapi merangkum arah hidup seorang muslim.
Bila mata sudah lemah, pilih satu surat pendek. Baca pelan. Ulangi artinya. Misalnya setelah membaca Al-‘Asr, katakan dalam hati:
“Ya Allah, jadikan sisa umurku untuk iman, amal saleh, kebenaran, dan kesabaran.”
Itu sudah menjadi majelis iman antara hamba dan Tuhannya.
Jangan Terbebani oleh Banyaknya Pilihan
Kadang-kadang, ketika mendengar banyak surat dan banyak amalan, hati lansia justru menjadi berat. Ada yang berkata, “Saya sudah tua. Hafalan sedikit. Mata kabur. Kalau harus membaca semua, saya tidak sanggup.”
Jawabannya: tidak harus membaca semua sekaligus.
Islam bukan agama yang ingin mematahkan hamba yang lemah. Allah mengetahui keadaan tubuh, usia, ingatan, dan kemampuan kita. Jika seseorang dahulu biasa beramal, lalu terhalang sakit atau keadaan tertentu, ada kabar gembira bahwa amal yang biasa ia kerjakan tetap dicatat baginya ketika ia sakit atau bepergian sebagaimana ketika ia sehat dan mukim (al-Bukhari, hadis no. 2996).
Maka, pilihlah bacaan yang mampu dijaga. Yang sedikit tetapi istiqamah lebih mendidik hati daripada banyak tetapi hanya sesaat lalu ditinggalkan.
Contoh pilihan ringan:
- Senin: membaca Surat Al-Insan beberapa ayat dan merenungkan ikhlas.
- Selasa: membaca Surat Al-A’la dan beristigfar.
- Rabu: membaca Surat Al-Ghasyiyah dan mengingat akhirat.
- Kamis: membaca Surat Ad-Dukhan sedikit demi sedikit.
- Jumat: membaca Surat Al-Kahfi semampunya, atau mendengarkannya bila tidak kuat membaca.
- Setiap hari: membaca Al-Fatihah, Ayat Kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sesuai kemampuan.
Ini bukan aturan wajib. Ini hanya contoh. Pembaca boleh menyusun sesuai keadaan. Bila hari ini hanya mampu membaca satu surat pendek, jangan bersedih. Bila hanya mampu mendengarkan murattal sambil berbaring, tetap berharap kepada Allah. Bila hanya mampu membaca hafalan yang pendek, baca dengan cinta.
Cara Memilih Bacaan dengan Tenang
Agar tidak bingung, gunakan tiga pertanyaan sederhana.
Pertama, apakah ada dalil khusus yang sahih?
Jika ada, seperti bacaan Al-Insan pada Subuh Jumat bersama As-Sajdah, maka kita menghormatinya sebagai sunnah yang memiliki dasar.
Kedua, jika tidak ada dalil khusus, apakah kandungannya baik untuk direnungkan?
Jika ya, maka bacalah sebagai bagian dari Al-Qur’an. Misalnya Ad-Dukhan untuk mengingat peringatan Allah, Al-Ghasyiyah untuk mengingat akhirat, atau At-Takatsur untuk melembutkan hati dari cinta dunia.
Ketiga, apakah bacaan itu sesuai kemampuan saya?
Jika tidak kuat membaca panjang, jangan memaksa sampai sakit atau benci membaca. Al-Qur’an turun sebagai petunjuk dan rahmat, bukan untuk membuat hamba yang lemah merasa putus asa.
Dengan tiga pertanyaan ini, pembaca dapat memilih bacaan tanpa waswas.
Penutup Bab: Banyak Jalan Menuju Hati yang Hidup
Surat Ad-Dukhan mengingatkan kita pada peringatan Allah, kehancuran kesombongan, dan keamanan bagi orang bertakwa. Surat Al-Insan mengajarkan asal-usul manusia, ikhlas, sabar, dan harapan surga. Surat Al-Jumu’ah, Al-Munafiqun, Al-A’la, Al-Ghasyiyah, Al-Kafirun, Al-Ikhlas, dan surat-surat pendek tentang akhirat semuanya dapat menjadi teman perjalanan menuju Allah.
Tidak semua memiliki fadhilah khusus yang sahih. Tetapi semuanya adalah Al-Qur’an. Semuanya mulia. Semuanya dapat menjadi bekal bila dibaca dengan iman, adab, dan niat yang benar.
Untuk pembaca lanjut usia, pesan bab ini sederhana:
Pilih bacaan yang mampu dijaga.
Jangan mengejar klaim yang tidak jelas.
Cintai Al-Qur’an dengan ilmu.
Bacalah sedikit demi sedikit.
Semoga setiap ayat menjadi cahaya di dunia, di kubur, dan di hari pertemuan dengan Allah.
References
- al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Sahih al-Bukhari. Hadis no. 891, 2697, dan 2996.
- Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019.
- Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Hadis no. 726a, 878a, 879a, 880a, dan 1718.
- at-Tirmidzi, Muhammad ibn ‘Isa. Jami‘ at-Tirmidzi. Hadis no. 2910.