Version 3 of 4

Bab 17: Dzikir Pagi-Petang dan Bacaan Sebelum Tidur dari Dalil Sahih

Document updated. · Working · Jul 17, 2026 17:01 · saved by @mujirin

Bab 17: Dzikir Pagi-Petang dan Bacaan Sebelum Tidur dari Dalil Sahih

Pada bab sebelumnya kita telah mengenal beberapa surat pilihan: ada yang memiliki dalil khusus yang kuat, ada pula yang manfaatnya kita ambil dari kandungan Al-Qur’an secara umum. Sekarang kita masuk ke amalan harian yang sangat dekat dengan kehidupan orang beriman: dzikir pagi-petang dan bacaan sebelum tidur.

Bab ini disusun dengan niat sederhana: agar pembaca lanjut usia mempunyai pegangan harian yang ringan, tenang, dan kuat dasarnya. Tidak perlu banyak sampai melelahkan. Tidak perlu mengejar jumlah yang membuat hati tertekan. Yang kita cari adalah ibadah yang bisa dijaga dengan cinta, ikhlas, dan harapan kepada Allah.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus, meskipun sedikit (al-Bukhari, hadis no. 6464; Muslim, hadis no. 783). Ini sangat menenangkan. Bagi lansia, yang terpenting bukan banyaknya bacaan pada satu hari lalu berhenti berhari-hari, tetapi istiqamah: tetap berjalan pelan, tetap kembali kepada Allah, tetap menjaga hati agar tidak kosong dari dzikir.

Apa Itu Dzikir?

Dzikir secara bahasa berarti mengingat. Dalam ibadah Islam, dzikir berarti mengingat Allah dengan hati, lisan, dan amal. Dzikir dengan lisan misalnya membaca:

  • Subhanallah — Mahasuci Allah.
  • Alhamdulillah — Segala puji bagi Allah.
  • Allahu akbar — Allah Mahabesar.
  • La ilaha illallah — Tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.
  • Istigfar — memohon ampun kepada Allah.

Namun dzikir bukan sekadar suara. Dzikir yang baik menghubungkan lisan dengan hati. Misalnya, ketika membaca Alhamdulillah, hati ikut menyadari: “Ya Allah, semua nikmat ini dari-Mu. Nafas saya, iman saya, umur saya, kesempatan bertobat saya, semuanya dari-Mu.”

Allah memerintahkan orang beriman untuk banyak berdzikir:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Yā ayyuhallażīna āmanużkurullāha żikran kaṡīrā. Wa sabbiḥūhu bukratan wa aṣīlā.
Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.
(QS Al-Ahzab 33:41–42; terjemahan Kementerian Agama RI) [Kementerian Agama RI 2019]

Ayat ini menjadi dasar umum bahwa pagi dan petang adalah waktu yang baik untuk mengingat Allah. Pagi adalah permulaan aktivitas. Petang adalah saat hari mulai ditutup. Keduanya seperti dua pintu: pintu memasuki hari dan pintu menutup hari.

Bagi orang lanjut usia, dzikir pagi-petang dapat menjadi pegangan batin. Saat pagi, kita menitipkan hari kepada Allah. Saat petang, kita menyerahkan kembali semua urusan kepada-Nya.

Prinsip Aman dalam Bab Ini

Sebelum masuk ke bacaan, mari kita jaga satu prinsip penting: jangan menetapkan fadhilah khusus kecuali ada dalil yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam bab ini, bacaan yang disebutkan diutamakan dari hadis sahih, terutama riwayat al-Bukhari dan Muslim. Ada satu bacaan pagi-petang, yaitu tiga surat pendek—Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas—yang diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud dan Jami‘ at-Tirmidzi; at-Tirmidzi menilainya hasan sahih (Abu Dawud, hadis no. 5082; at-Tirmidzi, hadis no. 3575). Istilah hasan sahih dalam penilaian hadis menunjukkan bahwa riwayat tersebut diterima oleh ulama hadis dengan derajat yang kuat, meskipun pembahasan teknisnya lebih rinci di kitab ilmu hadis.

Jadi, kita tidak berkata, “Semua bacaan populer pasti benar.” Kita juga tidak berkata, “Kalau tidak hafal banyak dzikir berarti kurang ibadah.” Jalan yang aman adalah: ambil yang jelas dalilnya, amalkan sesuai kemampuan, dan jangan mencela orang yang memilih bacaan sahih lain.

Waktu Pagi dan Petang

Para ulama menjelaskan bahwa dzikir pagi dilakukan pada waktu pagi, terutama setelah Subuh sampai sebelum matahari tinggi. Dzikir petang dilakukan pada waktu sore atau awal malam, terutama setelah Asar sampai setelah Magrib. Rentang ini tidak perlu dibuat kaku untuk orang yang sakit atau sangat lemah.

Contoh sederhana:

  • Jika terbiasa duduk setelah salat Subuh, bacalah dzikir pagi saat itu.
  • Jika setelah Subuh masih lelah, bacalah ketika sudah segar.
  • Jika petang hari sering lupa, letakkan mushaf kecil atau catatan dzikir di tempat salat.
  • Jika mata lemah, minta anak atau cucu membacakan, lalu ikuti pelan-pelan.

Yang penting adalah menjaga hubungan dengan Allah. Allah Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya.

Bacaan Inti Pagi-Petang yang Ringan

Untuk lansia, kita mulai dari bacaan yang pendek dan mudah diulang. Jangan langsung membebani diri dengan banyak halaman. Bila kuat, silakan tambah. Bila tidak kuat, pertahankan yang inti.

1. Membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas

Tiga surat pendek ini sangat penting dalam perlindungan harian. Surat Al-Ikhlas menguatkan tauhid: Allah Esa, tempat bergantung semua makhluk. Surat Al-Falaq dan An-Nas mengajarkan kita berlindung kepada Allah dari keburukan makhluk, kegelapan, sihir, hasad, dan bisikan setan.

Nabi ﷺ memerintahkan Abdullah bin Khubaib untuk membaca:

  • Qul Huwallahu Ahad — Surat Al-Ikhlas,
  • Qul A‘udzu bi Rabbil-Falaq — Surat Al-Falaq,
  • Qul A‘udzu bi Rabbin-Nas — Surat An-Nas,

sebanyak tiga kali ketika pagi dan petang; bacaan itu mencukupinya dari segala sesuatu, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi (Abu Dawud, hadis no. 5082; at-Tirmidzi, hadis no. 3575).

Untuk lansia, cara mengamalkannya sederhana:

  1. Duduk tenang.
  2. Baca Al-Fatihah jika ingin membuka dengan bacaan yang akrab.
  3. Baca Al-Ikhlas tiga kali.
  4. Baca Al-Falaq tiga kali.
  5. Baca An-Nas tiga kali.
  6. Tutup dengan doa pendek: “Ya Allah, lindungilah saya, keluarga saya, dan akhir hidup saya.”

Tidak perlu cepat. Bacalah pelan. Bila hanya kuat satu kali dulu, mulai dari satu kali. Setelah terbiasa, tambah menjadi tiga kali.

2. Sayyidul Istigfar: Permohonan Ampun yang Agung

Istigfar berarti memohon ampun kepada Allah. Salah satu istigfar yang paling agung dikenal dengan nama Sayyidul Istigfar, yaitu “penghulu istigfar”.

Bacaannya:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَىٰ عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
Allāhumma anta rabbī, lā ilāha illā anta. Khalaqtanī wa anā ‘abduka, wa anā ‘alā ‘ahdika wa wa‘dika mastaṭa‘tu. A‘ūdzu bika min syarri mā ṣana‘tu. Abū’u laka bini‘matika ‘alayya, wa abū’u laka biżanbī. Fagfir lī, fa innahū lā yagfiruż-żunūba illā anta.

Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada sesembahan yang benar selain Engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berpegang pada perjanjian dan janji kepada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa siapa yang membacanya pada siang hari dengan yakin, lalu wafat sebelum sore, ia termasuk penghuni surga; dan siapa yang membacanya pada malam hari dengan yakin, lalu wafat sebelum pagi, ia termasuk penghuni surga (al-Bukhari, hadis no. 6306).

Perhatikan kalimat “dengan yakin”. Artinya bukan hanya membaca cepat tanpa rasa. Hati ikut mengakui: “Ya Allah, saya banyak salah. Tetapi ampunan-Mu lebih luas daripada dosa saya.”

Bagi lansia, Sayyidul Istigfar sangat cocok dibaca setiap pagi dan petang. Bila belum hafal, bacalah dari kertas. Bila sulit mengucapkan semuanya, hafalkan sedikit demi sedikit. Misalnya selama satu minggu pertama hafalkan bagian awal: Allahumma anta Rabbi, la ilaha illa anta. Setelah itu tambah perlahan.

3. Subhanallahi wa Bihamdihi

Bacaan ini pendek:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
Subḥānallāhi wa biḥamdih.
Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya.

Rasulullah ﷺ menyebutkan keutamaan besar bagi orang yang membaca Subhanallahi wa bihamdihi seratus kali dalam sehari (al-Bukhari, hadis no. 6405). Dalam riwayat Muslim juga disebutkan keutamaan orang yang membacanya pada pagi dan petang seratus kali (Muslim, hadis no. 2692).

Untuk lansia, angka seratus kadang terasa banyak. Maka jangan terburu-buru. Bisa dibagi:

  • 25 kali setelah Subuh,
  • 25 kali setelah Zuhur,
  • 25 kali setelah Asar,
  • 25 kali sebelum tidur.

Atau gunakan tasbih, ruas jari, atau aplikasi penghitung jika membantu. Tetapi jangan sampai alatnya lebih menyibukkan daripada dzikirnya. Jika suatu hari hanya mampu 10 kali, tetap baca. Allah mengetahui kemampuan hamba-Nya.

Bacaan Sebelum Tidur

Tidur adalah “kematian kecil”. Saat tidur, manusia tidak lagi mengendalikan dirinya. Karena itu, sangat indah bila seorang muslim menutup hari dengan dzikir, membaca ayat Al-Qur’an, memohon perlindungan, dan menyerahkan diri kepada Allah.

Bagi orang lanjut usia, bacaan sebelum tidur dapat menjadi latihan husnuzan kepada Allah: “Ya Allah, jika malam ini Engkau panggil saya, panggillah saya dalam keadaan beriman. Jika Engkau bangunkan saya, bangunkan saya untuk kebaikan.”

1. Ayat Kursi

Ayat Kursi adalah QS Al-Baqarah 2:255. Ayat ini berisi tauhid yang sangat agung: Allah hidup kekal, terus-menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur, milik-Nya semua yang di langit dan di bumi, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan kekuasaan-Nya sempurna.

Dalam hadis sahih, Abu Hurairah meriwayatkan kisah bahwa setan mengajarkan agar membaca Ayat Kursi ketika hendak tidur; ia mengatakan bahwa pembacanya akan senantiasa mendapat penjagaan dari Allah dan setan tidak mendekatinya sampai pagi. Nabi ﷺ membenarkan isi ucapan itu, meskipun yang mengucapkannya adalah pendusta (al-Bukhari, hadis no. 2311).

Maksudnya, kita membaca Ayat Kursi bukan karena percaya kepada setan, tetapi karena Rasulullah ﷺ membenarkan keutamaan bacaan tersebut.

Cara mudah:

  1. Berwudu jika mampu.
  2. Duduk atau berbaring dengan tenang.
  3. Baca Ayat Kursi pelan-pelan.
  4. Renungkan satu makna saja: “Allah tidak tidur. Saat saya tidur, Allah tetap menjaga.”

Ini sangat menenangkan untuk lansia yang sering merasa takut pada malam hari.

2. Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah

Dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah adalah QS Al-Baqarah 2:285–286. Di dalamnya ada iman, kepasrahan, dan doa yang sangat lembut:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
Rabbanā lā tu’ākhiżnā in nasīnā au akhṭa’nā.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah...
(QS Al-Baqarah 2:286; terjemahan Kementerian Agama RI) [Kementerian Agama RI 2019]

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang membaca dua ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah pada malam hari, maka keduanya mencukupinya (al-Bukhari, hadis no. 5009; Muslim, hadis no. 807).

Ulama menjelaskan makna “mencukupinya” dengan beberapa penjelasan: mencukupi dari keburukan, mencukupi sebagai bacaan malam, atau mencukupi dalam perlindungan dan pahala. Kita tidak perlu mempersempit maknanya tanpa dalil. Yang jelas, hadis ini menunjukkan keutamaan besar dua ayat terakhir Al-Baqarah.

Untuk pembaca lansia, ayat ini sangat cocok ketika hati merasa bersalah. Di dalamnya ada doa:

  • agar Allah tidak menghukum karena lupa atau salah,
  • agar Allah tidak membebani di luar kemampuan,
  • agar Allah memaafkan,
  • agar Allah mengampuni,
  • agar Allah merahmati.

Ini doa seorang hamba yang lemah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

3. Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas Sebelum Tidur

Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa setiap malam ketika Nabi ﷺ hendak tidur, beliau mengumpulkan kedua telapak tangan, meniup lembut ke dalamnya, lalu membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Setelah itu beliau mengusapkan kedua tangan ke tubuh semampunya, dimulai dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuh. Beliau melakukannya tiga kali (al-Bukhari, hadis no. 5017).

Ini amalan yang sangat lembut dan mudah. Untuk lansia:

  1. Satukan kedua telapak tangan.
  2. Baca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
  3. Tiup lembut tanpa berlebihan.
  4. Usapkan ke wajah, kepala, dada, dan tubuh semampunya.
  5. Ulangi sampai tiga kali jika kuat.

Jika tangan sulit diangkat karena sakit, cukup baca saja. Jika suara lemah, baca dalam hati sambil menggerakkan bibir semampunya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya, sebagaimana doa yang Allah ajarkan dalam QS Al-Baqarah 2:286 (Kementerian Agama RI, 2019).

4. Tasbih, Tahmid, dan Takbir Sebelum Tidur

Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada Ali dan Fatimah radhiyallahu ‘anhuma bacaan sebelum tidur:

  • Subhanallah 33 kali,
  • Alhamdulillah 33 kali,
  • Allahu akbar 34 kali.

Amalan ini diriwayatkan dalam hadis sahih (al-Bukhari, hadis no. 5361; Muslim, hadis no. 2727).

Jumlahnya 100 bacaan. Namun karena kalimatnya pendek, banyak orang lansia dapat melakukannya dengan tenang. Bila khawatir lupa hitungan, gunakan ruas jari. Bila tertidur sebelum selesai, jangan panik. Tidur dalam keadaan berdzikir sudah merupakan nikmat besar.

5. Doa Saat Hendak Tidur dan Saat Bangun

Di antara doa yang sahih ketika hendak tidur adalah:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا
Bismika Allāhumma amūtu wa aḥyā.
Dengan nama-Mu, ya Allah, aku mati dan aku hidup.

Dan ketika bangun tidur:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Al-ḥamdu lillāhillażī aḥyānā ba‘da mā amātanā wa ilaihin-nusyūr.
Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya kami dibangkitkan.

Doa ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim (al-Bukhari, hadis no. 6312; Muslim, hadis no. 2711).

Doa ini pendek, tetapi maknanya sangat dalam. Setiap bangun tidur adalah latihan mengingat kebangkitan. Seakan-akan hati berkata: “Jika hari ini saya masih dibangunkan, berarti masih ada kesempatan beramal.”

Bila Tidak Kuat Membaca Semua

Sebagian pembaca mungkin bertanya, “Apakah saya berdosa jika tidak membaca semua bacaan ini?”

Jawabannya: tidak. Bacaan-bacaan ini adalah amalan mulia, tetapi bukan semuanya wajib. Jangan jadikan dzikir sebagai beban yang membuat takut. Jadikan dzikir sebagai teman perjalanan pulang kepada Allah.

Bila tubuh sedang sehat, bacalah lebih lengkap. Bila sedang lemah, pilih yang paling mudah. Misalnya:

  • Pagi: Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas masing-masing tiga kali, lalu Sayyidul Istigfar.
  • Petang: ulangi bacaan yang sama.
  • Sebelum tidur: Ayat Kursi, tiga surat pendek, lalu doa tidur.

Jika masih terasa berat, ambil paket paling ringkas:

  • Pagi: Sayyidul Istigfar satu kali.
  • Petang: Sayyidul Istigfar satu kali.
  • Sebelum tidur: Ayat Kursi dan doa tidur.

Jika itu pun sulit, baca:

“Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, dan wafatkan aku dalam iman.”

Allah Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya.

Dalam hadis sahih disebutkan bahwa apabila seorang hamba sakit atau sedang bepergian, tetap dicatat baginya pahala seperti amalan yang biasa ia kerjakan ketika sehat dan menetap (al-Bukhari, hadis no. 2996). Ini kabar gembira besar. Maka, biasakan dzikir ketika sehat. Jika suatu hari sakit menghalangi, berharaplah kepada keluasan karunia Allah.

Contoh Jadwal Harian yang Ramah Lansia

Agar mudah diamalkan, berikut contoh susunan yang ringan. Ini bukan kewajiban. Ini hanya contoh.

Setelah Subuh atau Pagi Hari

Duduk sebentar, jangan terburu-buru.

  1. Al-Ikhlas tiga kali.
  2. Al-Falaq tiga kali.
  3. An-Nas tiga kali.
  4. Sayyidul Istigfar satu kali.
  5. Subhanallahi wa bihamdihi semampunya, misalnya 10, 33, atau 100 kali.

Jika mata masih mengantuk, baca pelan. Jika ada keluarga, minta dibacakan bersama.

Sore atau Setelah Magrib

Tenangkan hati setelah aktivitas hari itu.

  1. Al-Ikhlas tiga kali.
  2. Al-Falaq tiga kali.
  3. An-Nas tiga kali.
  4. Sayyidul Istigfar satu kali.
  5. Doa pribadi: mohon ampun untuk diri sendiri, pasangan, orang tua, anak, cucu, dan kaum muslimin.

Sebelum Tidur

Jadikan tempat tidur sebagai tempat menyerahkan diri kepada Allah.

  1. Ayat Kursi.
  2. Dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah jika mampu.
  3. Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, lalu usapkan ke tubuh semampunya.
  4. Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu akbar 34 kali jika kuat.
  5. Doa tidur: Bismika Allahumma amutu wa ahya.

Jika khawatir terlalu panjang, pilih tiga saja: Ayat Kursi, tiga surat pendek, dan doa tidur.

Jangan Lupa Makna Dzikir

Dzikir yang baik bukan hanya menghitung bacaan, tetapi menumbuhkan keadaan hati.

Ketika membaca Al-Ikhlas, ingatlah: “Saya hanya bergantung kepada Allah.”

Ketika membaca Al-Falaq, ingatlah: “Tidak ada keburukan yang lebih kuat daripada perlindungan Allah.”

Ketika membaca An-Nas, ingatlah: “Bisikan buruk dapat datang, tetapi Allah adalah Rabb manusia, Raja manusia, dan sesembahan manusia.”

Ketika membaca Sayyidul Istigfar, ingatlah: “Saya mengakui dosa, tetapi saya tidak putus asa dari ampunan Allah.”

Ketika membaca Ayat Kursi, ingatlah: “Allah tidak mengantuk dan tidak tidur. Saat saya lemah, Allah tetap Mahakuat.”

Inilah tujuan dzikir: hati semakin dekat kepada Allah, bukan sekadar lisan bergerak.

Penutup Bab

Dzikir pagi-petang dan bacaan sebelum tidur adalah bekal harian yang sangat berharga. Ia seperti pagar bagi hati, cahaya bagi rumah, dan teman bagi seorang mukmin yang sedang menunggu perjumpaan dengan Allah.

Bagi pembaca lanjut usia, jangan merasa terlambat. Selama nafas masih ada, pintu dzikir masih terbuka. Bila dahulu banyak waktu berlalu tanpa mengingat Allah, sekarang mulailah dengan lembut. Bila bacaan belum lancar, baca perlahan. Bila hafalan belum kuat, gunakan catatan. Bila tubuh lemah, berdzikirlah sambil duduk atau berbaring.

Allah Maha Baik. Allah Maha Penyayang. Allah tidak menilai hamba hanya dari kuatnya suara atau banyaknya jumlah, tetapi dari iman, keikhlasan, dan usaha yang jujur.

Semoga Allah menjadikan pagi kita penuh perlindungan, petang kita penuh ampunan, dan tidur kita sebagai penyerahan diri yang indah kepada-Nya.

References

Abu Dawud, Sulayman ibn al-Ash‘ath. Sunan Abi Dawud. Hadis no. 5082.

al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Sahih al-Bukhari. Hadis no. 2311, 2996, 5009, 5017, 5361, 6306, 6312, 6405, 6464.

at-Tirmidzi, Muhammad ibn ‘Isa. Jami‘ at-Tirmidzi. Hadis no. 3575.

Kementerian Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Hadis no. 783, 807, 2692, 2711, 2727.

τ TheoryTrace