Version 6 of 10
Bab 2: Al-Qur’an sebagai Rahmat, Syifa, dan Petunjuk
Status changed. · Working · Jul 17, 2026 11:41 · saved by @mujirin
Bab 2: Al-Qur’an sebagai Rahmat, Syifa, dan Petunjuk
Pada Bab 1 kita telah melihat bahwa masa tua dapat menjadi musim terbaik ibadah. Sekarang kita masuk kepada sahabat paling agung untuk mengisi musim itu: Al-Qur’an.
Bagi seorang muslim, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan indah. Ia adalah kalam Allah, petunjuk hidup, rahmat bagi hati, syifa bagi penyakit batin, pengingat akhirat, dan sumber pahala yang sangat luas. Karena itu, ketika seorang lansia mengambil mushaf, membaca satu halaman pelan-pelan, atau mendengarkan murattal sambil berbaring karena lemah, ia sedang berada dalam majelis yang mulia. Ia sedang mendekat kepada firman Allah.
Bab ini tidak akan membahas fadhilah surat tertentu terlebih dahulu. Sebelum mengetahui keutamaan Al-Fatihah, Ayat Kursi, Al-Mulk, Yasin, Ar-Rahman, dan surat-surat lain, kita perlu memahami kedudukan Al-Qur’an secara umum. Dengan begitu, hati kita tidak hanya mengejar “khasiat” surat tertentu, tetapi mencintai seluruh Al-Qur’an sebagai petunjuk dari Allah.
Apa Itu Al-Qur’an?
Secara sederhana, Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui Malaikat Jibril, dibaca sebagai ibadah, diriwayatkan secara mutawatir, dimulai dari Surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan Surat An-Nas. Istilah mutawatir berarti disampaikan oleh banyak sekali orang pada setiap generasi, sehingga secara normal mustahil mereka semua bersepakat untuk berdusta.
Definisi ini penting karena Al-Qur’an bukan karangan manusia. Ia bukan sekadar nasihat moral, bukan kumpulan puisi, dan bukan buku sejarah biasa. Di dalamnya ada kisah, hukum, doa, peringatan, kabar gembira, dan petunjuk hidup. Tetapi semuanya datang sebagai wahyu dari Allah.
Allah menyebut Al-Qur’an sebagai kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya dan menjadi petunjuk bagi orang-orang bertakwa:
ذَٰلِكَ ٱلْكِتَـٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Żālikal-kitābu lā rayba fīh, hudal lil-muttaqīn.
Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.
(QS Al-Baqarah 2:2; terjemahan Kementerian Agama RI) [Kementerian Agama RI 2019]
Ayat ini mengajarkan dasar yang sangat penting: Al-Qur’an adalah petunjuk. Tetapi petunjuk itu paling bermanfaat bagi hati yang mau bertakwa, yaitu hati yang ingin menjaga diri dari murka Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Contohnya sederhana. Dua orang sama-sama mendengar ayat tentang salat. Orang pertama berkata, “Saya sudah tua, saya ingin memperbaiki salat saya.” Orang kedua berkata, “Nanti saja.” Ayatnya sama, tetapi penerimaan hati berbeda. Karena itu, membaca Al-Qur’an bukan hanya urusan mata dan lisan, tetapi juga urusan kesiapan hati.
Al-Qur’an sebagai Petunjuk Hidup
Kata petunjuk dalam bahasa agama sering disebut hidayah. Secara sederhana, hidayah berarti arahan menuju jalan yang benar. Ada hidayah berupa penjelasan: Allah menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Ada pula hidayah berupa taufik: Allah menolong hamba-Nya agar benar-benar mampu mengikuti kebenaran. Taufik sepenuhnya milik Allah, tetapi seorang hamba diperintahkan untuk mencarinya.
Al-Qur’an memberi petunjuk dalam perkara yang paling besar: mengenal Allah, memahami tujuan hidup, mengetahui jalan menuju surga, dan menjauhi jalan yang membawa kepada kerugian akhirat. Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
Syahru ramaḍānal-lażī unzila fīhil-qur’ānu hudal lin-nāsi wa bayyinātim minal-hudā wal-furqān.
Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.
(QS Al-Baqarah 2:185; terjemahan Kementerian Agama RI) [Kementerian Agama RI 2019] ([quran.kemenag.go.id][1])
Di sini ada istilah penting: furqan, yaitu pembeda antara yang benar dan yang salah. Seorang lansia yang membaca Al-Qur’an sedang melatih hatinya untuk membedakan mana yang layak dibawa sebagai bekal akhirat dan mana yang sebaiknya ditinggalkan.
Misalnya, Al-Qur’an mengingatkan bahwa dunia itu sementara. Maka ketika seseorang merasa sedih karena harta berkurang, tenaga melemah, atau kedudukan sosial tidak lagi seperti dulu, Al-Qur’an menolongnya melihat lebih jauh: yang paling penting bukan lagi pujian manusia, tetapi ridha Allah. Ini adalah petunjuk yang sangat menenangkan.
Al-Qur’an juga memberi petunjuk dalam akhlak sehari-hari. Ia mengajarkan sabar, syukur, jujur, memaafkan, menjaga lisan, berbakti kepada orang tua, menyambung silaturahmi, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah. Maka membaca Al-Qur’an seharusnya pelan-pelan mengubah cara seseorang hidup.
Contoh kecil: seseorang membaca ayat tentang memaafkan. Setelah itu ia teringat saudara yang pernah menyakitinya. Jika ia berkata, “Ya Allah, saya ingin belajar memaafkan karena Engkau mencintai kebaikan,” maka bacaan Al-Qur’annya mulai menjadi petunjuk yang hidup.
Al-Qur’an sebagai Rahmat
Kata rahmat berarti kasih sayang Allah yang membawa kebaikan kepada hamba. Rahmat Allah sangat luas: mencakup ampunan, petunjuk, ketenangan, pahala, perlindungan, dan akhir yang baik. Ketika Al-Qur’an disebut sebagai rahmat, maknanya bukan hanya bahwa membacanya terasa indah, tetapi bahwa Allah menjadikannya sebab kebaikan besar bagi orang yang beriman.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
Yā ayyuhan-nāsu qad jā’atkum mau‘iẓatum mir rabbikum wa syifā’ul limā fiṣ-ṣudūri wa hudaw wa raḥmatul lil-mu’minīn.
Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
(QS Yunus 10:57; terjemahan Kementerian Agama RI) [Kementerian Agama RI 2019]
Ayat ini menyebut beberapa kedudukan Al-Qur’an sekaligus: pelajaran, penyembuh, petunjuk, dan rahmat. Perhatikan bahwa rahmat itu disebut bagi orang-orang beriman. Artinya, semakin seseorang menerima Al-Qur’an dengan iman, semakin besar peluang hatinya mendapatkan rahmat dari bacaan itu.
Rahmat Al-Qur’an bisa tampak dalam kehidupan yang sangat sederhana. Seorang nenek yang tinggal sendiri membaca beberapa ayat setelah Subuh. Ia mungkin tidak memahami seluruh tafsirnya, tetapi ia tahu bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Penyayang. Dari situ hatinya menjadi lebih kuat. Ia tidak merasa sendirian. Inilah salah satu bentuk rahmat.
Seorang kakek yang sakit membaca ayat tentang sabar. Ia belum tentu sembuh seketika. Tetapi ia mendapat kekuatan untuk berkata, “Sakit ini dari Allah, dan saya ingin menjalaninya dengan sabar.” Ini juga rahmat.
Rahmat Al-Qur’an tidak selalu berarti masalah dunia langsung hilang. Kadang rahmat itu berupa hati yang lebih lapang saat menghadapi masalah. Kadang berupa air mata taubat. Kadang berupa kemampuan memaafkan. Kadang berupa semangat untuk salat tepat waktu. Semua itu adalah kebaikan yang sangat mahal.
Al-Qur’an sebagai Syifa
Kata syifa berarti penyembuh. Dalam pembahasan Al-Qur’an, syifa terutama berkaitan dengan penyembuhan hati: dari keraguan, kesombongan, iri, dengki, putus asa, cinta dunia berlebihan, dan lalai dari akhirat. Allah berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Wa nunazzilu minal-qur’āni mā huwa syifā’uw wa raḥmatul lil-mu’minīn, wa lā yazīduẓ-ẓālimīna illā khasārā.
Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang zalim Al-Qur’an itu hanya akan menambah kerugian.
(QS Al-Isra’ 17:82; terjemahan Kementerian Agama RI) [Kementerian Agama RI 2019]
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Al-Qur’an menjadi syifa bagi penyakit hati seperti keraguan, kemunafikan, kesyirikan, dan penyimpangan dari kebenaran; ia juga menjadi rahmat karena membawa iman, hikmah, dan kebaikan bagi orang yang menerimanya (Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS Al-Isra’ 17:82).
Penting untuk berhati-hati di sini. Al-Qur’an memang dapat dibaca sebagai doa dan ruqyah dengan cara yang sesuai syariat. Dalam hadis sahih terdapat kisah sahabat yang meruqyah seseorang dengan Surat Al-Fatihah, lalu Nabi ﷺ membenarkannya (Sahih al-Bukhari, no. 5736; Sahih Muslim, no. 2201). Namun kita tidak boleh membuat janji tanpa dalil, misalnya mengatakan, “Baca surat ini pasti sembuh dari penyakit tertentu dalam sekian hari,” jika tidak ada dalil yang sahih.
Bagi lansia, pemahaman ini sangat menenangkan. Bila sedang sakit, membaca Al-Qur’an tetap mulia. Bila belum sembuh, jangan merasa bacaan itu sia-sia. Bisa jadi Allah sedang memberi syifa yang lebih dalam: hati menjadi ridha, dosa-dosa diampuni, lisan lebih banyak berdzikir, dan jiwa lebih siap bertemu Allah.
Contoh penyakit hati yang disembuhkan Al-Qur’an adalah rasa putus asa. Seseorang mungkin berkata, “Dosa saya terlalu banyak. Umur saya sudah tua. Apakah masih ada harapan?” Lalu ia membaca ayat tentang luasnya ampunan Allah. Hatinya bergerak untuk bertaubat. Inilah syifa: bukan sekadar rasa nyaman, tetapi perubahan hati menuju Allah.
Contoh lain adalah iri. Seseorang melihat orang lain lebih kaya atau lebih sehat. Lalu ia membaca ayat-ayat tentang pembagian rezeki dan kehidupan akhirat. Ia mulai berkata, “Yang penting Allah ridha kepada saya.” Iri itu melemah. Hati menjadi lebih bersih. Itulah syifa.
Al-Qur’an Menenangkan Hati
Manusia membutuhkan ketenangan. Terlebih pada usia lanjut, ketika tubuh melemah dan ingatan tentang kematian semakin dekat. Islam tidak mengajarkan kita lari dari kenyataan kematian. Islam mengajarkan kita mengingat kematian dengan iman, taubat, amal saleh, dan harapan kepada rahmat Allah.
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Alā biżikrillāhi taṭma’innul-qulūb.
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
(QS Ar-Ra‘d 13:28; terjemahan Kementerian Agama RI) [Kementerian Agama RI 2019]
Al-Qur’an adalah dzikir yang paling agung, karena ia adalah firman Allah. Ketika seorang muslim membaca Al-Qur’an, ia sedang mengingat Allah dengan kalam-Nya. Ketika ia mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan hati yang hadir, ia sedang memberi makan batinnya dengan pengingat dari Tuhannya.
Namun ketenangan yang dimaksud bukan selalu berarti tidak pernah sedih. Para nabi pun pernah sedih. Orang beriman pun bisa menangis, takut, atau gelisah. Ketenangan hati berarti hati memiliki tempat kembali: Allah. Ia boleh lelah, tetapi tidak kehilangan arah. Ia boleh menangis, tetapi tidak putus asa.
Misalnya, seorang lansia bangun malam karena sulit tidur. Pikiran tentang masa lalu datang: kesalahan, keluarga, harta, sakit, dan kematian. Ia lalu membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, atau mendengarkan Surat Al-Mulk. Mungkin masalahnya belum selesai, tetapi hatinya ingat kembali: “Saya punya Allah.” Itulah ketenangan yang lahir dari dzikir.
Al-Qur’an juga menggambarkan orang beriman sebagai orang yang hatinya bergetar ketika nama Allah disebut dan imannya bertambah ketika ayat-ayat-Nya dibacakan:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
Innamal-mu’minūnallażīna iżā żukirallāhu wajilat qulūbuhum wa iżā tuliyat ‘alaihim āyātuhū zādathum īmānā.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuat imannya...
(QS Al-Anfal 8:2; terjemahan Kementerian Agama RI) [Kementerian Agama RI 2019]
Ayat ini mengajarkan bahwa bacaan Al-Qur’an bukan hanya suara di telinga. Ia seharusnya menyentuh iman. Jika hari ini belum terasa, jangan putus asa. Hati bisa hidup kembali dengan kebiasaan yang lembut dan terus-menerus.
Pahala Membaca Al-Qur’an
Selain sebagai petunjuk, rahmat, syifa, dan penenang hati, Al-Qur’an juga menjadi sumber pahala yang sangat luas. Nabi ﷺ bersabda bahwa siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh; beliau menjelaskan bahwa “Alif Lam Mim” bukan satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf (Jami‘ at-Tirmidhi, no. 2910).
Hadis ini sangat menggembirakan, terutama bagi lansia. Mungkin dahulu seseorang membaca banyak halaman. Sekarang hanya mampu membaca setengah halaman. Mungkin dahulu suaranya kuat. Sekarang suaranya pelan. Tetapi pahala Allah tidak sempit. Satu huruf saja bernilai kebaikan. Maka jangan meremehkan bacaan pendek yang dilakukan dengan ikhlas.
Contohnya, seseorang membaca Surat Al-Fatihah dengan pelan. Ia berhenti sejenak karena napas pendek. Lalu melanjutkan. Di mata manusia, mungkin tampak sederhana. Tetapi di sisi Allah, setiap huruf yang dibaca dengan iman dan ikhlas adalah amal.
Nabi ﷺ juga memberi kabar gembira bahwa Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya (Sahih Muslim, no. 804). Syafaat berarti pertolongan atau perantaraan yang Allah izinkan pada hari kiamat. Dalam konteks ini, hadis tersebut mendorong kaum muslimin untuk akrab dengan Al-Qur’an, karena bacaan yang dijaga di dunia dapat menjadi sebab kebaikan di akhirat dengan izin Allah.
Bayangkan seseorang yang di masa tuanya menjadikan Al-Qur’an sebagai teman harian. Tidak harus banyak, tetapi setia. Setiap pagi beberapa ayat. Setiap malam beberapa surat pendek. Ketika sakit, ia mendengarkan. Ketika kuat, ia membaca. Kebiasaan seperti ini adalah bekal yang indah.
Pahala Mendengarkan Al-Qur’an
Tidak semua lansia mampu membaca dengan mudah. Ada yang penglihatannya lemah. Ada yang tangannya gemetar memegang mushaf. Ada yang suaranya sering habis. Ada pula yang belum lancar membaca huruf Arab. Untuk mereka, pintu kebaikan tidak tertutup.
Mendengarkan Al-Qur’an dengan penuh penghormatan juga merupakan amal yang mulia. Allah berfirman:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Wa iżā quri’al-qur’ānu fastami‘ū lahu wa anṣitū la‘allakum turḥamūn.
Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.
(QS Al-A‘raf 7:204; terjemahan Kementerian Agama RI) [Kementerian Agama RI 2019]
Ayat ini mengajarkan adab ketika Al-Qur’an dibacakan: mendengarkan dan tidak mengganggu. Bagi lansia, ini bisa menjadi jalan ibadah yang ringan. Jika mata lelah, dengarkan murattal. Jika suara tidak kuat, minta anak atau cucu membacakan. Jika sedang berbaring sakit, putar bacaan Al-Qur’an dengan volume yang nyaman dan niatkan untuk mengambil manfaat.
Tetapi mendengarkan bukan sekadar suara latar yang diabaikan. Jika mampu, hadirkan hati. Misalnya saat mendengarkan Surat Ar-Rahman, perhatikan pengulangan ayat tentang nikmat Allah. Saat mendengarkan Surat Al-Waqi’ah, ingatlah hari akhir. Saat mendengarkan Surat Al-Mulk, renungkan kekuasaan Allah atas hidup dan mati.
Jika tertidur saat mendengarkan karena lelah, jangan mencela diri secara berlebihan. Allah mengetahui kelemahan hamba-Nya. Yang penting adalah menjaga adab semampunya dan tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang diremehkan.
Membaca, Memahami, dan Mengamalkan
Ada tiga hubungan utama seorang muslim dengan Al-Qur’an: membaca, memahami, dan mengamalkan. Ketiganya saling menguatkan.
Membaca berarti melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai ibadah. Ini tetap berpahala walaupun seseorang belum memahami seluruh maknanya, berdasarkan hadis pahala membaca huruf Al-Qur’an (Jami‘ at-Tirmidhi, no. 2910).
Memahami berarti berusaha mengetahui makna ayat sesuai kemampuan, melalui terjemahan yang terpercaya, kajian ulama, atau penjelasan guru yang amanah. Pemahaman membuat bacaan lebih hidup. Misalnya, ketika membaca “Ihdinash-shirathal-mustaqim” dalam Al-Fatihah, seseorang tahu bahwa ia sedang memohon hidayah kepada Allah.
Mengamalkan berarti menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman perilaku. Inilah buah yang sangat penting. Ketika Al-Qur’an memerintahkan jujur, ia berusaha jujur. Ketika Al-Qur’an mengingatkan tentang akhirat, ia memperbanyak taubat. Ketika Al-Qur’an memuji orang yang sabar, ia belajar sabar menghadapi sakit.
Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menerangkan bahwa akhlak Nabi ﷺ adalah Al-Qur’an (Sahih Muslim, no. 746). Maksudnya, Nabi ﷺ adalah manusia yang paling sempurna dalam mengamalkan petunjuk Al-Qur’an. Beliau tidak hanya membacanya, tetapi hidup dengannya.
Bagi kita, terutama di usia lanjut, mengamalkan Al-Qur’an bisa dimulai dari hal-hal kecil. Setelah membaca ayat tentang kasih sayang, cobalah berbicara lebih lembut kepada keluarga. Setelah membaca ayat tentang ampunan, perbanyak istigfar. Setelah membaca ayat tentang nikmat, ucapkan hamdalah dan kurangi keluhan. Setelah membaca ayat tentang kematian, perbaiki salat dan siapkan wasiat kebaikan.
Sedikit amal yang nyata lebih baik daripada banyak bacaan yang tidak mengubah hati sama sekali. Namun jangan pula meremehkan bacaan. Bacaan adalah pintu. Pemahaman adalah cahaya. Amal adalah buahnya.
Al-Qur’an Mengangkat Derajat Orang yang Mempelajarinya
Nabi ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Khairukum man ta‘allamal-qur’āna wa ‘allamahu.
Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.
(Sahih al-Bukhari, no. 5027)
Hadis ini menunjukkan kemuliaan belajar Al-Qur’an. Belajar tidak hanya untuk anak-anak. Lansia pun tetap mulia belajar. Bahkan belajar di usia lanjut sering memiliki keindahan tersendiri: lebih ikhlas, lebih sadar akhirat, dan lebih sedikit keinginan dipuji manusia.
Jika seseorang belum lancar membaca, tidak perlu malu. Malu yang baik adalah malu berbuat dosa, bukan malu belajar ibadah. Jika tajwid masih banyak salah, perbaiki sedikit demi sedikit. Jika hafalan pendek, ulangi yang pendek itu dengan cinta. Allah melihat usaha, bukan hanya hasil yang tampak di mata manusia.
Dalam hadis sahih, Nabi ﷺ juga menyebut bahwa orang yang mahir membaca Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia, sedangkan orang yang membaca dengan terbata-bata dan merasa berat mendapat dua pahala (Sahih al-Bukhari, no. 4937; Sahih Muslim, no. 798). Hadis ini akan dibahas lebih khusus pada Bab 5, tetapi sejak sekarang kita sudah dapat mengambil semangatnya: kesulitan yang disertai kesungguhan tidak disia-siakan oleh Allah.
Contohnya, seorang ibu berusia tujuh puluh tahun baru belajar membedakan huruf ‘ain dan hamzah. Ia sering keliru. Tetapi ia datang mengaji setiap pekan. Dalam pandangan iman, itu bukan keterlambatan yang memalukan. Itu adalah langkah pulang kepada Allah.
Berhati-hati agar Tidak Salah Memahami Fadhilah
Karena Al-Qur’an sangat mulia, sebagian orang mudah menerima semua cerita tentang fadhilah surat tanpa memeriksa sumbernya. Ada yang mengatakan surat tertentu pasti mendatangkan kekayaan, surat tertentu pasti menghapus semua masalah, atau bacaan tertentu pasti membuat seseorang selamat dari semua kesulitan dunia. Sebagian berita mungkin memiliki dasar. Sebagian lagi lemah. Sebagian bahkan tidak jelas asalnya.
Bab ini ingin menanamkan dasar yang seimbang. Kita tidak meragukan keagungan Al-Qur’an. Kita yakin seluruh Al-Qur’an adalah petunjuk, rahmat, dan syifa bagi orang beriman. Namun untuk menyebut fadhilah khusus—misalnya “surat ini jika dibaca pada waktu tertentu akan mendapat pahala tertentu”—kita perlu dalil yang jelas dari Al-Qur’an atau hadis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sikap hati-hati ini bukan tanda kurang cinta kepada Al-Qur’an. Justru ini bentuk penghormatan. Kita tidak ingin menisbatkan sesuatu kepada Nabi ﷺ tanpa kepastian. Kita ingin mencintai Al-Qur’an dengan ilmu, bukan hanya dengan cerita yang menyenangkan.
Misalnya, membaca Surat Yasin tentu baik karena Yasin adalah bagian dari Al-Qur’an. Membaca Surat Al-Waqi’ah tentu berpahala karena setiap huruf Al-Qur’an berpahala. Tetapi jika ada klaim khusus tentang waktu, jumlah, atau jaminan tertentu, kita perlu bertanya: “Dalilnya apa? Apakah hadisnya sahih, hasan, lemah, atau tidak ada asalnya?” Prinsip ini akan dibahas lebih lengkap pada Bab 3.
Dengan cara ini, pembaca tidak kehilangan semangat. Justru semangatnya menjadi lebih aman. Kita tetap membaca surat-surat pilihan, tetapi hati tidak bergantung pada janji yang tidak jelas. Hati bergantung kepada Allah dan kepada dalil yang benar.
Al-Qur’an sebagai Teman Menuju Akhirat
Pada akhirnya, Al-Qur’an adalah teman perjalanan. Di masa kecil, ia mengajarkan huruf. Di masa muda, ia memberi arah. Di masa tua, ia menenangkan hati. Menjelang akhir kehidupan, ia mengingatkan bahwa dunia bukan tujuan terakhir.
Nabi ﷺ memerintahkan umatnya membaca Al-Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya (Sahih Muslim, no. 804). Ini adalah harapan yang besar. Seorang muslim tidak tahu amal mana yang paling diterima Allah. Mungkin satu ayat yang dibaca dengan air mata taubat. Mungkin satu surat pendek yang diulang saat sakit. Mungkin satu nasihat Al-Qur’an yang akhirnya membuatnya meminta maaf kepada keluarganya. Mungkin satu malam ketika ia mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan hatinya kembali husnuzan kepada Allah.
Maka jadikan Al-Qur’an sebagai teman yang lembut. Jangan mendatanginya hanya karena takut. Datangilah juga karena rindu. Jangan membacanya hanya untuk mengejar jumlah. Bacalah untuk mencari ridha Allah. Jika kuat, baca lebih banyak. Jika lemah, baca sedikit tetapi istiqamah. Jika tidak mampu membaca, dengarkan. Jika tidak mampu lama, ulangi surat pendek. Pintu Allah luas.
Al-Qur’an adalah rahmat: ia membawa kasih sayang Allah kepada hati yang beriman.
Al-Qur’an adalah syifa: ia menyembuhkan luka batin dan penyakit hati dengan izin Allah.
Al-Qur’an adalah petunjuk: ia menunjukkan jalan pulang kepada Allah.
Al-Qur’an adalah sumber pahala: huruf-hurufnya bernilai kebaikan, dan kedekatan dengannya menjadi bekal akhirat.
Semoga pada usia yang tersisa, Allah menjadikan kita termasuk ahli Al-Qur’an: orang yang membacanya, mendengarkannya, memahaminya, mencintainya, dan mengamalkannya semampu kita.
References
Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. Sahih al-Bukhari.
At-Tirmidhi, Muhammad ibn Isa. Jami‘ at-Tirmidhi.
Ibn Kathir, Ismail ibn Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim.
Kementerian Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019.
Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim.