Version 6 of 10

Bab 21: Menutup Hari dengan Husnuzan kepada Allah

Document updated. · Working · Jul 17, 2026 10:56 · saved by @mujirin

Bab 21: Menutup Hari dengan Husnuzan kepada Allah

Pada bab sebelumnya kita telah menyusun jadwal bacaan ringan 30 hari. Jadwal itu dibuat bukan untuk membebani, tetapi untuk membantu hati tetap dekat dengan Al-Qur’an. Kita belajar bahwa sedikit tetapi istiqamah lebih baik daripada banyak tetapi membuat lelah dan akhirnya berhenti.

Sekarang kita sampai pada bab terakhir sebelum penutup.

Bab ini adalah bab untuk menenangkan hati.

Setelah membaca Al-Qur’an, berdzikir, beristigfar, memperbaiki salat, dan menyusun bekal akhirat, seorang hamba tetap perlu membawa satu bekal besar: husnuzan kepada Allah.

Husnuzan berarti berprasangka baik. Dalam hubungan dengan Allah, husnuzan berarti meyakini bahwa Allah Maha Baik, Maha Pengampun, Maha Penyayang, Maha Bijaksana, dan tidak akan menzalimi hamba-Nya sedikit pun. Husnuzan bukan berarti merasa pasti masuk surga tanpa amal. Husnuzan juga bukan berarti meremehkan dosa. Husnuzan adalah hati yang berharap kepada rahmat Allah sambil tetap berusaha taat dan bertaubat.

Bagi orang lanjut usia, husnuzan sangat penting. Sebab pada masa tua, seseorang sering mengingat banyak hal: amal yang belum sempurna, dosa masa lalu, hubungan keluarga yang mungkin belum beres, ibadah yang dahulu terlalaikan, dan kematian yang terasa semakin dekat.

Islam tidak mengajarkan kita menutup mata dari kesalahan. Tetapi Islam juga tidak membiarkan kita tenggelam dalam putus asa.

Allah berfirman,

يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا Yā ‘ibādiyallażīna asrafū ‘alā anfusihim lā taqnaṭū mir raḥmatillāh. Innallāha yagfiruż-żunūba jamī‘ā. Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. (QS Az-Zumar 39:53; terjemahan Kementerian Agama RI) [Kementerian Agama RI 2019]

Ayat ini adalah panggilan yang sangat lembut. Allah tidak berkata, “Wahai orang-orang yang sudah sempurna.” Allah memanggil hamba-hamba yang telah melampaui batas, lalu membuka pintu harapan.

Maka marilah kita menutup hari-hari tua dengan harapan yang benar: takut kepada dosa, tetapi lebih percaya kepada rahmat Allah; menyesali kelalaian, tetapi tidak berhenti melangkah; menyadari kematian, tetapi bersiap dengan cinta kepada Allah dan Al-Qur’an.

Allah Sesuai dengan Persangkaan Hamba-Nya

Rasulullah ﷺ menyampaikan dalam hadis qudsi bahwa Allah berfirman, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku” (Sahih al-Bukhari, no. 7405; Sahih Muslim, no. 2675).

Hadis qudsi adalah hadis yang maknanya berasal dari Allah, lalu disampaikan oleh Nabi ﷺ dengan lafaz beliau. Hadis qudsi berbeda dari Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah wahyu yang lafaz dan maknanya dari Allah, dibaca sebagai ibadah dalam salat, dan merupakan mukjizat. Hadis qudsi tetap hadis, sehingga tidak dibaca sebagai bagian dari salat seperti Al-Fatihah.

Makna hadis di atas sangat besar. Seorang hamba hendaknya mengenal Allah dengan benar. Allah bukan Tuhan yang kejam kepada orang yang bertaubat. Allah bukan Tuhan yang menutup pintu bagi orang yang menyesal. Allah Maha Adil, tetapi juga Maha Pengampun. Allah Maha Mengetahui dosa, tetapi juga Maha Mengetahui air mata taubat. Allah mengetahui masa lalu kita, tetapi Dia juga mengetahui langkah kecil kita hari ini.

Contohnya begini.

Seorang ibu berusia lanjut berkata, “Dulu saya banyak lalai. Saya takut Allah tidak menerima saya.”

Rasa takut itu baik bila membuatnya bertaubat. Tetapi bila rasa takut itu membuatnya putus asa, maka ia perlu diobati dengan husnuzan. Ia dapat berkata kepada dirinya sendiri:

“Ya Allah, dosaku memang banyak. Tetapi rahmat-Mu lebih luas. Aku datang kepada-Mu dengan istigfar, salat, Al-Qur’an, dan harapan. Jangan Engkau serahkan aku kepada amal kecilku saja. Terimalah aku dengan kemurahan-Mu.”

Inilah husnuzan: tidak membela dosa, tetapi tidak berputus asa dari ampunan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian meninggal kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah” (Sahih Muslim, no. 2877). Hadis ini sangat penting untuk orang yang merasa ajal semakin dekat. Kita tidak tahu kapan wafat. Tetapi kita bisa melatih hati agar setiap malam tidur dengan harapan kepada Allah.

Harap dan Takut: Dua Sayap Hati

Dalam perjalanan menuju Allah, hati membutuhkan dua keadaan: raja’ dan khauf.

Raja’ berarti harapan kepada rahmat Allah. Orang yang memiliki raja’ berkata, “Allah Maha Pengampun. Bila aku bertaubat, Allah mampu mengampuniku.”

Khauf berarti rasa takut kepada murka dan hukuman Allah. Orang yang memiliki khauf berkata, “Aku tidak boleh meremehkan dosa. Aku harus berhati-hati dan memperbaiki diri.”

Keduanya perlu seimbang.

Jika hanya ada harapan tanpa rasa takut, seseorang bisa meremehkan maksiat. Ia berkata, “Allah Maha Pengampun,” tetapi terus sengaja melanggar perintah Allah. Ini bukan husnuzan yang benar. Ini kelalaian.

Jika hanya ada rasa takut tanpa harapan, seseorang bisa putus asa. Ia berkata, “Dosaku terlalu besar. Tidak ada gunanya bertaubat.” Ini juga keliru, karena Allah sendiri melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya (QS Az-Zumar 39:53; Kementerian Agama RI, 2019).

Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan ini. Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk memberitakan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Nya adalah azab yang pedih (QS Al-Hijr 15:49–50; Kementerian Agama RI, 2019). Dalam dua ayat yang berdekatan, ada rahmat dan peringatan. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin berjalan dengan harapan dan kehati-hatian.

Perumpamaannya seperti orang tua yang hendak pulang ke rumah pada malam hari. Ia senang karena rumah sudah dekat. Tetapi ia tetap membawa lampu agar tidak tersandung. Harapan adalah rasa senang karena Allah Maha Penyayang. Takut adalah lampu yang membuat kita berhati-hati dari dosa.

Untuk lansia, keseimbangan ini bisa diamalkan dengan sederhana:

  • Bila teringat dosa, ucapkan istigfar.
  • Bila merasa ibadah sedikit, mohon kepada Allah agar amal kecil diterima.
  • Bila takut mati, ingat bahwa kematian bagi orang beriman adalah pintu menuju pertemuan dengan Allah.
  • Bila merasa lemah, ingat bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya (QS Al-Baqarah 2:286; Kementerian Agama RI, 2019).

Taubat: Pulang Sebelum Dipanggil Pulang

Kata taubat berarti kembali. Dalam agama, taubat berarti kembali dari dosa menuju ketaatan kepada Allah.

Taubat bukan hanya untuk orang yang melakukan dosa besar. Taubat juga untuk semua hamba, karena manusia tidak luput dari salah, lalai, dan kurang sempurna dalam ibadah. Bahkan Nabi ﷺ, manusia paling mulia, memperbanyak istigfar. Dalam hadis sahih, beliau bersabda bahwa beliau beristigfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari (Sahih al-Bukhari, no. 6307).

Bila Nabi ﷺ saja memperbanyak istigfar, maka kita lebih membutuhkannya.

Taubat yang benar memiliki beberapa unsur pokok.

Pertama, meninggalkan dosa. Bila seseorang masih mampu meninggalkan perbuatan salah, ia berhenti. Misalnya, dahulu ia suka menyakiti keluarga dengan ucapan kasar. Maka ia mulai menahan lisan.

Kedua, menyesal. Penyesalan berarti hati mengakui bahwa dosa itu buruk. Misalnya, ia berkata, “Ya Allah, aku menyesal pernah menyia-nyiakan salatku. Ampunilah aku.”

Ketiga, bertekad tidak mengulanginya. Manusia mungkin lemah, tetapi tekad harus diarahkan kepada kebaikan. Bila jatuh lagi, ia bertaubat lagi, bukan menyerah.

Keempat, bila dosa itu berkaitan dengan hak manusia, maka perlu memperbaiki hak tersebut semampunya. Contohnya, bila pernah mengambil harta orang lain, maka dikembalikan. Bila pernah menyakiti seseorang, maka meminta maaf bila memungkinkan dan tidak menimbulkan keburukan yang lebih besar. Bila orangnya sudah wafat, doakan dia dan berusahalah mengembalikan haknya kepada ahli waris bila berkaitan dengan harta.

Taubat adalah pulang sebelum dipanggil pulang. Selama nyawa masih ada, pintu taubat masih terbuka. Karena itu, jangan menunda. Jangan berkata, “Nanti saja.” Untuk orang lanjut usia, hari ini adalah kesempatan yang sangat mahal.

Istigfar: Kalimat Ringan yang Membersihkan Hati

Istigfar berarti memohon ampun kepada Allah. Lafaz yang paling sederhana adalah:

Astaghfirullah
“Aku memohon ampun kepada Allah.”

Boleh juga membaca:

Astaghfirullahal-‘azhim wa atubu ilaih
“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung dan aku bertaubat kepada-Nya.”

Istigfar bukan sekadar ucapan di lisan. Istigfar adalah permohonan. Ketika mengucapkannya, hati sebaiknya ikut hadir. Tidak harus menangis. Tidak harus panjang. Yang penting jujur.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Nuh menyeru kaumnya agar memohon ampun kepada Allah, karena Allah Maha Pengampun (QS Nuh 71:10; Kementerian Agama RI, 2019). Ini menunjukkan bahwa istigfar adalah jalan para nabi. Istigfar bukan tanda orang hina. Istigfar adalah tanda orang yang ingin bersih di hadapan Allah.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan sayyidul istigfar, yaitu doa istigfar yang agung. Di antara lafaznya adalah pengakuan bahwa Allah adalah Rabb, tidak ada sesembahan yang benar selain Dia, Dia yang menciptakan hamba, dan hamba mengakui nikmat serta dosanya; lalu memohon ampun karena tidak ada yang mengampuni dosa selain Allah (Sahih al-Bukhari, no. 6306).

Bila pembaca belum hafal sayyidul istigfar, jangan merasa berat. Mulailah dari yang pendek:

Astaghfirullah. Astaghfirullah. Astaghfirullah.

Ucapkan setelah salat. Ucapkan sebelum tidur. Ucapkan ketika teringat dosa. Ucapkan ketika hati gelisah. Ucapkan sambil duduk di kursi, berbaring, atau menunggu waktu salat.

Contoh amalan ringan untuk lansia:

  • Setelah salat Subuh: 10 kali istigfar dengan pelan.
  • Setelah salat Magrib: 10 kali istigfar.
  • Sebelum tidur: 10 kali istigfar, lalu berdoa agar Allah menutup umur dengan kebaikan.

Jumlah ini bukan aturan wajib. Ini hanya latihan ringan. Bila mampu lebih banyak, silakan. Bila sedang sakit, cukup sedikit dengan hati hadir.

Jangan Merasa Dosa Lebih Besar daripada Rahmat Allah

Kadang seseorang berkata, “Saya terlalu banyak dosa. Rasanya malu meminta ampun.”

Malu kepada Allah itu baik. Tetapi jangan sampai malu berubah menjadi putus asa. Justru karena berdosa, kita perlu datang kepada Allah. Orang sakit datang kepada dokter bukan karena sudah sehat, tetapi karena ingin sembuh. Hamba datang kepada Allah bukan karena merasa suci, tetapi karena ingin disucikan.

Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ pernah melihat seorang perempuan mencari anaknya di antara tawanan. Ketika ia menemukan anaknya, ia memeluk dan menyusuinya. Nabi ﷺ bertanya kepada para sahabat apakah perempuan itu mungkin melemparkan anaknya ke dalam api. Mereka menjawab tidak. Lalu Nabi ﷺ menjelaskan bahwa Allah lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada perempuan itu kepada anaknya (Sahih al-Bukhari, no. 5999; Sahih Muslim, no. 2754).

Hadis ini sangat menghibur. Kasih sayang ibu saja begitu besar. Rahmat Allah jauh lebih besar.

Namun ingat, rahmat Allah tidak boleh dijadikan alasan untuk bermain-main dengan dosa. Justru karena Allah Maha Penyayang, kita malu untuk terus durhaka. Justru karena Allah Maha Pengampun, kita cepat kembali.

Muhasabah Malam: Menutup Hari dengan Lembut

Muhasabah berarti memeriksa diri. Bukan untuk menghancurkan hati, tetapi untuk memperbaikinya.

Muhasabah malam bagi lansia sebaiknya sederhana. Tidak perlu panjang. Tidak perlu membuat pikiran berat. Cukup duduk tenang sebelum tidur, lalu bertanya kepada diri sendiri dengan lembut:

  1. Hari ini, apakah saya sudah menjaga salat?
  2. Apakah saya membaca atau mendengar Al-Qur’an walau sedikit?
  3. Apakah ada ucapan saya yang menyakiti orang lain?
  4. Apakah saya sudah beristigfar?
  5. Nikmat apa yang Allah berikan hari ini?

Pertanyaan terakhir sangat penting: nikmat apa yang Allah berikan hari ini?

Sebab husnuzan tumbuh ketika kita sering melihat nikmat. Kadang nikmat itu sederhana: masih bisa bernapas, masih bisa mengucap “Allah”, masih ada keluarga yang menyapa, masih bisa minum air, masih bisa mendengar ayat Al-Qur’an, atau masih diberi kesempatan bertaubat.

Contoh muhasabah malam:

“Ya Allah, hari ini salatku belum khusyuk. Bacaan Qur’anku sedikit. Aku juga sempat marah. Ampunilah aku. Tetapi aku bersyukur Engkau masih memberiku umur, masih memberiku iman, dan masih menggerakkan hatiku untuk mengingat-Mu. Tolong aku agar besok lebih baik.”

Muhasabah seperti ini menenangkan. Ia tidak membuat kita sombong, karena kita melihat kekurangan. Ia juga tidak membuat kita putus asa, karena kita melihat rahmat Allah.

Memperbaiki Wasiat Kebaikan

Menjelang usia lanjut, ada satu urusan yang sering dilupakan tetapi penting: wasiat.

Wasiat berarti pesan yang ditinggalkan seseorang untuk dilaksanakan setelah ia wafat. Wasiat bisa berkaitan dengan harta, utang, amanah, permintaan maaf, pesan ibadah, atau nasihat kepada keluarga.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak selayaknya seorang muslim yang memiliki sesuatu untuk diwasiatkan melewati dua malam kecuali wasiatnya sudah tertulis di sisinya (Sahih al-Bukhari, no. 2738; Sahih Muslim, no. 1627). Hadis ini menunjukkan pentingnya menata urusan sebelum wafat. Bukan karena kita tahu kapan mati, tetapi karena kita tidak tahu kapan mati.

Untuk lansia, wasiat kebaikan dapat mencakup beberapa hal.

Pertama, catatan utang dan piutang. Bila memiliki utang, tuliskan dengan jelas: kepada siapa, jumlahnya berapa, dan bagaimana cara membayarnya. Utang adalah perkara serius. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa orang yang mati syahid pun diampuni segala dosanya kecuali utang (Sahih Muslim, no. 1886). Ini menunjukkan bahwa hak manusia harus diperhatikan.

Kedua, amanah barang. Bila menyimpan barang milik orang lain, tuliskan. Jangan sampai keluarga tidak tahu lalu barang itu hilang atau dianggap milik sendiri.

Ketiga, pesan damai kepada keluarga. Misalnya:

“Anak-anakku, Ibu/Ayah memohon maaf atas kekurangan selama hidup. Jagalah salat. Jangan bertengkar karena harta. Saling memaafkan. Bacakan doa untuk orang tua kalian.”

Keempat, wasiat sedekah bila mampu dan sesuai aturan syariat. Dalam hadis tentang Sa‘d bin Abi Waqqash, Nabi ﷺ membatasi sedekah melalui wasiat dan menyatakan bahwa sepertiga itu banyak (Sahih al-Bukhari, no. 2742; Sahih Muslim, no. 1628). Karena hukum waris dan wasiat memiliki rincian, sebaiknya pembaca berkonsultasi kepada ustaz yang memahami fikih waris atau lembaga resmi yang amanah. Jangan sampai niat baik justru menimbulkan perselisihan keluarga.

Kelima, pesan tentang pengurusan jenazah sesuai sunnah. Misalnya meminta agar keluarga memandikan, mengafani, menyalatkan, dan menguburkan dengan cara yang sesuai tuntunan Islam, tanpa berlebihan dan tanpa memberatkan.

Wasiat bukan tanda ingin cepat mati. Wasiat adalah tanda siap dan bertanggung jawab. Orang yang menulis wasiat justru bisa hidup lebih tenang, karena amanahnya lebih tertata.

Amal yang Terus Mengalir Setelah Wafat

Ketika seseorang wafat, amalnya terputus, kecuali beberapa amal yang Allah jadikan terus mengalir. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa apabila manusia meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya (Sahih Muslim, no. 1631).

Hadis ini memberi harapan besar.

Sedekah jariyah adalah sedekah yang manfaatnya terus berjalan. Contohnya membantu pembangunan sumur, mushaf yang dipakai membaca, kursi roda untuk orang sakit, atau bantuan untuk masjid yang terus dimanfaatkan.

Ilmu yang bermanfaat tidak harus berarti menulis kitab besar. Mengajarkan cucu Al-Fatihah, mengajari anak doa sebelum tidur, memberi nasihat agar menjaga salat, atau mewariskan buku agama yang benar juga termasuk jalan kebaikan bila Allah menerimanya.

Anak saleh yang mendoakan adalah anugerah besar. Karena itu, jangan hanya meninggalkan harta kepada anak. Tinggalkan juga pesan iman. Mintalah dengan lembut:

“Nak, kalau Ibu/Ayah sudah wafat, doakan agar Allah mengampuni dan merahmati.”

Bagi yang tidak memiliki anak, jangan bersedih. Pintu amal tidak tertutup. Saudara, keponakan, murid, tetangga, teman pengajian, atau orang yang pernah menerima kebaikan kita bisa menjadi sebab doa. Yang terpenting adalah memperbanyak amal yang mampu kita lakukan sekarang.

Berdamai dengan Keluarga Sebelum Terlambat

Salah satu bekal besar menuju akhirat adalah hati yang bersih dari permusuhan.

Tidak semua masalah keluarga mudah selesai. Ada luka lama, kata-kata pahit, perebutan harta, salah paham, atau hubungan yang renggang bertahun-tahun. Islam tidak menuntut seseorang membuka diri kepada kezaliman yang masih membahayakan. Tetapi Islam sangat menganjurkan perbaikan, maaf, dan silaturahmi sesuai kemampuan.

Untuk lansia, berdamai bisa dimulai dengan langkah kecil:

  • mengirim pesan maaf,
  • mendoakan keluarga yang jauh,
  • berhenti mengungkit kesalahan lama,
  • berbicara lembut kepada anak dan menantu,
  • tidak membanding-bandingkan cucu,
  • mengalah dalam perkara dunia yang tidak prinsip,
  • meminta maaf walau merasa tidak sepenuhnya salah.

Contoh kalimat sederhana:

“Nak, kalau selama ini Bapak/Ibu banyak salah dalam mendidik, maafkan. Bapak/Ibu hanya ingin meninggalkan dunia ini dengan hati yang lebih tenang.”

Kalimat seperti ini bisa melembutkan hati. Tidak selalu langsung menyelesaikan semua masalah. Tetapi ia membuka pintu rahmat.

Bila meminta maaf secara langsung sulit atau menimbulkan bahaya, doakan dari jauh. Allah mengetahui niat hamba-Nya.

Mencintai Allah dan Al-Qur’an di Ujung Usia

Tujuan besar membaca surat-surat Al-Qur’an bukan hanya mendapatkan fadhilah tertentu. Tujuan yang lebih dalam adalah agar hati semakin mengenal Allah.

Ketika membaca Al-Fatihah, kita mengenal Allah sebagai Rabb, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Pemilik Hari Pembalasan.

Ketika membaca Ayat Kursi, kita mengenal Allah Yang Mahahidup, terus-menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur.

Ketika membaca Al-Ikhlas, kita mengenal Allah Yang Maha Esa, tempat bergantung semua makhluk.

Ketika membaca Al-Mulk, kita mengingat kematian dan ujian amal.

Ketika membaca Ar-Rahman, kita menghitung nikmat.

Ketika membaca Al-Waqi‘ah, kita mengingat akhirat.

Semua bacaan itu seharusnya membawa kita kepada satu keadaan: mencintai Allah dan rindu kepada pertemuan dengan-Nya.

Cinta kepada Allah bukan sekadar perasaan. Cinta kepada Allah tampak dalam ketaatan, taubat, dzikir, syukur, dan kerelaan menerima ketetapan-Nya. Orang yang mencintai Allah tidak merasa amalnya besar. Ia justru merasa semua kebaikan adalah karunia Allah.

Maka di ujung usia, bacalah Al-Qur’an seperti orang yang sedang menerima surat kasih sayang dari Rabb-nya. Bila tidak mampu banyak, baca sedikit. Bila tidak mampu membaca, dengarkan. Bila tidak mampu mendengar lama, ingat satu ayat. Bila ingatan melemah, ucapkan nama Allah. Bila lisan melemah, hadirkan hati.

Allah mengetahui semuanya.

Dzikir Ringan Sebelum Tidur

Menutup hari dengan husnuzan dapat dibantu dengan dzikir ringan sebelum tidur. Salah satu dzikir yang sangat mudah adalah membaca:

Subhanallah wa bihamdih, subhanallahil-‘azhim
“Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya, Mahasuci Allah Yang Mahaagung.”

Rasulullah ﷺ menyebut dua kalimat ini ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Allah Yang Maha Pengasih (Sahih al-Bukhari, no. 6406; Sahih Muslim, no. 2694).

Bagi lansia, kalimat ini sangat indah. Ringan diucapkan, tetapi besar nilainya. Bisa dibaca sambil duduk di tempat tidur. Bisa dibaca sambil berbaring. Bisa dibaca ketika mata mulai mengantuk.

Selain itu, amalan sebelum tidur yang telah dibahas dalam bab-bab sebelumnya juga dapat dijaga sesuai kemampuan, seperti membaca Ayat Kursi serta Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Bila sedang lemah, pilih yang paling mampu. Jangan memaksa diri sampai sakit. Allah mencintai ibadah yang dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai kemampuan.

Doa Menutup Hari

Berikut contoh doa sederhana untuk menutup hari. Doa ini bukan lafaz wajib. Pembaca boleh membacanya, mengubahnya, atau berdoa dengan bahasa sendiri.

Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan Maha Bijaksana.
Ampunilah dosa-dosaku yang aku ingat dan yang aku lupa.
Terimalah salatku, bacaan Al-Qur’anku, istigfarku, dan amal kecilku.
Jangan Engkau biarkan aku berputus asa dari rahmat-Mu.
Bersihkan hatiku dari sombong, iri, dendam, dan kebencian.
Lembutkan hubunganku dengan keluargaku.
Mudahkan aku melunasi utang dan menunaikan amanah.
Jadikan Al-Qur’an cahaya di hatiku, teman di kuburku, dan petunjuk jalanku menuju-Mu.
Wafatkan aku dalam Islam, dalam iman, dalam husnuzan kepada-Mu, dan dalam keadaan mencintai-Mu.
Amin.

Doa seperti ini menata hati. Ia menggabungkan taubat, harapan, perbaikan hubungan, dan persiapan akhirat.

Malam Terakhir yang Tidak Kita Ketahui

Setiap malam mungkin bukan malam terakhir. Tetapi suatu malam nanti pasti menjadi malam terakhir.

Kita tidak tahu malam yang mana.

Karena itu, orang beriman belajar tidur dengan hati yang lebih bersih. Bila masih ada dosa, ia beristigfar. Bila masih ada orang yang tersakiti, ia berniat memperbaiki. Bila masih ada amanah, ia menulisnya. Bila masih ada waktu, ia membaca Al-Qur’an walau sedikit. Bila matanya mulai terpejam, ia menyerahkan diri kepada Allah.

Tidak perlu menunggu sempurna untuk berharap kepada Allah. Sebab tidak ada manusia yang datang kepada Allah dengan kesempurnaan dirinya. Kita datang dengan rahmat Allah, dengan iman, dengan taubat, dengan amal yang sedikit, dan dengan harapan yang besar.

Maka tutuplah hari dengan kalimat yang menenangkan:

“Ya Allah, aku belum menjadi hamba yang sempurna. Tetapi aku percaya Engkau Rabb Yang Maha Sempurna rahmat-Nya. Ampunilah aku, sayangilah aku, dan pertemukan aku dengan-Mu dalam keadaan Engkau ridha kepadaku.”

Inilah bekal yang sangat mahal di usia lanjut: hati yang bertaubat, lisan yang beristigfar, keluarga yang diusahakan damai, amanah yang ditata, Al-Qur’an yang dicintai, dan husnuzan kepada Allah sampai akhir hayat.

Ringkasan Bab

Husnuzan kepada Allah berarti berprasangka baik kepada Allah dengan tetap bertaubat dan beramal. Seorang mukmin perlu menyeimbangkan raja’ dan khauf: berharap kepada rahmat Allah, sekaligus takut meremehkan dosa. Istigfar adalah amalan ringan yang sangat dibutuhkan setiap hari. Taubat adalah jalan pulang kepada Allah sebelum kematian datang.

Di usia lanjut, persiapan akhirat juga mencakup memperbaiki wasiat, mencatat utang, menunaikan amanah, berdamai dengan keluarga, memperbanyak amal yang terus mengalir, dan menutup malam dengan dzikir serta doa.

Semoga Allah menjadikan akhir usia kita sebagai bagian terbaik dari hidup kita, amal terakhir kita sebagai amal terbaik kita, dan hari perjumpaan dengan-Nya sebagai hari paling bahagia bagi kita.

References

Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Sahih al-Bukhari. Rujukan hadis: no. 2738, 2742, 5999, 6306, 6307, 6406, 7405.

Kementerian Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya Edisi Penyempurnaan 2019. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Rujukan hadis: no. 1627, 1628, 1631, 1886, 2675, 2694, 2754, 2877.

τ TheoryTrace