Version 3 of 3
Bab 3: Cara Aman Memahami Fadhilah Surat dan Ayat
Status changed. · Verified · verified by @adepamungkas@ at Jul 16, 2026 15:46 · Jul 16, 2026 15:46 · saved by @adepamungkas@
Bab 3: Cara Aman Memahami Fadhilah Surat dan Ayat
Pada dua bab sebelumnya kita telah meneguhkan dua hal penting. Pertama, masa tua dapat menjadi musim terbaik untuk memperbanyak ibadah. Kedua, Al-Qur’an adalah rahmat, syifa, dan petunjuk dari Allah.
Sekarang kita perlu belajar satu keterampilan yang sangat penting sebelum membahas fadhilah surat-surat tertentu: cara aman memahami fadhilah.
Mengapa ini perlu?
Karena di tengah masyarakat, kita sering mendengar kalimat seperti ini:
“Kalau membaca surat ini sekian kali, pasti akan mendapat ini.”
“Kalau membaca ayat itu pada malam tertentu, semua hajat pasti terkabul.”
“Surat ini pasti membuat rezeki lancar.”
“Surat itu pasti menghapus semua dosa tanpa syarat.”
Sebagian kabar seperti itu memang memiliki dasar yang kuat. Tetapi sebagian lainnya belum tentu benar. Ada yang bersumber dari hadis sahih, ada yang dari hadis hasan, ada yang dari riwayat lemah, ada yang hanya kisah populer, bahkan ada yang tidak jelas asal-usulnya.
Buku ini ingin membantu pembaca mencintai Al-Qur’an dengan hati yang tenang, bukan dengan janji-janji yang tidak jelas. Kita tetap memperbanyak membaca Al-Qur’an, tetapi kita juga menjaga lisan dan keyakinan agar tidak menyandarkan sesuatu kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa ilmu. Allah mengingatkan agar manusia tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahui ilmunya (QS Al-Isra’ 17:36; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI). Allah juga memerintahkan agar berita yang datang diperiksa dengan teliti agar tidak menimbulkan kesalahan dan penyesalan (QS Al-Hujurat 49:6; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI).
Kehati-hatian seperti ini bukan tanda kurang cinta. Justru ini tanda hormat kepada agama.
Apa Arti Fadhilah?
Kata fadhilah berarti keutamaan, kelebihan, atau kemuliaan suatu amal. Dalam pembahasan ibadah, fadhilah biasanya berarti kebaikan yang dijanjikan oleh dalil, misalnya pahala, ampunan, perlindungan, ketenangan, atau kedudukan mulia di sisi Allah.
Contohnya, membaca Al-Qur’an secara umum memiliki fadhilah yang kuat. Nabi ﷺ bersabda bahwa siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah akan mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh; beliau menegaskan bahwa “Alif Lam Mim” bukan satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf (Jami‘ at-Tirmidhi, no. 2910). Hadis ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an adalah amal besar, bahkan sebelum kita membahas fadhilah surat tertentu.
Namun ketika seseorang berkata, “Surat tertentu pasti menghasilkan manfaat tertentu,” maka kita perlu bertanya dengan lembut:
“Dalilnya dari mana?”
Pertanyaan ini bukan untuk membantah orang. Pertanyaan ini untuk menjaga agama.
Sumber Utama: Al-Qur’an dan Sunnah
Dalam Islam, sumber utama agama adalah Al-Qur’an dan Sunnah.
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ia menjadi petunjuk, rahmat, dan pembeda antara yang benar dan yang salah.
Sunnah adalah petunjuk Nabi ﷺ, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat beliau. Ketika Sunnah sampai kepada kita dalam bentuk laporan tertulis atau lisan, laporan itu disebut hadis.
Contoh sederhana:
- Jika Allah menyebut suatu amal dalam Al-Qur’an, maka itu dalil yang paling tinggi.
- Jika Nabi ﷺ menjelaskan suatu keutamaan dalam hadis yang sahih, maka itu dalil yang kuat.
- Jika sebuah kisah hanya beredar dari mulut ke mulut tanpa sumber yang jelas, maka ia tidak boleh langsung dianggap sebagai ajaran agama.
Allah memerintahkan kaum muslimin untuk bertanya kepada orang yang berilmu ketika tidak mengetahui suatu perkara (QS An-Nahl 16:43; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI). Maka dalam urusan fadhilah surat dan ayat, sikap aman adalah bertanya kepada guru yang dipercaya, membaca buku yang jelas rujukannya, dan tidak terburu-buru menyebarkan kabar yang belum diperiksa.
Mengenal Hadis dengan Tenang
Bagi sebagian pembaca, istilah-istilah ilmu hadis mungkin terasa berat. Namun kita tidak perlu takut. Kita cukup memahami dasarnya.
Hadis adalah berita tentang Nabi ﷺ. Karena hadis disampaikan melalui manusia dari generasi ke generasi, para ulama meneliti dua hal utama:
- Sanad, yaitu rangkaian orang yang meriwayatkan hadis.
- Matan, yaitu isi atau teks hadis.
Bayangkan seseorang berkata, “Saya mendengar dari Pak Ahmad, Pak Ahmad mendengar dari Pak Hasan, Pak Hasan mendengar dari seorang guru, bahwa Nabi ﷺ bersabda begini.” Rangkaian “saya—Pak Ahmad—Pak Hasan—guru” itulah contoh sederhana sanad. Isi sabdanya adalah matan.
Para ulama hadis meneliti apakah para perawi dalam sanad itu dikenal jujur, kuat hafalannya, saling bertemu, dan apakah isi hadisnya tidak bertentangan dengan riwayat lain yang lebih kuat. Dalam ilmu hadis klasik, hadis sahih dijelaskan sebagai hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil dan kuat ketelitiannya, tidak menyelisihi riwayat yang lebih kuat, serta tidak memiliki cacat tersembunyi yang merusak keabsahannya (Ibn al-Salah, Muqaddimah fi ‘Ulum al-Hadith; Ibn Hajar al-‘Asqalani, Nuzhat al-Nazar fi Tawdih Nukhbat al-Fikar).
Ini pekerjaan besar. Tidak semua orang wajib menjadi ahli hadis. Namun setiap muslim perlu tahu bahwa agama ini dijaga dengan ilmu, bukan sekadar perasaan.
Hadis Sahih, Hasan, Dhaif, dan Maudhu’
Dalam pembahasan fadhilah, kita akan sering bertemu beberapa istilah. Mari kita pahami satu per satu dengan bahasa sederhana.
Hadis Sahih
Hadis sahih adalah hadis yang memenuhi syarat penerimaan yang kuat menurut para ulama hadis. Secara ringkas, sanadnya bersambung, perawinya terpercaya, hafalan atau ketelitiannya kuat, dan tidak ada cacat yang merusak.
Jika sebuah fadhilah berdasarkan hadis sahih, hati kita dapat lebih tenang mengamalkannya dan menyebutkannya kepada orang lain.
Contoh: keutamaan membaca Ayat Kursi sebelum tidur terdapat dalam riwayat sahih dalam Sahih al-Bukhari, pada kisah Abu Hurairah ketika menjaga zakat Ramadan dan diberi tahu tentang Ayat Kursi; Nabi ﷺ membenarkan bahwa bacaan itu menjadi sebab penjagaan dari Allah sampai pagi, walaupun yang memberi tahu Abu Hurairah saat itu adalah setan yang sedang berdusta dalam banyak hal (Sahih al-Bukhari, no. 2311). Maka ketika kita mengatakan, “Membaca Ayat Kursi sebelum tidur memiliki dasar yang kuat,” kita memiliki sandaran yang jelas.
Hadis Hasan
Hadis hasan adalah hadis yang diterima, tetapi tingkat ketelitian sebagian perawinya berada di bawah hadis sahih. Artinya, hadis hasan tetap dapat dijadikan dasar amal menurut para ulama, terutama dalam fadhilah amal, selama tidak ada sebab lain yang melemahkannya. Ibn Hajar menjelaskan perbedaan pokok antara sahih dan hasan terletak pada tingkat ketelitian perawi; pada hadis hasan, ketelitian itu lebih ringan daripada hadis sahih, tetapi hadisnya masih diterima (Ibn Hajar al-‘Asqalani, Nuzhat al-Nazar fi Tawdih Nukhbat al-Fikar).
Contoh mudah: jika guru yang terpercaya berkata, “Hadis ini hasan,” maka kita boleh mengamalkannya dengan tenang, walaupun derajatnya tidak setinggi hadis sahih.
Hadis Dhaif
Hadis dhaif berarti hadis lemah, yaitu hadis yang tidak memenuhi syarat hadis sahih atau hasan. Kelemahannya bisa ringan, bisa berat. Sebabnya bermacam-macam: sanadnya terputus, ada perawi yang lemah hafalannya, ada perawi yang tidak dikenal, atau ada masalah lain.
Dalam masalah hadis dhaif, para ulama memiliki pembahasan yang rinci. Sebagian ulama membolehkan penggunaan hadis dhaif dalam fadhilah amal dengan syarat-syarat ketat: kelemahannya tidak parah, maknanya berada di bawah dalil umum yang benar, dan tidak diyakini pasti berasal dari Nabi ﷺ. Namun hadis dhaif tidak boleh dijadikan landasan untuk menetapkan keyakinan baru, hukum wajib-haram, atau janji pasti yang besar tanpa dalil kuat. Pembahasan kehati-hatian dalam menggunakan hadis dhaif dalam fadhilah amal disebutkan oleh ulama seperti an-Nawawi dalam karya-karya pengantar ilmu hadisnya (an-Nawawi, al-Taqrib wa al-Taysir li Ma‘rifat Sunan al-Bashir al-Nadhir).
Contoh: jika ada pesan yang berbunyi, “Barangsiapa membaca surat tertentu pada malam tertentu pasti kaya dalam tujuh hari,” lalu tidak jelas sumbernya atau hadisnya lemah sekali, maka kita tidak boleh menyebarkannya sebagai janji agama.
Hadis Maudhu’
Hadis maudhu’ adalah hadis palsu, yaitu perkataan yang dibuat-buat lalu disandarkan kepada Nabi ﷺ. Ini sangat berbahaya.
Nabi ﷺ memperingatkan dengan keras agar tidak berdusta atas nama beliau. Dalam hadis yang sangat terkenal, beliau bersabda bahwa siapa yang berdusta atas nama beliau dengan sengaja, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka (Sahih al-Bukhari, no. 107; Sahih Muslim, no. 3).
Karena itu, jika kita tidak tahu apakah suatu hadis benar atau tidak, lebih aman mengatakan:
“Saya pernah mendengar, tetapi saya belum tahu kebenaran sumbernya.”
Kalimat seperti ini lebih selamat daripada berkata:
“Rasulullah bersabda,”
padahal kita belum memeriksanya.
Kisah Populer Tidak Sama dengan Dalil
Di masyarakat, banyak kisah baik yang menyentuh hati. Misalnya kisah seseorang yang rajin membaca surat tertentu lalu hidupnya menjadi tenang. Ada juga kisah orang sakit yang merasa lebih kuat setelah mendengarkan Al-Qur’an. Kisah seperti ini bisa menjadi penyemangat, tetapi tidak otomatis menjadi dalil.
Dalil adalah dasar agama yang dapat dipertanggungjawabkan, terutama dari Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih atau diterima. Adapun kisah pengalaman adalah pengalaman seseorang. Pengalaman bisa benar, tetapi tidak boleh dijadikan janji umum untuk semua orang.
Contoh:
Seseorang berkata, “Setelah saya rutin membaca Al-Mulk, hati saya lebih tenang.” Ini boleh saja sebagai pengalaman pribadi. Membaca Al-Qur’an memang dapat menenangkan hati orang beriman, dan Allah menyebut bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenang (QS Ar-Ra‘d 13:28; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI).
Tetapi jika ia berkata, “Siapa pun yang membaca Al-Mulk selama sekian hari pasti mendapatkan harta sekian,” maka ini sudah menjadi klaim fadhilah khusus. Klaim seperti itu membutuhkan dalil khusus. Tanpa dalil, kita tidak boleh memastikannya.
Jangan Menolak Semua, Jangan Menerima Semua
Dalam bab ini kita tidak diajak menjadi orang yang keras dan mudah menyalahkan. Kita juga tidak diajak menjadi orang yang menerima semua kabar tanpa memeriksa.
Sikap yang aman berada di tengah:
- Jika dalilnya sahih, kita terima dengan lapang dada.
- Jika dalilnya hasan, kita terima sebagai dalil yang dapat diamalkan.
- Jika riwayatnya dhaif, kita berhati-hati dan tidak menjadikannya janji pasti.
- Jika riwayatnya palsu atau tidak jelas asalnya, kita tinggalkan.
- Jika hanya pengalaman pribadi, kita boleh mengambil pelajaran, tetapi tidak menjadikannya hukum agama.
Sikap ini selaras dengan peringatan Al-Qur’an agar manusia tidak mengatakan atas nama Allah apa yang tidak diketahui (QS Al-A‘raf 7:33; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI).
Contoh Cara Membaca Kabar Fadhilah
Mari kita latihan dengan beberapa contoh kalimat.
Contoh Pertama
“Membaca Al-Qur’an mendapat pahala besar.”
Ini benar secara umum. Ada dalil sahih tentang pahala membaca huruf-huruf Al-Qur’an (Jami‘ at-Tirmidhi, no. 2910). Maka kita boleh menyampaikannya.
Contoh Kedua
“Membaca Ayat Kursi sebelum tidur menjadi sebab penjagaan dari Allah.”
Ini memiliki dasar sahih dalam Sahih al-Bukhari (Sahih al-Bukhari, no. 2311). Maka kita boleh mengamalkannya dengan tenang.
Contoh Ketiga
“Membaca surat tertentu pasti membuat seseorang kaya.”
Kalimat seperti ini perlu diperiksa. Apakah ada hadis sahih atau hasan? Apakah hanya pesan berantai? Apakah ulama hadis menilainya lemah? Jika tidak jelas, jangan disebarkan sebagai ajaran pasti.
Contoh Keempat
“Nenek saya rutin membaca surat tertentu, dan beliau wafat dalam keadaan tenang.”
Ini kisah yang baik dan mengharukan. Kita boleh mengambil pelajaran bahwa kedekatan dengan Al-Qur’an membawa ketenangan. Namun kita tidak boleh membuat rumus baru, misalnya, “Siapa membaca surat itu dengan jumlah tertentu pasti wafat seperti itu,” kecuali ada dalil yang jelas.
Fadhilah Tidak Boleh Mengalahkan Tujuan Al-Qur’an
Salah satu kesalahan yang perlu dihindari adalah membaca Al-Qur’an hanya seperti mencari “khasiat” tertentu. Al-Qur’an memang membawa keberkahan. Al-Qur’an memang menjadi syifa dan rahmat. Namun tujuan utama Al-Qur’an adalah memberi petunjuk agar manusia mengenal Allah, beribadah kepada-Nya, memperbaiki akhlak, dan bersiap menghadapi akhirat.
Jika seseorang membaca Al-Waqi’ah hanya karena ingin rezeki, tetapi tidak merenungkan peringatan tentang hari kiamat, maka ia kehilangan bagian penting dari surat itu. Jika seseorang membaca Yasin hanya karena ingin manfaat tertentu, tetapi tidak memperhatikan kandungan iman, risalah, kebangkitan, dan akhirat di dalamnya, maka ia belum mengambil pelajaran secara utuh.
Allah menyebut Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu (QS Al-Baqarah 2:185; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI). Maka fadhilah bacaan tidak boleh dipisahkan dari hidayah, pemahaman, dan amal.
Contoh sederhana:
- Setelah membaca Al-Fatihah, kita belajar meminta hidayah dengan sungguh-sungguh.
- Setelah membaca Al-Ikhlas, kita memperkuat tauhid.
- Setelah membaca Al-Falaq dan An-Nas, kita berlindung kepada Allah, bukan kepada jimat atau benda keramat.
- Setelah membaca Al-Mulk, kita ingat bahwa hidup dan mati adalah ujian amal.
- Setelah membaca Ar-Rahman, kita belajar menghitung nikmat dan memperbanyak syukur.
Inilah cara membaca Al-Qur’an yang lebih selamat dan lebih dalam.
Cara Praktis Memeriksa Fadhilah
Untuk para pembaca lansia, tidak perlu merasa terbebani dengan penelitian hadis yang rumit. Cukup gunakan langkah-langkah sederhana berikut.
Pertama, lihat apakah fadhilah itu bersumber dari Al-Qur’an atau hadis yang jelas. Buku atau ceramah yang baik biasanya menyebutkan rujukan, misalnya Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Jami‘ at-Tirmidhi, atau kitab hadis lain.
Kedua, perhatikan apakah disebutkan derajat hadisnya. Misalnya: sahih, hasan, dhaif, atau maudhu’. Jika tidak disebutkan sama sekali, jangan langsung percaya kepada klaim yang terlalu besar.
Ketiga, tanyakan kepada ustaz atau guru yang dikenal hati-hati. Bukan setiap orang yang lancar berceramah otomatis teliti dalam hadis. Pilihlah guru yang berani berkata, “Saya belum tahu,” ketika memang belum tahu.
Keempat, jangan mudah menyebarkan pesan berantai. Banyak pesan agama di telepon genggam berisi kalimat yang indah, tetapi sumbernya tidak jelas. Jika isinya mengatasnamakan Nabi ﷺ, jangan diteruskan sebelum yakin. Mengingat ancaman keras terhadap dusta atas nama Nabi ﷺ, sikap menahan diri adalah ibadah (Sahih al-Bukhari, no. 107; Sahih Muslim, no. 3).
Kelima, jika ragu, amalkan yang sudah pasti. Membaca Al-Qur’an secara umum pasti berpahala. Salat wajib pasti utama. Istigfar pasti baik. Dzikir pagi-petang yang sahih pasti aman. Berbuat baik kepada keluarga pasti mulia. Jangan sampai sibuk mengejar amalan yang tidak jelas, lalu melupakan amal yang sudah jelas.
Bahasa yang Aman Ketika Menyampaikan Fadhilah
Kadang kita ingin mengajak anak, cucu, atau teman sebaya untuk membaca surat tertentu. Itu niat yang baik. Namun pilihlah bahasa yang aman.
Daripada berkata:
“Kalau kamu membaca surat ini, pasti semua masalah selesai.”
Lebih baik berkata:
“Mari kita membaca surat ini. Membaca Al-Qur’an berpahala, menenangkan hati, dan ada pelajaran besar di dalamnya. Untuk fadhilah khususnya, mari kita lihat dalil yang kuat.”
Daripada berkata:
“Rasulullah pasti menjanjikan begini,”
padahal belum tahu sumbernya,
lebih baik berkata:
“Saya pernah mendengar fadhilah ini, tetapi saya belum memastikan derajat riwayatnya.”
Ucapan seperti ini tidak mengurangi semangat ibadah. Justru membuat ibadah lebih bersih.
Mengapa Ulama Berbeda dalam Menilai Sebagian Riwayat?
Dalam bab-bab berikutnya, kita akan menemukan beberapa surat yang fadhilahnya sangat kuat dalilnya, seperti Al-Fatihah, Ayat Kursi, dua ayat terakhir Al-Baqarah, dan tiga surat perlindungan: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Kita juga akan menemukan surat yang fadhilah khususnya diperselisihkan, seperti sebagian riwayat tentang Al-Mulk, Yasin, dan Al-Waqi’ah.
Perbedaan penilaian ini bisa terjadi karena para ulama meneliti jalur periwayatan yang berbeda, menilai keadaan perawi dengan pertimbangan ilmiah, atau berbeda dalam melihat apakah kelemahan suatu riwayat dapat diperkuat oleh jalur lain. Ilmu hadis memang memiliki kaidah yang rinci. Karena itu, kita tidak perlu gelisah jika mendengar, “Hadis ini diperselisihkan.”
Sikap aman adalah:
- mengambil yang jelas sahih atau hasan;
- tidak memastikan janji khusus jika dalilnya lemah;
- tetap membaca surat tersebut sebagai bagian dari Al-Qur’an, karena membaca Al-Qur’an secara umum adalah ibadah yang agung.
Misalnya, jika suatu fadhilah khusus tentang surat tertentu ternyata lemah, bukan berarti surat itu tidak bernilai. Semua surat dalam Al-Qur’an adalah kalam Allah. Kita tetap boleh membacanya, mencintainya, menghafalnya, merenungkan maknanya, dan mengamalkannya.
Bekal Hati untuk Pembaca Lansia
Bagi pembaca yang telah lanjut usia, bab ini mungkin terasa seperti peringatan. Namun maksudnya bukan membuat hati takut berlebihan. Maksudnya justru membuat hati lebih tenang.
Tenang karena kita tahu jalan yang aman.
Tenang karena kita tidak perlu mengejar semua kabar fadhilah yang beredar.
Tenang karena Allah tidak membebani hamba di luar kemampuannya. Allah menyatakan bahwa Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya (QS Al-Baqarah 2:286; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI).
Jika mata sudah lemah, bacalah semampunya. Jika suara sudah berat, dengarkanlah bacaan Al-Qur’an. Jika hafalan tinggal surat-surat pendek, ulangilah dengan ikhlas. Jika belum mampu memahami banyak tafsir, renungkanlah makna sederhana yang sudah diketahui: Allah Maha Pengasih, akhirat itu nyata, taubat masih terbuka, dan Al-Qur’an adalah petunjuk pulang kepada-Nya.
Yang penting bukan banyaknya klaim fadhilah yang kita hafal. Yang penting adalah benarnya jalan yang kita tempuh.
Ringkasan Bab
Fadhilah berarti keutamaan suatu amal. Dalam Islam, fadhilah ibadah harus disandarkan kepada dalil yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalil tertinggi adalah Al-Qur’an, kemudian Sunnah Nabi ﷺ yang diterima melalui hadis sahih atau hasan.
Hadis sahih adalah hadis yang kuat syarat penerimaannya. Hadis hasan juga diterima, meskipun tingkat ketelitian sebagian perawinya berada di bawah sahih. Hadis dhaif adalah riwayat lemah yang harus diperlakukan dengan hati-hati. Hadis maudhu’ adalah hadis palsu yang wajib ditinggalkan.
Kisah populer dan pengalaman pribadi bisa memberi semangat, tetapi tidak boleh dijadikan janji agama. Jika kita ragu terhadap sebuah fadhilah, lebih baik menahan diri dan mengamalkan yang sudah pasti: membaca Al-Qur’an, menjaga salat, berdzikir, beristigfar, bersedekah, dan memperbaiki akhlak.
Dengan bekal ini, insya Allah bab-bab berikutnya akan lebih mudah dibaca. Kita akan membahas surat dan ayat pilihan dengan hati yang mencintai Al-Qur’an, tetapi tetap berhati-hati dalam menyebutkan keutamaannya.
References
-
Al-Qur’an dan Terjemahannya. Kementerian Agama Republik Indonesia. Ayat yang dikutip: QS Al-Baqarah 2:185, QS Al-Baqarah 2:286, QS Al-A‘raf 7:33, QS An-Nahl 16:43, QS Al-Isra’ 17:36, QS Ar-Ra‘d 13:28, dan QS Al-Hujurat 49:6.
-
al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Sahih al-Bukhari. Hadis yang dikutip: no. 107 dan no. 2311.
-
Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Hadis yang dikutip: no. 3.
-
at-Tirmidhi, Muhammad ibn ‘Isa. Jami‘ at-Tirmidhi. Hadis yang dikutip: no. 2910.
-
Ibn al-Salah, ‘Uthman ibn ‘Abd al-Rahman. Muqaddimah fi ‘Ulum al-Hadith.
-
Ibn Hajar al-‘Asqalani, Ahmad ibn ‘Ali. Nuzhat al-Nazar fi Tawdih Nukhbat al-Fikar.
-
an-Nawawi, Yahya ibn Sharaf. al-Taqrib wa al-Taysir li Ma‘rifat Sunan al-Bashir al-Nadhir.