Version 7 of 7
Bab 5: Pahala Membaca Al-Qur’an Meski Terbata-bata
Status changed. · Verified · verified by @adepamungkas@ at Jul 17, 2026 12:42 · Jul 17, 2026 12:42 · saved by @adepamungkas@
Bab 5: Pahala Membaca Al-Qur’an Meski Terbata-bata
Pada Bab 4 kita telah belajar adab membaca Al-Qur’an: niat ikhlas, membaca dengan tenang, menjaga mushaf, dan tidak memaksakan diri di luar kemampuan. Sekarang kita masuk ke kabar gembira yang sangat penting, terutama bagi pembaca lansia.
Sebagian orang lanjut usia merasa sedih ketika membaca Al-Qur’an.
Ada yang berkata dalam hati:
“Dulu saya tidak sempat belajar dengan baik.”
“Sekarang mata saya kabur.”
“Lidah saya kaku.”
“Saya malu karena bacaan saya belum lancar.”
“Apakah bacaan saya masih bernilai di sisi Allah?”
Bab ini ditulis untuk menenangkan hati seperti itu.
Dalam Islam, kesulitan yang ditempuh dengan ikhlas bukanlah sesuatu yang sia-sia. Allah Maha Mengetahui suara yang pelan, napas yang pendek, mata yang lelah, dan usaha seorang hamba yang tetap ingin dekat dengan Al-Qur’an. Yang penting adalah tidak meremehkan bacaan, tidak sengaja membiarkan kesalahan padahal mampu belajar, dan terus berusaha sesuai kemampuan.
Allah berfirman:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Fattaqullāha mastatha‘tum.
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu...
(QS At-Taghabun 64:16; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI)
Ayat ini memberi dasar yang lembut: Allah memerintahkan kita beribadah sesuai kemampuan. Bukan sesuai kemampuan orang lain. Bukan sesuai masa muda kita dahulu. Bukan sesuai ukuran orang yang hafal dan fasih. Tetapi sesuai kesanggupan yang Allah berikan kepada kita saat ini.
Kabar Gembira dari Hadis Sahih
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
Al-māhiru bil-Qur’āni ma‘as-safaratil-kirāmil-bararah, wallażī yaqra’ul-Qur’āna wa yatata‘ta‘u fīhi wa huwa ‘alaihi syāqqun lahu ajrān.
Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Adapun orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa berat membacanya, maka baginya dua pahala.
(HR Al-Bukhari dan Muslim, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha; Sahih al-Bukhari, no. 4937; Sahih Muslim, no. 798)
Hadis ini sangat menenangkan.
Mari kita pahami pelan-pelan.
Mahir membaca Al-Qur’an berarti seseorang membaca dengan baik, lancar, dan benar sesuai kaidah bacaan. Orang seperti ini mendapatkan kedudukan mulia: bersama para malaikat yang mulia lagi taat.
Namun Rasulullah ﷺ tidak berhenti di situ. Beliau juga menyebut orang yang membaca dengan terbata-bata.
Terbata-bata berarti bacaan belum lancar. Kadang berhenti. Kadang mengulang. Kadang harus mengeja. Kadang napas habis sebelum ayat selesai. Kadang perlu melihat huruf dengan sangat dekat. Kadang perlu dibimbing anak, cucu, guru ngaji, atau rekaman murattal.
Orang seperti ini tidak ditolak oleh Allah. Justru Rasulullah ﷺ memberi kabar: baginya dua pahala.
Hadis ini tidak berarti bacaan yang salah harus dibiarkan. Hadis ini berarti bahwa kesulitan yang dialami seorang hamba ketika berusaha membaca Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh bernilai di sisi Allah. Ia mendapat pahala karena membaca, dan ia mendapat pahala karena bersabar menghadapi kesulitan.
Bayangkan seorang ibu lansia yang membaca Surat Al-Ikhlas. Ia mengeja pelan-pelan:
“Qul huwallāhu aḥad...”
Ia berhenti sebentar. Mengulang lagi karena ragu. Lalu melanjutkan. Mungkin bagi orang muda bacaan itu terasa lambat. Tetapi di sisi Allah, usaha itu tidak kecil. Jika ia membaca karena cinta kepada Allah, ingin memperbaiki diri, dan berharap rahmat-Nya, maka setiap hurufnya menjadi bekal akhirat.
Jangan Malu karena Belum Lancar
Rasa malu kadang menjadi penghalang besar.
Ada orang yang malu belajar Al-Qur’an karena merasa sudah tua. Ia berkata:
“Umur saya sudah banyak. Masa baru belajar tajwid?”
“Nanti orang menertawakan saya.”
“Anak kecil saja lebih lancar daripada saya.”
Padahal dalam agama, belajar tidak dibatasi usia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Khairukum man ta‘allamal-Qur’āna wa ‘allamahu.
Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.
(HR Al-Bukhari; Sahih al-Bukhari, no. 5027)
Hadis ini menyebut dua kemuliaan: belajar dan mengajarkan. Bagi lansia, belajar Al-Qur’an tetap termasuk jalan kemuliaan. Bahkan bila hanya belajar satu huruf, satu harakat, atau satu bacaan pendek, itu tetap bagian dari mendekat kepada Al-Qur’an.
Misalnya seseorang baru memahami perbedaan bunyi:
- س dibaca s, seperti dalam bismillāh.
- ش dibaca sy, seperti dalam syams.
- ص dibaca tebal, tidak sama persis dengan س.
Belajar perbedaan kecil seperti ini adalah amal saleh jika diniatkan untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an.
Jangan malu menjadi murid. Di hadapan Al-Qur’an, kita semua adalah murid. Yang hafal tiga puluh juz tetap murid. Yang baru bisa membaca Al-Fatihah juga murid. Yang masih mengeja huruf hijaiyah pun murid. Kemuliaan bukan pada gengsi, tetapi pada ketundukan kepada Allah.
Apa Itu Tajwid?
Sebelum melanjutkan, kita perlu mengenal istilah penting: tajwid.
Secara sederhana, tajwid adalah ilmu untuk membaca Al-Qur’an dengan memberikan hak setiap huruf sesuai cara bacanya. Tajwid membantu kita mengetahui bagaimana mengucapkan huruf, kapan bacaan dipanjangkan, kapan dengung, kapan jelas, dan kapan berhenti.
Contoh sederhana:
- Pada kata الرَّحْمٰنِ, ada bacaan panjang pada bagian مٰ.
- Pada kata مِنْ شَرِّ, bunyi نْ bertemu ش, sehingga dibaca dengan dengung menurut kaidah tajwid.
- Pada kata قُلْ هُوَ, huruf ق tidak sama dengan ك. Keduanya berbeda tempat keluar hurufnya.
Istilah lain yang sering muncul adalah makharijul Huruf. Makharijul huruf berarti tempat keluarnya huruf ketika diucapkan. Misalnya huruf ب keluar dari dua bibir, sedangkan huruf ع keluar dari tenggorokan bagian tengah.
Bagi lansia, tajwid tidak perlu dipahami sekaligus secara berat. Mulailah dari yang paling dibutuhkan:
- Membaca huruf dengan benar semampunya.
- Menjaga panjang pendek bacaan yang paling jelas.
- Mengikuti guru atau rekaman qari yang baik.
- Mengulang surat-surat pendek yang sering dibaca dalam salat.
- Tidak tergesa-gesa.
Allah memerintahkan:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
Wa rattilil-Qur’āna tartīlā.
...dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.
(QS Al-Muzzammil 73:4; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI)
Tartil berarti membaca dengan pelan, jelas, teratur, dan penuh perhatian. Tartil bukan berarti harus bersuara indah seperti qari terkenal. Tartil juga bukan berarti harus cepat selesai satu juz. Tartil berarti membaca dengan penghormatan kepada firman Allah.
Bagi seorang lansia, membaca tiga ayat dengan tartil dan hadir hati bisa lebih mendidik jiwa daripada membaca banyak halaman dengan terburu-buru tanpa perhatian.
Terbata-bata Bukan Berarti Sengaja Asal-asalan
Hadis tentang dua pahala perlu dipahami dengan seimbang.
Di satu sisi, hadis itu memberi harapan besar kepada orang yang kesulitan membaca. Di sisi lain, hadis itu bukan izin untuk sengaja membaca sembarangan.
Perbedaannya begini.
Seorang bapak lansia membaca Al-Fatihah dengan susah payah. Ia belum sempurna, tetapi ia mau belajar. Ia bertanya kepada guru. Ia mendengarkan bacaan yang benar. Ia mengulang sedikit demi sedikit. Orang seperti ini termasuk orang yang berusaha.
Adapun seseorang yang sebenarnya mampu belajar, tetapi berkata:
“Tidak perlu diperbaiki. Yang penting baca saja.”
Sikap seperti ini kurang tepat. Al-Qur’an adalah firman Allah. Kita menghormatinya dengan berusaha membaca sebaik mungkin sesuai kemampuan.
Allah tidak menuntut kesempurnaan di luar kemampuan. Tetapi Allah mencintai kesungguhan.
Maka jalan tengahnya adalah:
- Jangan putus asa karena belum lancar.
- Jangan malu memperbaiki bacaan.
- Jangan memaksakan diri sampai sakit.
- Jangan pula meremehkan kesalahan yang bisa diperbaiki.
Ini adalah jalan yang tenang.
Setiap Huruf Bernilai Pahala
Selain hadis tentang orang yang terbata-bata, ada pula hadis yang memberi semangat besar tentang pahala membaca Al-Qur’an. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ: الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ
Man qara’a ḥarfan min kitābillāhi falahu bihi ḥasanatun, wal-ḥasanatu bi‘asyri amṡālihā. Lā aqūlu: Alif Lām Mīm ḥarfun, wa lākin alifun ḥarfun, wa lāmun ḥarfun, wa mīmun ḥarfun.
Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.
(HR At-Tirmidzi, dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu; Sunan at-Tirmidzi, no. 2910. At-Tirmidzi menilainya hasan sahih)
Hadis ini menunjukkan betapa luas karunia Allah.
Untuk pembaca lansia, hadis ini sangat membahagiakan. Bila hari ini hanya mampu membaca beberapa ayat, jangan merasa kecil. Bila hanya mampu membaca Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, atau Al-Fatihah, jangan meremehkannya. Setiap huruf memiliki nilai di sisi Allah.
Namun kita perlu berhati-hati dalam cara memahami pahala. Kita tidak membaca Al-Qur’an seperti menghitung keuntungan dunia. Kita membaca karena Allah, karena cinta kepada kalam-Nya, dan karena berharap rahmat-Nya. Hitungan pahala dalam hadis adalah kabar gembira, bukan alasan untuk membaca tanpa adab.
Contoh sederhana:
Seorang nenek membaca بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ dengan perlahan. Ia mungkin mengulang karena ingin benar. Setiap usaha membaca itu bernilai. Setiap perhatian kepada huruf-huruf Al-Qur’an adalah bagian dari ibadah.
Maka jangan berkata, “Saya hanya membaca sedikit.” Katakanlah, “Ya Allah, terimalah yang sedikit ini dan berkahilah.”
Niat Membuat Bacaan Menjadi Ibadah
Dalam Islam, niat adalah maksud hati ketika melakukan amal. Bacaan Al-Qur’an menjadi ibadah ketika dilakukan karena Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Innamal-a‘mālu bin-niyyāt.
Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya...
(HR Al-Bukhari dan Muslim; Sahih al-Bukhari, no. 1; Sahih Muslim, no. 1907)
Karena itu, sebelum membaca Al-Qur’an, seorang lansia dapat menata hati dengan doa sederhana:
“Ya Allah, aku membaca firman-Mu karena mengharap ridha-Mu. Ampuni kekuranganku. Mudahkan lisanku. Terangi hatiku. Jadikan Al-Qur’an sebagai teman hidupku dan bekalku menuju-Mu.”
Niat seperti ini tidak harus diucapkan keras. Cukup dihadirkan dalam hati. Bila ingin dilafalkan pelan agar hati lebih siap, boleh sebagai pengingat diri, bukan sebagai bacaan yang dianggap wajib.
Dengan niat yang benar, bacaan pendek pun menjadi mulia. Sebaliknya, bacaan panjang tanpa ikhlas bisa kehilangan ruhnya.
Belajar Sedikit, Tetapi Terus-Menerus
Untuk lansia, kunci besar dalam membaca Al-Qur’an adalah istiqamah.
Istiqamah berarti teguh dan terus berjalan di jalan yang baik. Dalam membaca Al-Qur’an, istiqamah berarti menjaga hubungan dengan Al-Qur’an secara rutin, walaupun sedikit.
Tidak semua orang harus membuat target besar. Ada yang kuat membaca satu juz sehari. Ada yang hanya kuat satu halaman. Ada yang hanya kuat setengah halaman. Ada yang hanya kuat tiga surat pendek. Ada yang karena sakit hanya mampu mendengarkan murattal sambil mengikuti dalam hati.
Yang penting adalah menjaga hubungan dengan Al-Qur’an.
Contoh jadwal ringan:
Pagi setelah Subuh, membaca Al-Fatihah dan beberapa ayat pendek.
Siang atau sore, mengulang satu surat yang sudah hafal.
Malam sebelum tidur, membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
Bila lelah, cukup mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan penuh hormat.
Jadwal seperti ini tidak berat, tetapi bila dilakukan terus-menerus akan membentuk hati. Al-Qur’an menjadi teman harian, bukan hanya dibuka pada waktu tertentu.
Jika Mata Lemah atau Suara Tidak Kuat
Sebagian lansia mengalami keterbatasan nyata. Mata kabur. Tangan gemetar. Suara serak. Napas pendek. Kadang kepala pusing bila membaca lama.
Dalam keadaan seperti ini, jangan memaksa diri sampai membahayakan kesehatan. Islam adalah agama rahmat. Allah berfirman:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
Yurīdullāhu bikumul-yusra wa lā yurīdu bikumul-‘usr.
Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...
(QS Al-Baqarah 2:185; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI)
Ayat ini turun dalam pembahasan puasa, tetapi maknanya menunjukkan salah satu kaidah besar syariat: Allah tidak menghendaki kesulitan yang memberatkan hamba di luar kemampuan.
Maka bagi lansia, beberapa cara berikut dapat menjadi jalan kebaikan:
Membaca mushaf dengan huruf besar.
Menggunakan lampu yang cukup terang.
Membaca sedikit tetapi sering.
Meminta anak atau cucu menyimak bacaan.
Mendengarkan murattal dari qari yang bacaannya jelas.
Mengulang surat pendek yang sudah hafal.
Beristirahat ketika lelah.
Jika tidak mampu membaca panjang, jangan bersedih. Bacaan pendek yang ikhlas tetap bernilai. Jika hari ini hanya mampu membaca Al-Fatihah, bacalah dengan hati yang hadir. Jika hanya mampu membaca satu ayat, baca dengan cinta. Jika hanya mampu mendengar, dengarkan dengan adab dan harapan.
Namun perlu dibedakan: mendengarkan Al-Qur’an adalah ibadah yang mulia, tetapi tidak sama persis dengan membaca Al-Qur’an. Bila masih mampu membaca, walaupun sedikit, tetap usahakan membaca. Bila benar-benar tidak mampu, maka mendengarkan adalah jalan yang baik untuk tetap dekat dengan kalam Allah.
Belajar Tajwid Dasar dengan Cara Ramah Lansia
Belajar tajwid tidak harus seperti anak sekolah yang mengejar ujian. Bagi lansia, belajar tajwid dapat dibuat lembut dan menyenangkan.
Mulailah dari bacaan yang paling sering digunakan:
- Al-Fatihah.
- Surat Al-Ikhlas.
- Surat Al-Falaq.
- Surat An-Nas.
- Ayat Kursi.
- Dua ayat terakhir Al-Baqarah bila mampu.
- Bacaan-bacaan salat.
Mengapa dimulai dari situ?
Karena bacaan-bacaan itu sering diulang. Jika bacaan yang sering diulang menjadi lebih baik, maka manfaatnya besar untuk ibadah harian.
Misalnya, seorang kakek memperbaiki bacaan الْحَمْدُ لِلَّهِ. Dahulu ia membaca huruf ح seperti ه. Setelah belajar pelan-pelan, ia mulai mengenali bahwa ح keluar dari tenggorokan dan berbeda dari ه. Perbaikannya mungkin belum sempurna, tetapi usahanya adalah ibadah.
Atau seorang nenek belajar membedakan panjang pendek pada مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ. Ia belajar bahwa مَا dibaca panjang. Setelah beberapa hari, bacaannya menjadi lebih tenang. Ini adalah kemajuan yang patut disyukuri.
Belajar seperti ini tidak perlu membuat tegang. Setiap perbaikan kecil adalah nikmat.
Jangan Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Salah satu sebab hati menjadi berat adalah membandingkan diri.
Melihat orang lain lancar, kita merasa rendah. Mendengar qari bersuara indah, kita merasa bacaan kita tidak berharga. Melihat anak kecil hafal banyak surat, kita merasa terlambat.
Padahal Allah membagi kemampuan manusia berbeda-beda.
Ada yang diberi hafalan kuat. Ada yang diberi suara merdu. Ada yang diberi waktu lapang. Ada yang diberi guru sejak kecil. Ada yang baru mengenal Al-Qur’an di usia lanjut. Ada yang mampu membaca lama. Ada yang cepat lelah.
Yang Allah nilai bukan hanya hasil lahiriah, tetapi juga keikhlasan dan usaha.
Maka jangan berkata:
“Saya kalah dari orang lain.”
Katakanlah:
“Ya Allah, ini kemampuanku hari ini. Bantulah aku untuk lebih dekat kepada-Mu.”
Perbandingan yang sehat adalah membandingkan diri hari ini dengan diri kemarin. Bila kemarin belum membaca, hari ini membaca satu ayat. Bila kemarin masih takut membuka mushaf, hari ini mulai mengeja. Bila kemarin malu belajar, hari ini berani meminta bimbingan.
Itulah kemajuan.
Bacaan yang Terbata-bata Bisa Menjadi Pintu Khusyuk
Kadang bacaan yang lambat justru membuat hati lebih hadir.
Orang yang sangat lancar bisa saja tergoda membaca cepat tanpa merenung. Sementara orang yang terbata-bata harus berhenti, melihat huruf, mengulang, dan memperhatikan. Jika ia sabar, proses itu dapat menjadi pintu khusyuk.
Khusyuk berarti hati tunduk, tenang, dan hadir di hadapan Allah. Khusyuk bukan selalu menangis. Khusyuk juga bisa berupa rasa hormat, rasa butuh, rasa takut yang lembut, dan rasa harap kepada Allah.
Contohnya, ketika membaca:
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Ar-raḥmānir-raḥīm.
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Seorang lansia berhenti sebentar. Ia mengingat hidupnya yang panjang. Banyak nikmat telah Allah beri: napas, keluarga, makanan, kesempatan bertobat, kesempatan salat, kesempatan membaca Al-Qur’an. Maka bacaan yang pelan itu membuat hatinya lembut.
Atau ketika membaca:
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Māliki yaumid-dīn.
Pemilik hari pembalasan.
Ia mengingat akhirat. Bukan dengan putus asa, tetapi dengan sadar bahwa hidup akan kembali kepada Allah. Maka ia memperbanyak istigfar dan memperbaiki hubungan dengan keluarga.
Inilah salah satu hikmah membaca pelan. Bacaan tidak hanya melewati lisan, tetapi masuk ke hati.
Ketika Salah Membaca, Apa yang Harus Dilakukan?
Salah membaca bisa terjadi pada siapa saja. Bahkan orang yang sudah belajar pun kadang keliru. Yang penting adalah sikap setelah mengetahui kesalahan.
Jika ada orang membetulkan bacaan kita dengan cara baik, terimalah sebagai hadiah. Jangan tersinggung. Ia sedang membantu kita menghormati Al-Qur’an.
Jika kita sadar salah ketika membaca, ulangi bagian itu pelan-pelan. Tidak perlu panik. Tidak perlu merasa ibadah rusak seluruhnya. Perbaiki semampunya.
Jika kesalahan itu dalam salat, maka hukum rinciannya bisa berbeda-beda menurut jenis kesalahan dan keadaan orang yang membaca. Untuk hal seperti ini, sebaiknya bertanya kepada ustaz atau guru yang memahami fikih salat dan bacaan Al-Qur’an. Buku ini tidak akan memberi fatwa rinci di luar pembahasan umum.
Pegangan mudahnya adalah: belajar, perbaiki, dan jangan putus asa.
Doa Seorang Pembaca yang Masih Belajar
Seorang lansia yang membaca Al-Qur’an meski terbata-bata dapat memperbanyak doa. Doa tidak harus panjang. Yang penting tulus.
Misalnya:
“Ya Allah, jadikan Al-Qur’an sebagai cahaya hatiku.”
“Ya Allah, mudahkan aku membaca kitab-Mu.”
“Ya Allah, ampuni kesalahanku dalam membaca dan bimbing aku kepada bacaan yang lebih baik.”
“Ya Allah, jadikan setiap huruf yang kubaca sebagai bekal saat aku kembali kepada-Mu.”
Doa-doa seperti ini boleh dibaca dengan bahasa sendiri. Allah Maha Mengetahui semua bahasa dan semua isi hati. Yang penting tidak meyakini doa tersebut sebagai lafaz khusus dari Nabi ﷺ kecuali ada dalil yang jelas.
Ini sesuai prinsip yang sudah kita pelajari pada Bab 3: membedakan antara doa bebas yang baik maknanya dan doa khusus yang disandarkan kepada Rasulullah ﷺ. Jika doa itu dari diri sendiri, katakan sebagai doa pribadi. Jika doa itu dari hadis, sebutkan sumbernya.
Bekal Praktis untuk Hari Ini
Setelah membaca bab ini, jangan menunggu sempurna untuk mulai dekat dengan Al-Qur’an. Mulailah dari yang mudah.
Ambil mushaf. Pilih tempat yang tenang. Baca ta‘awudz. Baca basmalah pada awal surat. Bacalah sedikit. Jika terbata-bata, teruskan dengan sabar. Jika lelah, berhenti dengan hormat. Jika salah, ulangi. Jika mata berat, istirahat. Jika hati tersentuh, bersyukurlah.
Untuk latihan harian, pembaca lansia dapat memilih satu cara sederhana:
Pilih satu surat pendek selama satu pekan. Misalnya Al-Ikhlas. Bacalah setiap hari dengan pelan. Dengarkan bacaan qari yang jelas. Perhatikan satu perbaikan saja, misalnya panjang pendek atau satu huruf tertentu. Setelah lebih baik, lanjutkan ke surat lain.
Cara ini ringan, tetapi sangat bermanfaat.
Jangan mengejar banyaknya bacaan sampai hati gelisah. Kejar keberkahan, keikhlasan, dan istiqamah. Bacaan sedikit yang terus dijaga bisa menjadi sahabat sampai akhir hayat.
Penutup Bab
Hadis sahih tentang orang yang terbata-bata membaca Al-Qur’an adalah hadiah besar bagi hati yang merasa terlambat belajar. Rasulullah ﷺ tidak hanya memuji orang yang mahir, tetapi juga menghibur orang yang susah payah membaca. Ini menunjukkan keluasan rahmat Allah.
Maka wahai pembaca yang dimuliakan Allah, jangan malu membuka mushaf. Jangan malu belajar dari anak, cucu, guru, atau teman. Jangan sedih karena suara tidak semerdu dahulu. Jangan putus asa karena mata mulai kabur. Selama hati masih ingin mendekat kepada Allah, pintu kebaikan masih terbuka.
Bacalah Al-Qur’an dengan ikhlas. Belajarlah sesuai kemampuan. Perbaikilah bacaan sedikit demi sedikit. Jadikan setiap huruf sebagai bekal menuju Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Bijaksana.
Semoga Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya di dunia, penenang di masa tua, teman di alam kubur, dan pemberi syafaat dengan izin-Nya pada hari akhir.
References
- Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Sahih al-Bukhari. Hadis no. 1, 4937, dan 5027.
- Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019.
- Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Hadis no. 798 dan 1907.
- At-Tirmidzi, Muhammad ibn ‘Isa. Sunan at-Tirmidzi. Hadis no. 2910.