Version 5 of 6

Bab 8: Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah

Status changed. · Working · Jul 17, 2026 15:04 · saved by @mujirin

Bab 8: Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah

Pada Bab 7 kita merenungkan Ayat Kursi: ayat yang menguatkan hati dengan keyakinan bahwa Allah Mahahidup, Mahamengurus, tidak mengantuk, dan tidak tidur. Setelah mengenal penjagaan Allah melalui Ayat Kursi, sekarang kita beralih kepada dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah, yaitu QS Al-Baqarah 2:285–286.

Dua ayat ini sangat indah untuk orang beriman, terutama bagi pembaca lanjut usia yang sedang memperbanyak bekal akhirat. Di dalamnya ada iman, kepasrahan, pengakuan kelemahan, dan doa memohon ampunan serta pertolongan.

Bagi hati yang sedang lemah, dua ayat ini mengajarkan:

Allah tidak membebani hamba di luar kemampuannya.

Bagi hati yang merasa banyak dosa, dua ayat ini mengajarkan:

Pintu ampunan Allah tetap terbuka.

Bagi hati yang cemas menghadapi kematian, dua ayat ini mengajarkan:

Kita pulang kepada Allah dengan membawa harapan, doa, dan husnuzan kepada-Nya.

Teks Makna Dua Ayat Terakhir Al-Baqarah

Allah berfirman:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Āmanar-rasūlu bimā unzila ilaihi mir rabbihī wal-mu’minūn. Kullun āmana billāhi wa malā’ikatihī wa kutubihī wa rusulih. Lā nufarriqu baina aḥadim mir rusulih. Wa qālū sami‘nā wa aṭa‘nā, gufrānaka rabbanā wa ilaikal-maṣīr.
Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Mereka berkata, “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat kembali.”

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā. Lahā mā kasabat wa ‘alaihā maktasabat. Rabbanā lā tu’ākhiżnā in nasīnā au akhṭa’nā. Rabbanā wa lā taḥmil ‘alainā iṣran kamā ḥamaltahū ‘alallażīna min qablinā. Rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih. Wa‘fu ‘annā, wagfir lanā, warḥamnā. Anta maulānā fanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya. Mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”
(QS Al-Baqarah 2:285–286; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI)

Perhatikan susunannya. Ayat pertama berbicara tentang iman dan ketaatan. Ayat kedua berbicara tentang kemampuan manusia, tanggung jawab amal, dan doa memohon keringanan.

Ini sangat sesuai dengan kehidupan seorang hamba di usia lanjut. Setelah umur panjang, seseorang melihat banyak hal: ibadah yang pernah kuat, kelalaian yang pernah terjadi, keluarga yang berubah, tubuh yang melemah, dan akhirat yang semakin terasa dekat. Dua ayat ini membantu kita menyusun hati dengan benar: beriman, taat, memohon ampun, dan berharap rahmat Allah.

Keutamaan Membacanya pada Malam Hari

Di antara dalil paling kuat tentang fadhilah dua ayat terakhir Al-Baqarah adalah hadis dari Abu Mas‘ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
Man qara’a bil-āyataini min ākhiri sūratil-Baqarati fī lailatin kafatāhu.
Barang siapa membaca dua ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah pada malam hari, maka keduanya mencukupinya.
(HR Al-Bukhari, Kitab Fadha’il Al-Qur’an, hadis no. 5009; HR Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin, hadis no. 807)

Hadis ini sahih karena diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Dalam tradisi ilmu hadis, hadis yang diriwayatkan oleh keduanya memiliki kedudukan sangat kuat dan diterima luas oleh umat Islam.

Kata “mencukupinya” dalam hadis ini mengandung makna yang luas. Para ulama menjelaskan beberapa kemungkinan makna: mencukupi dari keburukan pada malam itu, mencukupi sebagai bentuk penjagaan, atau mencukupi dari sebagian ibadah malam bagi orang yang tidak mampu melakukannya. Imam An-Nawawi menyebutkan beberapa penjelasan ulama tentang makna “mencukupinya” ketika mensyarah hadis ini dalam Al-Minhaj Syarh Sahih Muslim ibn al-Hajjaj.

Bagi pembaca lansia, kita tidak perlu memperdebatkan makna itu secara berat. Yang penting adalah memahami pesan utamanya:

Rasulullah ﷺ menganjurkan dua ayat ini sebagai bacaan malam yang besar manfaatnya.

Maka, bila seseorang membaca dua ayat terakhir Al-Baqarah sebelum tidur, ia sedang mengikuti petunjuk Nabi ﷺ dengan dalil yang kuat.

“Kami Dengar dan Kami Taat”

Dalam ayat pertama, orang-orang beriman berkata:

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
Sami‘nā wa aṭa‘nā.
Kami dengar dan kami taat.
(QS Al-Baqarah 2:285; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI)

Kalimat ini pendek, tetapi sangat dalam.

Mendengar di sini bukan hanya telinga mendengar suara. Maksudnya adalah menerima perintah Allah dengan hati yang tunduk. Taat berarti berusaha menjalankan perintah itu sesuai kemampuan.

Contoh sederhana bagi lansia:

  • Ketika mendengar azan, hati berkata, “Ya Allah, aku ingin tetap menjaga salat.”
  • Ketika membaca perintah berbuat baik kepada keluarga, hati berkata, “Ya Allah, lembutkan lisanku kepada anak dan cucuku.”
  • Ketika membaca larangan menyakiti orang lain, hati berkata, “Ya Allah, jauhkan aku dari ucapan yang menyakitkan.”

Taat tidak selalu berarti melakukan amalan yang berat. Terkadang taat di usia lanjut adalah menjaga salat tepat waktu sesuai kemampuan, membaca Al-Qur’an beberapa ayat dengan tenang, menahan marah, memaafkan, atau mendoakan keluarga.

Orang yang sudah tua mungkin tidak lagi kuat berdiri lama. Namun ia masih bisa berkata dengan jujur:

“Ya Allah, aku dengar firman-Mu. Aku ingin taat kepada-Mu. Bantulah aku.”

“Ampunilah Kami, Ya Tuhan Kami”

Setelah berkata, “Kami dengar dan kami taat,” orang-orang beriman tidak merasa sombong. Mereka langsung berdoa:

غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Gufrānaka rabbanā wa ilaikal-maṣīr.
Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat kembali.
(QS Al-Baqarah 2:285; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI)

Ini pelajaran besar. Semakin seseorang beriman, semakin ia sadar bahwa ia tetap membutuhkan ampunan Allah.

Orang lanjut usia sering mengingat masa lalu. Kadang muncul rasa sedih:

“Mengapa dulu saya lalai?”
“Mengapa dulu saya kurang menjaga salat?”
“Mengapa dulu saya menyakiti orang?”
“Apakah masih ada ampunan untuk saya?”

Dua ayat terakhir Al-Baqarah menjawab dengan lembut: orang beriman selalu memohon ampun. Selama masih hidup, pintu tobat masih terbuka. Jangan biarkan rasa bersalah membuat kita jauh dari Allah. Jadikan rasa bersalah sebagai jalan pulang kepada Allah.

Ada perbedaan antara penyesalan yang sehat dan putus asa.

Penyesalan yang sehat berkata:

“Ya Allah, aku salah. Ampunilah aku. Bimbing aku memperbaiki sisa umurku.”

Putus asa berkata:

“Aku sudah terlambat. Tidak ada harapan lagi.”

Islam mengajarkan penyesalan yang membawa pulang, bukan putus asa yang menjauhkan dari Allah.

“Allah Tidak Membebani Seseorang Melainkan Sesuai Kesanggupannya”

Ayat kedua dimulai dengan kalimat yang sangat menenangkan:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
(QS Al-Baqarah 2:286; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI)

Ini termasuk ayat yang sangat penting untuk dipahami oleh lansia.

Dalam agama, ada istilah taklif, yaitu beban tanggung jawab syariat yang Allah berikan kepada hamba. Contohnya salat, puasa, zakat bagi yang mampu, menjaga lisan, dan menjauhi kezaliman. Namun taklif dalam Islam tidak dilepaskan dari kemampuan. Allah Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya.

Maka orang yang kuat berdiri salat dengan berdiri. Orang yang tidak kuat berdiri boleh salat sambil duduk. Orang yang tidak kuat duduk boleh salat sesuai kemampuan. Prinsip ini sejalan dengan firman Allah:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Fattaqullāha mastatha‘tum.
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu...
(QS At-Taghabun 64:16; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI)

Bagi lansia, ayat ini jangan dipakai untuk bermalas-malasan, tetapi jangan pula dilupakan hingga membuat hati tertekan. Islam bukan agama yang menyuruh manusia menyiksa diri. Islam membimbing manusia untuk beribadah dengan sungguh-sungguh sesuai kemampuan.

Contohnya:

  • Bila mata masih kuat, bacalah mushaf perlahan.
  • Bila mata mulai kabur, gunakan mushaf besar atau dengarkan murattal.
  • Bila suara lemah, bacalah pelan.
  • Bila tidak kuat membaca banyak, bacalah sedikit tetapi rutin.
  • Bila lupa sebagian hafalan, ulangi yang masih diingat dan belajar kembali dengan tenang.

Allah melihat kesungguhan, bukan hanya banyaknya jumlah bacaan.

Amal Baik dan Amal Buruk Tetap Ada Tanggung Jawabnya

Allah berfirman:

لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
Lahā mā kasabat wa ‘alaihā maktasabat.
Dia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya.
(QS Al-Baqarah 2:286; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI)

Ayat ini menyeimbangkan harapan dan tanggung jawab.

Kita berharap rahmat Allah, tetapi tidak meremehkan dosa. Kita takut kepada hukuman Allah, tetapi tidak berputus asa dari ampunan-Nya. Inilah jalan hati orang beriman: berada di antara raja’ dan khauf.

Raja’ berarti harapan kepada rahmat Allah.
Khauf berarti rasa takut kepada murka dan hukuman Allah.

Keduanya perlu seimbang.

Jika hanya ada rasa takut tanpa harapan, hati bisa hancur dan putus asa. Jika hanya ada harapan tanpa rasa takut, seseorang bisa meremehkan dosa. Dua ayat terakhir Al-Baqarah mengajarkan keduanya: ada tanggung jawab amal, tetapi ada juga doa memohon maaf, ampunan, dan rahmat.

Doa Ketika Merasa Lemah

Dalam ayat kedua, kita diajari berdoa:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
Rabbanā lā tu’ākhiżnā in nasīnā au akhṭa’nā.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.
(QS Al-Baqarah 2:286; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI)

Lansia sering mengalami lupa. Ada yang lupa meletakkan barang. Ada yang lupa rakaat salat. Ada yang lupa bacaan yang dulu pernah lancar. Lupa adalah bagian dari kelemahan manusia.

Ayat ini mengajarkan bahwa kita boleh mengadukan kelemahan itu kepada Allah:

“Ya Allah, aku hamba-Mu yang lemah. Jangan hukum aku karena lupa dan keliru. Bimbing aku agar tetap berada di jalan-Mu.”

Namun, perlu hati-hati. Doa ini tidak berarti kita boleh sengaja lalai. Lupa berbeda dengan sengaja meremehkan. Jika lupa, kita memohon ampun dan memperbaiki. Jika sengaja salah, kita bertobat dan berusaha meninggalkannya.

Contoh:

  • Bila lupa membaca doa tertentu, jangan panik. Lanjutkan ibadah dan perbaiki di kesempatan berikutnya.
  • Bila salah membaca ayat karena belum lancar, belajar lagi perlahan.
  • Bila pernah menyakiti keluarga, jangan hanya berkata “saya lupa”; mintalah maaf jika masih memungkinkan.

Agama mengajarkan kelembutan, tetapi juga kejujuran.

Doa Memohon Beban yang Sanggup Dipikul

Allah mengajarkan doa:

رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ
Rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.
(QS Al-Baqarah 2:286; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI)

Doa ini sangat dekat dengan kehidupan orang yang sudah sepuh.

Kadang beban itu berupa sakit. Kadang kesepian. Kadang kehilangan pasangan hidup. Kadang anak-cucu jauh. Kadang rasa takut menghadapi kematian. Kadang penyesalan masa lalu datang di malam hari.

Dalam keadaan seperti itu, dua ayat terakhir Al-Baqarah dapat dibaca dengan hati yang memohon:

“Ya Allah, ringankan bebanku. Kuatkan hatiku. Jangan serahkan aku kepada diriku sendiri.”

Doa ini bukan tanda kurang iman. Justru ini tanda bahwa seorang hamba mengenal Tuhannya. Ia tahu bahwa kekuatan sejati hanya dari Allah.

“Maafkanlah Kami, Ampunilah Kami, dan Rahmatilah Kami”

Di akhir ayat, terdapat tiga permohonan yang sangat indah:

وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
Wa‘fu ‘annā, wagfir lanā, warḥamnā.
Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.
(QS Al-Baqarah 2:286; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI)

Tiga permohonan ini bisa menjadi wirid hati setiap malam.

Maafkanlah kami: hapuskan kesalahan kami.
Ampunilah kami: tutupilah dosa kami dan jangan hukum kami karenanya.
Rahmatilah kami: limpahkan kasih sayang-Mu kepada kami.

Seorang lansia dapat membacanya pelan-pelan:

“Ya Allah, maafkan aku.”
“Ya Allah, ampunilah aku.”
“Ya Allah, rahmatilah aku.”

Tidak perlu tergesa-gesa. Biarkan hati hadir. Bila air mata keluar, itu karunia. Bila tidak keluar, jangan memaksa. Yang penting adalah hati merendah di hadapan Allah.

Dua Ayat Ini sebagai Bacaan Malam

Karena hadis sahih menyebutkan keutamaannya pada malam hari, maka waktu yang mudah adalah sebelum tidur. Tidak harus panjang. Tidak harus dalam keadaan suara keras. Bacalah sesuai kemampuan.

Bagi yang hafal, bacalah dari hafalan.
Bagi yang belum hafal, bacalah dari mushaf.
Bagi yang matanya lemah, mintalah anak atau cucu membacakan.
Bagi yang sangat lemah, dengarkan bacaan dan ikuti dalam hati semampunya.

Contoh amalan ringan sebelum tidur:

  1. Berwudu jika mampu.
  2. Duduk atau berbaring dengan tenang.
  3. Membaca Ayat Kursi.
  4. Membaca dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah.
  5. Membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
  6. Berdoa: “Ya Allah, wafatkan aku kelak dalam iman, Islam, dan husnul khatimah.”

Bila tidak kuat membaca semuanya, jangan tinggalkan semuanya. Pilih yang mampu. Misalnya malam ini hanya membaca dua ayat terakhir Al-Baqarah. Besok ditambah Ayat Kursi. Lusa membaca surat pendek. Yang penting adalah istiqamah.

Jangan Menjadikannya Seperti Mantra

Perlu dipahami dengan hati-hati: Al-Qur’an bukan mantra. Mantra biasanya dipahami sebagai rangkaian kata yang dianggap bekerja secara otomatis tanpa perlu iman, pemahaman, dan ketundukan kepada Allah. Bacaan Al-Qur’an tidak seperti itu.

Ketika kita membaca dua ayat terakhir Al-Baqarah, kita sedang beribadah kepada Allah. Kita membaca firman-Nya. Kita menguatkan iman. Kita memohon ampun. Kita menyerahkan urusan kepada-Nya.

Maka jangan membaca ayat ini dengan pikiran:

“Kalau saya membaca ini, pasti semua masalah dunia saya hilang sesuai keinginan saya.”

Yang lebih tepat adalah:

“Ya Allah, aku membaca firman-Mu sebagaimana diajarkan Nabi-Mu. Cukupkan aku dengan penjagaan-Mu, rahmat-Mu, dan ketetapan terbaik dari-Mu.”

Kadang Allah menghilangkan masalah. Kadang Allah memberi kekuatan untuk menanggungnya. Kadang Allah menunda jawaban doa karena hikmah yang kita belum tahu. Semua berada dalam ilmu dan kebijaksanaan Allah.

Ketika Merasa Bersalah Menjelang Akhir Usia

Salah satu ujian batin di usia lanjut adalah ingatan terhadap dosa masa lalu. Ada orang yang tampak tenang di luar, tetapi di dalam hatinya berkata:

“Saya takut amal saya sedikit.”
“Saya takut dosa saya banyak.”
“Saya takut tidak diterima Allah.”

Dua ayat terakhir Al-Baqarah mengajarkan cara berbicara kepada Allah saat perasaan itu datang.

Mulailah dengan iman:

“Aku beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, dan rasul-Nya.”

Lanjutkan dengan kepasrahan:

“Kami dengar dan kami taat.”

Kemudian mohon ampun:

“Ampunilah kami, ya Tuhan kami.”

Lalu ingat bahwa Allah tidak membebani di luar kemampuan:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.”

Akhiri dengan doa:

“Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.”

Dengan begitu, rasa bersalah tidak berubah menjadi keputusasaan. Ia berubah menjadi tobat, doa, dan kedekatan kepada Allah.

Menghafalnya Perlahan

Bila belum hafal dua ayat ini, jangan malu. Ayatnya memang agak panjang. Hafalkan perlahan. Tidak perlu terburu-buru.

Cara yang mudah:

  • Hafalkan satu potongan pendek setiap hari.
  • Ulangi setelah salat Magrib atau sebelum tidur.
  • Dengarkan bacaan qari yang tartil.
  • Minta keluarga menyimak dengan lembut.
  • Gunakan mushaf besar bila penglihatan lemah.

Misalnya hari pertama cukup menghafal:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ
Āmanar-rasūlu bimā unzila ilaihi mir rabbihī wal-mu’minūn.
Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman.

Hari kedua ulangi potongan itu, lalu tambah sedikit. Dalam beberapa pekan, insya Allah hafalan akan bertambah. Jika tidak sempurna pun, usaha itu tetap bernilai di sisi Allah selama dilakukan dengan ikhlas.

Renungan untuk Malam Ini

Sebelum tidur malam ini, cobalah membaca dua ayat terakhir Al-Baqarah dengan pelan. Setelah selesai, jangan langsung berpindah ke urusan lain. Diam sejenak. Katakan dalam hati:

“Ya Allah, aku beriman kepada-Mu.”
“Ya Allah, aku ingin taat kepada-Mu.”
“Ya Allah, ampuni umurku yang telah lalu.”
“Ya Allah, berkahi sisa umurku.”
“Ya Allah, jangan bebani aku melebihi kesanggupanku.”
“Ya Allah, maafkan aku, ampunilah aku, dan rahmatilah aku.”

Inilah bekal yang sangat lembut untuk akhir kehidupan: bukan hanya banyaknya bacaan, tetapi hati yang pulang kepada Allah dengan iman, harapan, dan doa.

Dua ayat terakhir Al-Baqarah adalah hadiah besar bagi umat Nabi Muhammad ﷺ. Di dalamnya ada akidah, ketaatan, tanggung jawab, keringanan, dan permohonan rahmat. Bila dibaca pada malam hari, ia memiliki fadhilah yang sahih dari Rasulullah ﷺ. Bila direnungkan maknanya, ia menjadi penguat jiwa. Bila diamalkan pesannya, ia membantu seorang hamba berjalan menuju Allah dengan lebih tenang.

Semoga Allah menjadikan dua ayat ini cahaya di malam kita, penenang di hati kita, dan bekal saat kita kembali kepada-Nya.

References

  • Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Sahih al-Bukhari. Kitab Fadha’il Al-Qur’an, hadis no. 5009. Nomor hadis dapat berbeda menurut edisi.
  • Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Kementerian Agama RI.
  • Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Kitab Shalat al-Musafirin, hadis no. 807. Nomor hadis dapat berbeda menurut edisi.
  • An-Nawawi, Yahya ibn Syaraf. Al-Minhaj Syarh Sahih Muslim ibn al-Hajjaj. Syarah hadis tentang dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah dalam Kitab Shalat al-Musafirin.
τ TheoryTrace