Version 6 of 6
Bab 9: Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas: Dzikir Perlindungan Harian
Status changed. · Verified · verified by @adepamungkas@ at Jul 17, 2026 16:29 · Jul 17, 2026 16:29 · saved by @adepamungkas@
Bab 9: Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas: Dzikir Perlindungan Harian
Pada Bab 8 kita telah merenungkan dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah. Di sana hati kita diajak berkata dengan jujur di hadapan Allah:
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
Rabbanā lā tu’ākhiżnā in nasīnā au akhṭa’nā.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan...
(QS Al-Baqarah 2:286; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI)
Doa itu sangat cocok untuk usia lanjut. Semakin panjang umur seseorang, semakin banyak kenangan, nikmat, kekurangan, dan harapan yang ia bawa. Ada kalanya hati merasa tenang. Ada kalanya hati merasa cemas. Ada kalanya malam terasa panjang, badan terasa lemah, dan pikiran mudah memikirkan hal-hal yang menakutkan.
Dalam keadaan seperti itu, Allah memberi kita bacaan yang pendek, kuat maknanya, mudah dihafal, dan sangat besar manfaatnya: Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq, dan Surat An-Nas.
Tiga surat ini sering disebut bersama dalam amalan dzikir harian. Surat Al-Falaq dan An-Nas secara khusus disebut Al-Mu‘awwidzatain, yaitu “dua surat untuk memohon perlindungan kepada Allah”. Kata dasarnya berhubungan dengan isti‘adzah, yaitu memohon perlindungan. Adapun Al-Ikhlas adalah surat pendek yang menegakkan tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam keyakinan, ibadah, dan pengharapan.
Dengan kata sederhana:
- Al-Ikhlas menguatkan hati agar hanya bergantung kepada Allah.
- Al-Falaq mengajarkan kita berlindung kepada Allah dari keburukan makhluk.
- An-Nas mengajarkan kita berlindung kepada Allah dari bisikan jahat yang mengganggu hati.
Bagi pembaca lansia, tiga surat ini dapat menjadi sahabat pagi, sore, dan malam. Pendek di lisan, tetapi luas maknanya. Ringan dibaca, tetapi dalam pengaruhnya bagi hati yang beriman.
Dzikir: Mengingat Allah dengan Lisan dan Hati
Sebelum membahas fadhilah tiga surat ini, kita perlu memahami istilah dzikir.
Secara sederhana, dzikir berarti mengingat Allah. Dzikir bisa dilakukan dengan lisan, seperti membaca tasbih, tahmid, tahlil, istigfar, doa, dan ayat-ayat Al-Qur’an. Dzikir juga dilakukan dengan hati, yaitu menghadirkan kesadaran bahwa Allah melihat kita, mendengar kita, mengetahui keadaan kita, dan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Contohnya:
- Ketika bangun pagi, seseorang membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sambil menghadirkan hati: “Ya Allah, aku memasuki hari ini dalam penjagaan-Mu.”
- Ketika menjelang tidur, seseorang membaca tiga surat ini sambil menyerahkan dirinya kepada Allah: “Ya Allah, jika aku bangun, bangunkan aku dalam kebaikan. Jika Engkau wafatkan aku, wafatkan aku dalam ampunan-Mu.”
- Ketika hati gelisah, seseorang membaca perlahan, bukan tergesa-gesa, agar maknanya masuk ke dalam hati.
Dzikir bukan sekadar bunyi. Dzikir adalah hubungan. Lisan membaca, hati menghadap, dan anggota badan berusaha taat.
Allah memuji orang-orang yang mengingat-Nya dalam berbagai keadaan. Allah berfirman bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram (QS Ar-Ra‘d 13:28; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI). Ini bukan berarti seorang mukmin tidak pernah sedih atau takut. Tetapi dzikir membuat kesedihan dan ketakutan itu tidak berjalan sendirian. Ia ditemani oleh keyakinan: Allah ada, Allah tahu, Allah menolong dengan cara yang paling bijaksana.
Surat Al-Ikhlas: Meneguhkan Tauhid di Dalam Hati
Surat Al-Ikhlas adalah surat ke-112 dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Qul huwallāhu aḥad.
Katakanlah, “Dialah Allah Yang Maha Esa.”اللَّهُ الصَّمَدُ
Allāhuṣ-ṣamad.
Allah tempat meminta segala sesuatu.لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
Lam yalid wa lam yūlad.
Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Wa lam yakul lahū kufuwan aḥad.
Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.
(QS Al-Ikhlas 112:1–4; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI)
Surat ini pendek, tetapi isinya sangat agung. Ia menjawab pertanyaan paling penting dalam hidup manusia: Siapa Tuhan kita?
Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Ahad, yaitu Maha Esa, tunggal dalam keilahian-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang menyamai-Nya. Tidak ada yang dapat menggantikan-Nya.
Allah juga disebut Ash-Shamad. Maknanya sangat dalam. Secara ringkas, Ash-Shamad adalah Tuhan yang sempurna, tempat seluruh makhluk bergantung dan meminta. Semua membutuhkan Allah, sedangkan Allah tidak membutuhkan siapa pun.
Bagi orang lanjut usia, makna ini sangat menenangkan.
Saat badan dahulu kuat, kita mungkin merasa dapat melakukan banyak hal sendiri. Namun ketika usia bertambah, kita semakin sadar bahwa manusia itu lemah. Berjalan perlu bantuan. Membaca perlu kacamata. Berdiri perlu pegangan. Makan pun kadang perlu dijaga.
Kelemahan ini bukan kehinaan. Kelemahan ini dapat menjadi pintu tauhid.
Seorang hamba berkata dalam hatinya:
“Ya Allah, dahulu aku kuat karena Engkau menguatkan. Sekarang aku lemah, dan aku tetap milik-Mu. Engkaulah Ash-Shamad, tempat aku bergantung.”
Inilah keindahan Al-Ikhlas. Ia mengajari kita untuk tidak menggantungkan hati secara mutlak kepada manusia, harta, kesehatan, atau keadaan. Semua itu nikmat, tetapi bukan Tuhan. Yang menjadi sandaran terakhir hanyalah Allah.
Fadhilah Al-Ikhlas: Sepertiga Al-Qur’an
Di antara keutamaan Surat Al-Ikhlas yang sangat kuat dalilnya adalah bahwa surat ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an. Dalam hadis sahih, Nabi ﷺ bersabda bahwa “Qul Huwa Allahu Ahad” sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Makna “sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an” dipahami para ulama sebagai keagungan kandungannya, terutama karena surat ini berisi pokok tauhid. Namun ini tidak berarti seseorang cukup membaca Al-Ikhlas lalu tidak perlu membaca bagian Al-Qur’an yang lain. Al-Qur’an seluruhnya tetap petunjuk. Surat-surat lain mengandung hukum, kisah para nabi, akhlak, peringatan, doa, dan banyak pelajaran lain.
Contohnya begini. Jika seorang lansia hanya mampu membaca Al-Ikhlas karena hafalannya terbatas, maka itu amalan yang sangat baik. Tetapi jika ia masih mampu membaca Al-Fatihah, Ayat Kursi, atau surat-surat lain, maka jangan ditinggalkan. Al-Ikhlas adalah pintu tauhid yang agung, tetapi Al-Qur’an seluruhnya adalah rahmat.
Jadi, sikap yang tepat adalah:
mencintai Al-Ikhlas karena fadhilahnya, dan tetap mencintai seluruh Al-Qur’an sebagai kalam Allah.
Surat Al-Falaq: Berlindung kepada Tuhan yang Membelah Gelap
Surat Al-Falaq adalah surat ke-113. Allah berfirman:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
Qul a‘ūdzu birabbil-falaq.
Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh,مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Min syarri mā khalaq.
dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan,وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
Wa min syarri ghāsiqin iżā waqab.
dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ
Wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad.
dan dari kejahatan perempuan-perempuan penyihir yang meniup pada buhul-buhul,وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
Wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad.
dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”
(QS Al-Falaq 113:1–5; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI)
Kata Al-Falaq berkaitan dengan makna terbelah atau munculnya waktu subuh. Subuh adalah tanda bahwa gelap tidak selamanya gelap. Malam pasti dibelah oleh cahaya pagi dengan izin Allah.
Ini memberi pelajaran yang indah. Seorang mukmin berlindung kepada Rabbul-Falaq, Tuhan yang menguasai subuh. Artinya, kita berlindung kepada Allah yang mampu mengeluarkan terang dari gelap, lapang dari sempit, dan harapan dari rasa takut.
Surat ini mengajarkan perlindungan dari beberapa keburukan:
-
Keburukan makhluk secara umum.
Tidak semua makhluk membahayakan, tetapi sebagian keadaan dapat menjadi sebab gangguan: penyakit, binatang berbahaya, manusia yang zalim, atau peristiwa yang tidak kita duga. -
Keburukan malam ketika gelap.
Malam bisa menjadi waktu istirahat, tetapi juga waktu munculnya rasa takut, kesepian, atau bahaya tertentu. Maka kita meminta penjagaan Allah. -
Keburukan sihir.
Islam mengakui adanya sihir sebagai keburukan yang harus dijauhi. Tetapi seorang mukmin tidak boleh hidup dalam prasangka berlebihan. Perlindungan terbaik adalah tauhid, doa, dzikir, dan menjauhi praktik-praktik yang haram. -
Keburukan dengki.
Dengki, atau hasad, adalah rasa tidak suka melihat orang lain mendapat nikmat. Hasad dapat merusak hubungan keluarga dan masyarakat. Karena itu kita berlindung kepada Allah dari keburukan orang yang dengki, sekaligus memohon agar hati kita sendiri dibersihkan dari dengki.
Bagi lansia, Al-Falaq dapat dibaca ketika merasa takut pada malam hari, ketika mendengar kabar yang membuat cemas, atau ketika ingin memulai hari dengan hati yang terlindungi. Bacaan ini mengajarkan: kita tidak menguasai semua keadaan, tetapi kita punya Tuhan yang menguasai semua keadaan.
Surat An-Nas: Berlindung dari Bisikan yang Mengganggu Hati
Surat An-Nas adalah surat ke-114, penutup mushaf Al-Qur’an. Allah berfirman:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Qul a‘ūdzu birabbin-nās.
Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,مَلِكِ النَّاسِ
Malikin-nās.
Raja manusia,إِلَٰهِ النَّاسِ
Ilāhin-nās.
sembahan manusia,مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
Min syarril-waswāsil-khannās.
dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi,الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
Allażī yuwaswisu fī ṣudūrin-nās.
yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia,مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
Minal-jinnati wan-nās.
dari golongan jin dan manusia.”
(QS An-Nas 114:1–6; Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI)
Surat ini mengajarkan perlindungan dari waswas. Waswas adalah bisikan yang mengganggu hati, mendorong kepada keburukan, atau membuat seseorang gelisah tanpa arah. Waswas bisa berupa dorongan maksiat, rasa putus asa, prasangka buruk, atau ketakutan yang berlebihan.
Allah menyebut diri-Nya dalam surat ini dengan tiga sifat yang sangat menenangkan:
- Rabb manusia: Tuhan yang menciptakan, memelihara, dan mengatur manusia.
- Raja manusia: Penguasa yang sebenarnya atas kehidupan manusia.
- Ilah manusia: Satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
Seolah-olah hati diajak berkata:
“Aku ini manusia yang lemah. Maka aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, dan sesembahan manusia.”
Ini sangat penting bagi orang yang menua. Kadang gangguan terbesar bukan dari luar, tetapi dari dalam pikiran sendiri.
Misalnya:
- “Apakah Allah masih mau mengampuni saya?”
- “Bagaimana kalau amal saya tidak diterima?”
- “Saya sudah tua, apakah masih ada manfaat ibadah saya?”
- “Saya takut mati.”
Pertanyaan seperti itu bisa menjadi pintu kebaikan jika membawa kita kepada taubat dan amal saleh. Tetapi jika berubah menjadi keputusasaan, maka kita perlu berlindung kepada Allah. Surat An-Nas mengajari kita bahwa gangguan hati juga harus diobati dengan doa dan dzikir.
Kita tidak melawan waswas hanya dengan kekuatan pikiran. Kita meminta perlindungan kepada Allah.
Tiga Surat Ini dalam Dzikir Sebelum Tidur
Salah satu amalan yang sangat kuat dalilnya adalah membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sebelum tidur.
Dalam hadis sahih dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, disebutkan bahwa Nabi ﷺ setiap malam ketika hendak tidur mengumpulkan kedua telapak tangan beliau, meniup ringan ke dalamnya, lalu membaca:
- “Qul Huwa Allahu Ahad”,
- “Qul A‘udzu bi Rabbil-Falaq”,
- “Qul A‘udzu bi Rabbin-Nas”,
kemudian beliau mengusapkan kedua tangan itu ke bagian tubuh yang mampu dijangkau, dimulai dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuh. Beliau melakukannya tiga kali (HR Al-Bukhari).
Amalan ini sangat cocok untuk lansia karena ringan dan pendek. Bila tangan masih kuat, lakukan sebagaimana tuntunan Nabi ﷺ. Bila tangan sulit diangkat, bacalah sesuai kemampuan. Bila suara lemah, baca pelan. Bila tidak mampu membaca panjang, baca semampunya sambil menghadirkan hati.
Yang penting bukan gerakan yang berat, tetapi kepasrahan kepada Allah.
Contoh praktik sederhana sebelum tidur:
- Duduk atau berbaring dengan tenang.
- Berniat mengikuti tuntunan Nabi ﷺ dan memohon penjagaan Allah.
- Membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
- Meniup ringan ke telapak tangan jika mampu.
- Mengusap tubuh yang mudah dijangkau.
- Mengulang sampai tiga kali bila tidak memberatkan.
- Menutup dengan doa tidur yang sudah dihafal, jika mampu.
Jika suatu malam sangat lelah dan hanya mampu membaca sekali, jangan bersedih. Allah mengetahui keadaan hamba-Nya. Istiqamah yang lembut lebih baik daripada semangat sesaat yang membuat badan terlalu lelah.
Tiga Surat Ini dalam Dzikir Pagi dan Petang
Tiga surat ini juga dianjurkan dalam dzikir pagi dan petang. Dalam hadis dari Abdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ memerintahkan membaca “Qul Huwa Allahu Ahad” dan dua surat perlindungan ketika pagi dan petang sebanyak tiga kali; bacaan itu mencukupi sebagai perlindungan dengan izin Allah. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.
Makna “mencukupi” di sini perlu dipahami dengan benar. Artinya, bacaan ini menjadi sebab perlindungan dari Allah. Ia bukan jimat. Ia bukan mantra. Ia bukan bacaan yang berdiri sendiri tanpa iman. Seorang muslim membacanya sambil meyakini:
Yang melindungi bukan huruf secara terpisah dari Allah. Yang melindungi adalah Allah, dan bacaan ini adalah amalan yang diajarkan Rasulullah ﷺ untuk memohon perlindungan kepada-Nya.
Contoh waktu yang mudah bagi lansia:
- Pagi: setelah salat Subuh, sebelum memulai aktivitas.
- Petang: setelah salat Asar atau menjelang Magrib, ketika suasana mulai tenang.
- Jika lupa: baca ketika ingat, tanpa menyalahkan diri berlebihan.
Bagi sebagian lansia, mengingat jumlah bacaan bisa terasa sulit. Maka gunakan cara sederhana:
- Sediakan tasbih kecil atau hitung dengan jari.
- Baca Al-Ikhlas tiga kali, Al-Falaq tiga kali, An-Nas tiga kali.
- Jika khawatir tertukar, baca satu rangkaian lengkap sebanyak tiga putaran:
- Al-Ikhlas,
- Al-Falaq,
- An-Nas, lalu ulangi sampai tiga kali.
Pilih cara yang paling membantu hati tetap hadir.
Ruqyah Syar‘iyyah: Perlindungan yang Tetap Bertauhid
Tiga surat ini juga dikenal dalam konteks ruqyah syar‘iyyah.
Ruqyah adalah bacaan doa atau ayat Al-Qur’an untuk memohon kesembuhan dan perlindungan kepada Allah. Disebut syar‘iyyah jika sesuai dengan tuntunan Islam: menggunakan ayat Al-Qur’an atau doa yang benar, maknanya baik, tidak mengandung kesyirikan, dan keyakinan tetap bahwa hanya Allah yang menyembuhkan.
Dalam hadis sahih, Aisyah radhiyallahu ‘anha menyebutkan bahwa ketika Nabi ﷺ sakit, beliau membaca surat-surat perlindungan atas diri beliau; ketika sakit beliau semakin berat, Aisyah membacakan dan mengusapkan tangan Nabi ﷺ karena mengharap berkah tangan beliau (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Ini memberi pelajaran lembut bagi keluarga yang merawat orang tua. Jika ayah, ibu, kakek, atau nenek sedang sakit, bacakan Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas dengan penuh kasih sayang. Jangan membuat suasana tegang. Jangan menakut-nakuti. Bacakan dengan pelan, jelas, dan penuh adab.
Misalnya seorang anak duduk di samping ibunya yang sakit, lalu berkata:
“Bu, saya bacakan tiga surat pendek ya. Kita sama-sama memohon perlindungan dan rahmat Allah.”
Lalu ia membaca pelan. Setelah itu berdoa:
“Ya Allah, kasihanilah ibu kami, ampunilah beliau, ringankan sakitnya, dan jadikan sakit ini penghapus dosa.”
Inilah keindahan ruqyah yang sesuai tauhid: bacaan Al-Qur’an, doa, kasih sayang, dan harapan kepada Allah.
Perlindungan Tidak Berarti Meninggalkan Ikhtiar
Ketika kita membaca Al-Falaq dan An-Nas, kita sedang memohon perlindungan kepada Allah. Namun memohon perlindungan tidak berarti meninggalkan usaha.
Seorang lansia tetap perlu menjaga sebab-sebab keselamatan:
- mengunci pintu rumah,
- meminum obat sesuai arahan dokter,
- menjaga pola makan sesuai kemampuan,
- berhati-hati ketika berjalan,
- meminta bantuan keluarga bila perlu,
- menghindari pertengkaran yang tidak perlu,
- menjauhi tempat dan pergaulan yang membawa keburukan.
Ini bukan tanda kurang tawakal. Justru ikhtiar yang benar adalah bagian dari ketaatan. Hati bertawakal kepada Allah, tangan tetap melakukan sebab yang halal dan wajar.
Contohnya, sebelum tidur seseorang membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Setelah itu ia juga memastikan kompor mati dan pintu terkunci. Keduanya tidak bertentangan. Bacaan adalah perlindungan ruhani dan doa; ikhtiar adalah usaha lahiriah yang juga diperintahkan secara umum oleh agama.
Ketenangan yang Lahir dari Tauhid
Mengapa tiga surat ini menenangkan?
Karena ketiganya mengembalikan hati kepada Allah.
Al-Ikhlas berkata kepada hati:
“Tuhanmu satu. Jangan pecah-pecah menggantungkan hati.”
Al-Falaq berkata kepada hati:
“Jika ada keburukan di luar dirimu, berlindunglah kepada Tuhan yang menguasai subuh.”
An-Nas berkata kepada hati:
“Jika ada bisikan di dalam dadamu, berlindunglah kepada Rabb, Raja, dan Ilah manusia.”
Dengan demikian, seorang mukmin tidak merasa sendirian. Ia tahu bahwa ada keburukan di dunia, tetapi ia juga tahu bahwa Allah lebih besar daripada semua keburukan itu. Ia tahu bahwa hatinya bisa diganggu waswas, tetapi ia juga tahu bahwa Allah lebih dekat dan lebih penyayang daripada gangguan itu.
Bagi lansia, ini bekal yang sangat mahal. Sebab di masa tua, ketenangan sering lebih dibutuhkan daripada banyaknya rencana. Hati ingin pulang kepada Allah dengan damai. Tiga surat ini membantu hati berlatih pulang: dari takut menuju tawakal, dari gelisah menuju dzikir, dari bergantung kepada makhluk menuju bergantung kepada Allah.
Latihan Harian yang Ringan
Agar bab ini mudah diamalkan, berikut latihan sederhana selama satu hari. Tidak perlu berat. Tidak perlu terburu-buru. Yang penting dilakukan dengan lembut dan istiqamah.
Pagi hari, setelah Subuh:
Baca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing tiga kali.
Niatkan: “Ya Allah, jagalah aku hari ini dalam iman, keselamatan, dan ketaatan.”
Siang hari, ketika hati gelisah:
Baca salah satu dari tiga surat ini perlahan.
Jika takut kepada gangguan luar, baca Al-Falaq.
Jika terganggu bisikan hati, baca An-Nas.
Jika merasa lemah dan butuh sandaran, baca Al-Ikhlas.
Petang hari:
Ulangi bacaan tiga surat ini.
Niatkan: “Ya Allah, lindungilah aku, keluargaku, dan kaum muslimin dari keburukan yang tampak dan tersembunyi.”
Sebelum tidur:
Baca tiga surat ini sebagaimana tuntunan Nabi ﷺ, sesuai kemampuan.
Serahkan diri kepada Allah.
Jika lupa satu waktu, jangan putus asa. Katakan dalam hati:
“Ya Allah, aku hamba-Mu yang lemah. Bimbing aku agar lebih istiqamah.”
Lalu lanjutkan kembali.
Jangan Mengubah Fadhilah Menjadi Beban
Sebagian orang ketika mendengar fadhilah amalan menjadi terlalu keras kepada diri sendiri. Jika tidak membaca sesuai jumlah tertentu, ia gelisah. Jika tertidur sebelum dzikir, ia merasa sangat bersalah. Jika lupa, ia merasa amalnya rusak.
Ini perlu diluruskan.
Fadhilah adalah kabar gembira agar kita semangat beramal, bukan cambuk yang membuat kita putus asa. Tuntunan Nabi ﷺ membawa rahmat. Allah mengetahui usia kita, sakit kita, lupa kita, dan keterbatasan kita.
Maka bacalah tiga surat ini dengan cinta, bukan dengan ketegangan.
Jika mampu membaca lengkap, alhamdulillah. Jika hanya mampu sebagian, tetap baik. Jika tidak mampu membaca karena sakit, dengarkan bacaan orang lain atau murattal. Jika tidak mampu bersuara, gerakkan bibir atau hadirkan dalam hati semampunya. Allah Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya.
Penutup Bab
Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas adalah tiga surat pendek yang sangat berharga untuk bekal harian. Al-Ikhlas menanamkan tauhid. Al-Falaq mengajarkan perlindungan dari keburukan luar. An-Nas mengajarkan perlindungan dari bisikan yang masuk ke dalam dada.
Dalil penggunaannya kuat, terutama untuk dzikir sebelum tidur, serta dzikir pagi dan petang. Nabi ﷺ sendiri mengamalkannya. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk meremehkannya hanya karena surat-surat ini pendek.
Bagi pembaca lanjut usia, jadikan tiga surat ini sahabat yang lembut:
- sahabat ketika pagi dimulai,
- sahabat ketika petang datang,
- sahabat ketika malam terasa sunyi,
- sahabat ketika sakit,
- sahabat ketika hati ingin pulang kepada Allah dengan tenang.
Semoga Allah menjadikan lisan kita basah dengan dzikir, hati kita teguh dengan tauhid, dan akhir hidup kita ditutup dengan iman, ampunan, dan kasih sayang-Nya.
References
-
Al-Qur’an. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Kementerian Agama Republik Indonesia.
-
Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Rujukan hadis tentang keutamaan Surat Al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an; bacaan Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sebelum tidur; serta bacaan perlindungan ketika Nabi ﷺ sakit.
-
Muslim ibn al-Hajjaj. Ṣaḥīḥ Muslim. Rujukan hadis tentang keutamaan Surat Al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an dan bacaan perlindungan ketika Nabi ﷺ sakit.
-
Abu Dawud, Sulayman ibn al-Ash‘ath. Sunan Abi Dawud. Rujukan hadis Abdullah bin Khubaib tentang membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas pada pagi dan petang.
-
At-Tirmidzi, Muhammad ibn ‘Isa. Jami‘ at-Tirmidzi. Rujukan hadis Abdullah bin Khubaib tentang membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas pada pagi dan petang; At-Tirmidzi menilai hadis tersebut hasan sahih.