Back to 1
Author @mujirin Verifier - Public Public AI enabled
Back to 1 Verify Mark as read Debunk me Versions Exports locked Locked
Log in to access more pages. Create an account or log in to continue reading more pages.
Log in

Pendahuluan

Bayangkan kamu menemukan gambar makhluk yang mirip manusia, tetapi tubuhnya berbeda sekali: ada yang hidup di air, ada yang beradaptasi di tempat dingin, ada yang tubuhnya kuat untuk pekerjaan tertentu, dan ada yang tampak seperti manusia masa depan yang sangat jauh. Pertanyaan pertama yang mungkin muncul adalah, “Apakah ini benar-benar akan terjadi?”

Buku ini tidak akan menjawab dengan kalimat sederhana seperti “ya” atau “tidak”. Jawaban yang lebih baik adalah: kita dapat memakai biologi evolusi untuk menilai mana yang masuk akal, mana yang masih mungkin tetapi sangat spekulatif, dan mana yang terutama merupakan imajinasi kreatif.

Judul buku ini memakai istilah Man After Man, yaitu judul karya fiksi ilmiah spekulatif karya Dougal Dixon tentang kemungkinan bentuk-bentuk manusia pada masa depan yang sangat jauh (Dixon, 1990). Dalam bahasa sederhana, Man After Man berarti “manusia setelah manusia”: bayangan tentang apa yang mungkin terjadi pada keturunan manusia jika lingkungan, teknologi, dan cara hidup berubah sangat besar.

Namun, sejak awal kita perlu hati-hati. Man After Man bukan buku pelajaran biologi murni. Ia adalah karya imajinatif. Artinya, buku itu memakai pengetahuan sains sebagai bahan, tetapi juga menambahkan cerita, dugaan, dan desain makhluk yang belum tentu akan terjadi. Karena itu, tujuan buku yang sedang kamu baca bukan menghafal semua makhluk masa depan sebagai “ramalan”, melainkan belajar berpikir seperti ilmuwan muda: bertanya, memeriksa bukti, dan membedakan fakta dari khayalan.

Mengapa membahas manusia masa depan?

Manusia sering bertanya tentang masa depan. Kita bertanya seperti apa kota nanti, bagaimana teknologi berkembang, apakah Bumi akan berubah, dan bagaimana manusia menyesuaikan diri. Pertanyaan tentang tubuh manusia masa depan adalah bagian dari rasa ingin tahu itu.

Tetapi tubuh makhluk hidup tidak berubah hanya karena “ingin menjadi lebih keren” atau “ingin menjadi lebih sempurna”. Dalam biologi, perubahan pada makhluk hidup dijelaskan melalui evolusi. Evolusi adalah perubahan sifat-sifat yang diwariskan dalam suatu populasi dari generasi ke generasi. Populasi berarti sekumpulan individu dari jenis yang sama yang hidup dan berkembang biak dalam wilayah atau kelompok tertentu. Misalnya, semua burung pipit di sebuah pulau dapat dianggap sebagai satu populasi.

Contoh sederhana: bayangkan ada populasi serangga yang sebagian berwarna lebih gelap dan sebagian lebih terang. Jika lingkungan menjadi lebih gelap, misalnya karena batang pohon tempat mereka hinggap banyak tertutup jelaga, serangga berwarna gelap mungkin lebih sulit dilihat pemangsa. Jika mereka lebih sering selamat dan lebih banyak memiliki keturunan, warna gelap dapat menjadi lebih umum pada generasi berikutnya. Ini contoh cara seleksi alam bekerja: lingkungan membuat sebagian sifat lebih membantu untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Gagasan dasar seleksi alam sudah dijelaskan oleh Charles Darwin dalam On the Origin of Species (Darwin, 1859), dan sampai sekarang menjadi bagian penting dalam biologi evolusi modern (Futuyma & Kirkpatrick, 2017).

Dengan memahami evolusi, kita dapat bertanya lebih baik tentang manusia masa depan. Bukan “makhluk seperti apa yang paling aneh?”, melainkan:

Apakah lingkungannya berubah?
Apakah sifat itu dapat diwariskan?
Apakah sifat itu membantu bertahan hidup atau memiliki keturunan?
Apakah perubahan itu masuk akal untuk tubuh makhluk hidup?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan menjadi alat utama kita sepanjang buku.

Fakta, dugaan ilmiah, dan imajinasi

Saat membaca tentang makhluk masa depan, kita akan sering bertemu tiga jenis gagasan.

Pertama, ada fakta ilmiah. Fakta ilmiah adalah informasi yang didukung bukti kuat dari pengamatan, percobaan, atau pengukuran. Contohnya: manusia adalah bagian dari kelompok primata, dan manusia memiliki kekerabatan evolusioner dengan kera besar seperti simpanse dan gorila. Hal ini didukung oleh bukti anatomi, fosil, dan DNA; museum serta lembaga penelitian evolusi manusia menjelaskan bahwa manusia modern adalah bagian dari sejarah evolusi primata yang panjang (Smithsonian National Museum of Natural History, n.d.).

Kedua, ada dugaan ilmiah. Dugaan ilmiah adalah ide yang belum pasti, tetapi dibuat berdasarkan pengetahuan sains yang sudah ada. Misalnya, kita dapat menduga bahwa manusia yang hidup lama di lingkungan dengan oksigen tipis, seperti dataran tinggi, akan mengalami tekanan seleksi terkait cara tubuh memakai oksigen. Ini bukan khayalan kosong, karena adaptasi manusia terhadap dataran tinggi memang dipelajari dalam biologi manusia. Tetapi jika kita bertanya seperti apa manusia dataran tinggi dalam 100.000 tahun, jawabannya tetap dugaan, karena masa depan dipengaruhi banyak hal.

Ketiga, ada imajinasi kreatif. Imajinasi kreatif adalah gagasan yang dibuat untuk cerita, seni, atau latihan berpikir. Contohnya, membayangkan manusia masa depan yang tubuhnya sengaja dirancang untuk hidup di laut seperti mamalia laut. Ide itu menarik untuk dibahas. Namun, kita harus memeriksa banyak hal: bagaimana bernapas, bagaimana menjaga suhu tubuh, bagaimana melahirkan dan merawat anak, apa makanannya, dan apakah perubahan sebesar itu mungkin terjadi melalui evolusi biasa atau memerlukan teknologi.

Ketiga jenis gagasan ini sama-sama berguna jika kita menempatkannya dengan benar. Fakta memberi dasar. Dugaan ilmiah melatih cara berpikir. Imajinasi membuat kita berani bertanya. Masalah muncul hanya jika kita mencampur semuanya dan menganggap khayalan sebagai kepastian.

Manusia tetap bagian dari alam

Kadang-kadang manusia merasa terpisah dari alam karena kita punya rumah, sekolah, internet, obat, kendaraan, dan teknologi. Tetapi secara biologi, manusia tetap makhluk hidup. Kita makan, tumbuh, sakit, sembuh, bernapas, memiliki DNA, mewariskan sifat kepada keturunan, dan hidup dalam lingkungan.

DNA adalah molekul panjang di dalam sel yang menyimpan informasi genetik. Informasi genetik ini membantu mengatur banyak ciri tubuh, seperti sebagian warna mata, golongan darah, dan cara tubuh membuat protein tertentu. Namun, penting untuk diingat: sifat manusia tidak ditentukan DNA saja. Lingkungan, makanan, penyakit, latihan, pendidikan, budaya, dan pengalaman juga berperan. Misalnya, tinggi badan dipengaruhi gen, tetapi juga dipengaruhi gizi dan kesehatan saat tumbuh.

Karena manusia punya budaya dan teknologi, evolusi manusia menjadi menarik. Budaya dapat mengubah tekanan seleksi. Contohnya, memasak makanan membuat makanan lebih mudah dicerna. Pakaian membantu manusia tinggal di tempat dingin. Obat dan vaksin membantu banyak orang bertahan dari penyakit. Jadi, ketika membahas masa depan manusia, kita tidak cukup hanya membayangkan hutan, gurun, laut, atau es. Kita juga harus membayangkan kota, teknologi, kebiasaan makan, kerja sama, dan keputusan etis.

Buku ini bukan untuk menakut-nakuti

Beberapa gambar atau gagasan dalam spekulasi manusia masa depan bisa terasa aneh. Ada yang mungkin tampak menyeramkan, lucu, menyedihkan, atau mengagumkan. Buku ini tidak bertujuan membuat pembaca takut terhadap masa depan. Buku ini juga tidak mengatakan bahwa manusia tertentu lebih “maju” atau lebih “rendah”.

Dalam biologi evolusi, kata “lebih maju” sering menyesatkan. Evolusi tidak berjalan seperti tangga yang selalu naik menuju makhluk paling sempurna. Evolusi lebih mirip pohon bercabang. Cabang yang berbeda dapat cocok untuk lingkungan yang berbeda. Ikan cocok hidup di air, burung cocok terbang, kaktus cocok hidup di tempat kering, dan manusia cocok dengan cara hidup yang sangat dipengaruhi otak, tangan, kerja sama, dan budaya.

Karena itu, saat nanti kita membahas makhluk-makhluk masa depan dalam Man After Man, kita akan melakukannya dengan dua sikap sekaligus: rasa ingin tahu dan kehati-hatian. Rasa ingin tahu membuat kita berani membayangkan. Kehati-hatian membuat kita tidak mudah percaya tanpa alasan.

Cara berpikir yang akan kita gunakan

Sepanjang buku ini, kita akan memulai dari dasar. Kita akan belajar apa itu evolusi, bagaimana sifat diwariskan, mengapa mutasi dapat menambah variasi, bagaimana seleksi alam bekerja, dan mengapa adaptasi selalu bergantung pada lingkungan.

Mutasi adalah perubahan pada DNA. Mutasi dapat terjadi secara alami saat DNA disalin atau karena pengaruh tertentu dari lingkungan. Banyak mutasi tidak memberi pengaruh besar, sebagian dapat merugikan, dan sebagian kecil dapat menguntungkan dalam lingkungan tertentu. Contohnya, perubahan genetik yang membantu tubuh menghadapi penyakit tertentu bisa menguntungkan di daerah yang penyakit itu sering muncul, tetapi belum tentu menguntungkan di tempat lain.

Adaptasi adalah sifat yang membantu makhluk hidup bertahan hidup atau bereproduksi dalam lingkungan tertentu, dan muncul melalui proses evolusi. Contoh adaptasi pada manusia yang akan kita bahas nanti adalah variasi warna kulit, kemampuan sebagian orang dewasa mencerna laktosa dalam susu, dan penyesuaian tubuh pada kehidupan di dataran tinggi. Adaptasi bukan berarti “sempurna”. Adaptasi berarti cukup berguna dalam keadaan tertentu.

Dengan bekal ini, kita akan menilai ide-ide spekulatif. Misalnya, jika ada makhluk mirip manusia masa depan dengan tangan sangat panjang untuk memanjat, kita dapat bertanya: apakah habitatnya memang membutuhkan memanjat? Apakah makanan berada di tempat tinggi? Apakah tubuh seperti itu tetap bisa berjalan, makan, tumbuh, dan merawat anak? Jika jawabannya masuk akal, idenya lebih kuat. Jika banyak bagian tidak cocok, idenya mungkin lebih cocok sebagai fantasi daripada spekulasi ilmiah.

Imajinasi yang bertanggung jawab

Membayangkan masa depan manusia juga membutuhkan etika. Etika adalah cara berpikir tentang mana tindakan dan sikap yang baik, adil, dan bertanggung jawab. Dalam buku ini, etika penting karena pembahasan tentang “jenis manusia” atau “perbedaan tubuh” dapat disalahgunakan jika tidak hati-hati.

Perbedaan biologis tidak boleh dipakai untuk merendahkan siapa pun. Dalam kehidupan nyata, manusia memiliki variasi: warna kulit, bentuk rambut, tinggi badan, daya tahan terhadap penyakit tertentu, dan banyak ciri lain. Variasi ini adalah bagian normal dari biologi manusia. Tidak ada kelompok manusia yang boleh dianggap lebih bernilai hanya karena ciri tubuh tertentu. Sains yang baik membantu kita memahami kehidupan, bukan memberi alasan untuk menghina atau menindas.

Karena itu, saat kita membuat spesies spekulatif sendiri di bagian akhir buku, kita akan belajar membuatnya dengan hormat. Kita boleh membayangkan makhluk masa depan yang berbeda, tetapi kita tidak boleh memakai perbedaan itu untuk mengejek manusia nyata.

Perjalanan belajar kita

Buku ini akan bergerak perlahan dari dasar menuju imajinasi. Mula-mula kita mengenal Man After Man sebagai karya fiksi ilmiah spekulatif. Setelah itu, kita mempelajari evolusi, manusia sebagai bagian dari alam, bukti dari fosil dan DNA, contoh adaptasi manusia, serta pengaruh lingkungan.

Kemudian kita masuk ke topik yang lebih menantang: seleksi buatan, rekayasa genetika, masa depan Bumi, dan cara membuat spekulasi evolusi yang lebih masuk akal. Setelah memiliki cukup bekal, barulah kita menilai makhluk-makhluk masa depan dalam Man After Man. Di bagian akhir, kamu akan diajak merancang makhluk spekulatif sendiri dengan pertanyaan ilmiah yang rapi.

Jika ada satu kalimat yang perlu diingat sejak pendahuluan ini, ingatlah ini:

Imajinasi menjadi lebih kuat ketika ditemani pengetahuan.

Dengan pengetahuan biologi, kita tidak kehilangan keajaiban. Justru kita dapat melihat keajaiban dengan lebih jelas: bagaimana kehidupan berubah, bagaimana tubuh memiliki fungsi, bagaimana lingkungan membentuk pilihan, dan bagaimana manusia tetap menjadi bagian dari cerita panjang kehidupan di Bumi.

References

Darwin, Charles. 1859. On the Origin of Species. London: John Murray.

Dixon, Dougal. 1990. Man After Man: An Anthropology of the Future. St. Martin’s Press.

Futuyma, Douglas J., and Mark Kirkpatrick. 2017. Evolution. 4th ed. Sinauer Associates.

Smithsonian National Museum of Natural History. n.d. “Introduction to Human Evolution.” Human Origins Program. https://humanorigins.si.edu/education/introduction-human-evolution

τ TheoryTrace